Menu

Mode Gelap

Opini · 5 Agu 2026 12:04 WIB ·

Jika Menikah Membuka Pintu Rezeki, Lantas Mengapa Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Faktor Pemicu Utama Perceraian?

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Jika Menikah Membuka Pintu Rezeki, Lantas Mengapa Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Faktor Pemicu Utama Perceraian? Perbesar

Di tengah masyarakat kita, ungkapan bahwa menikah akan membukakan pintu rezeki telah menjadi semacam pameo spiritual yang diyakini secara turun-temurun. Kalimat ini kerap dijadikan bahan pencerahan, penenang jiwa, sekaligus pendorong keberanian bagi mereka yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan namun masih dibayangi ketakutan finansial. Secara doktrinal dan filosofis, janji tersebut memang memiliki pijakan yang kuat, seperti ada keyakinan mendalam bahwa penyatuan dua insan dalam ikatan suci akan mendatangkan keberkahan, melipatgandakan daya juang, serta membuka jalan-jalan rezeki yang sebelumnya tidak terduga. Namun, ketika kita membenturkannya dengan realitas empiris di ruang-ruang pengadilan agama hari ini, muncul sebuah kontradiksi yang cukup menyentak kesadaran bahwa faktor ekonomi justru menempati urutan teratas sebagai pemicu keretakan dan perceraian dalam rumah tangga. Fenomena ini menciptakan teka-teki moral dan psikologis yang mendalam bahwasanya jika janji keterbukaan rezeki itu nyata, lantas di titik mana benang kusut itu mulai terurai hingga mengandaskan banyak mahligai pernikahan?

Untuk memahami paradoks ini secara utuh, kita harus terlebih dahulu membedakan antara konsep rezeki dalam dimensi spiritual dan tata kelola finansial dalam dimensi realitas harian. Rezeki yang diturunkan Tuhan setelah pernikahan sering kali tidak hadir dalam bentuk tumpukan uang tunai yang jatuh dari langit secara instan, melainkan berupa kesempatan, kesehatan, kelapangan berpikir, serta potensi kerja sama antara suami dan istri. Sayangnya, banyak pasangan yang terjebak dalam prasangka bahwa “rezeki terbuka” berarti hidup akan otomatis melimpah tanpa perlu navigasi finansial yang matang. Ketika ekspektasi ilusi ini berhadapan dengan tekanan hidup yang nyata seperti lonjakan biaya hidup, cicilan yang menumpuk, hingga risiko kehilangan pekerjaan sehingga fondasi mental yang tidak siap akan mudah terguncang. Rezeki yang sebenarnya sudah mengalir sering kali bocor atau bahkan menguap begitu saja karena ketidakmampuan pasangan dalam mengelola, memprioritaskan, dan mensyukuri apa yang ada. Dengan kata lain, pintu rezeki mungkin telah terbuka lebar, tetapi ketidakpahaman tata kelola finansial membuat pasangan tersebut gagal melangkah masuk dan memanfaatkannya secara bijaksana.

Di sinilah rasa syukur memegang peranan pivotal sebagai fondasi psikologis dan spiritual yang kerap kali hilang dari persamaan ini. Secara mendalam, rasa syukur bukanlah sekadar ucapan terima kasih yang pasif atau kepasrahan buta terhadap keadaan, melainkan sebuah instrumen transformatif yang mampu mengubah persepsi pasangan terhadap rezeki yang mereka terima. Dalam dinamika rumah tangga, rasa syukur berfungsi sebagai peredam rasa gelisah dan pemutus rantai pembandingan sosial yang merusak. Ketika sebuah pasangan dibimbing oleh rasa syukur, fokus mereka bergeser dari apa yang belum mereka miliki (scarcity mindset) menjadi optimisme atas apa yang telah ada di depan mata (abundance mindset). Rasa syukur menciptakan kelapangan dada yang memungkinkan suami dan istri untuk melihat rezeki tidak hanya dalam wujud nominal uang, melainkan juga dalam bentuk kesehatan, kebersamaan, anak yang saleh, serta keharmonisan, merupakan hal-hal bernilai tinggi yang sering kali terabaikan dalam kalkulasi finansial semata. Tanpa kehadiran rasa syukur, berapapun besarnya rezeki yang mengalir masuk akan selalu terasa kurang, karena dahaga manusia akan materi tidak akan pernah terpuaskan jika jiwa mereka terus dihinggapi rasa tidak cukup.

Lebih jauh dari sekadar angka-angka rupiah di rekening bank, persoalan ekonomi dalam rumah tangga sebenarnya jarang berdiri sendiri sebagai masalah finansial semata, hal itu hampir selalu berkorelasi erat dengan krisis komunikasi, benturan ego, dan penderaan emosional. Ketika tekanan ekonomi menimpa suatu keluarga, yang teruji bukan hanya isi dompet, melainkan tingkat rasa syukur, ketahanan emosional, dan kedewasaan kedua belah pihak. Dalam banyak kasus perceraian, pemicu utamanya bukanlah fakta bahwa mereka kekurangan uang, melainkan bagaimana cara mereka berinteraksi di tengah kekurangan tersebut serta ketidakmampuan mereka untuk saling bersyukur atas kehadiran satu sama lain. Suami yang merasa kehilangan harga diri karena gagal memenuhi ekspektasi finansial cenderung menarik diri atau menjadi sensitif, sementara istri yang merasa tidak aman secara finansial kerap meluapkan kecemasannya melalui kritikan yang tajam. Tanpa adanya komunikasi yang empatik, rasa syukur atas perjuangan pasangan, dan keterbukaan radikal sejak awal, masalah keuangan akan dengan cepat bermutasi menjadi ketimpangan rasa saling percaya, rasa tidak dihargai, hingga akumulasi kekecewaan yang mengikis rasa cinta secara perlahan namun pasti. Uang akhirnya menjadi kambing hitam yang paling mudah disalahkan atas runtuhnya bangunan rumah tangga yang sebenarnya miskin dari rasa syukur dan kehangatan komunikasi.

Selain dinamika internal, kita juga tidak bisa mengabaikan pergeseran nilai sosial dan gaya hidup masyarakat modern yang kian memperberat beban ekonomi sebuah rumah tangga. Di era konsumerisme dan paparan media sosial yang masif saat ini, batas antara kebutuhan pokok dan keinginan sekunder menjadi semakin kabur, menciptakan tolok ukur kebahagiaan yang kerap kali tidak rasional. Banyak pasangan muda yang terjebak dalam standar hidup melampaui kemampuan aktual mereka demi mempertahankan citra sosial atau memenuhi ekspektasi lingkungan sekitar. Ketika standar hidup yang dipaksakan tersebut tidak lagi tertutupi oleh pendapatan harian, rasa frustrasi dan saling menyalahkan akan mulai menggerogoti keharmonisan. Dalam konteks ini, janji rezeki tidak lagi tampak bekerja bukan karena rezeki itu berhenti mengalir, melainkan karena ambisi dan gaya hidup manusia telah melampaui batas kecukupan yang semestinya, mengikis habis rasa syukur atas rezeki yang sebetulnya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ketidakmampuan membedakan antara “kebutuhan hidup” dan “keinginan gaya hidup” inilah yang pada akhirnya merusak esensi keberkahan rezeki itu sendiri, memicu konflik berkepanjangan yang berujung pada perpisahan.

Jika kita menelaah secara mendalam, ada perbedaan mendasar antara memandang krisis ekonomi rumah tangga semata-mata sebagai kegagalan teknis dengan melihatnya sebagai krisis mentalitas dan spiritual. Pendekatan awal kerap kali hanya berfokus pada dimensi eksternal, yaitu ketidakmampuan mengatur anggaran, tingginya tuntutan gaya hidup, serta buruknya komunikasi saat tekanan finansial datang. Dalam cara pandang ini, solusi yang ditawarkan cenderung bersifat praktis, seperti pentingnya transparansi, pembuatan skala prioritas, dan menurunkan gengsi sosial. Meskipun langkah-langkah praktis tersebut sangat krusial, pendekatan semacam ini sering kali meraba permukaan tanpa menyentuh akar masalah yang sebenarnya tersembunyi di dalam jiwa pasangan tersebut.

Ketika rasa syukur diintegrasikan ke dalam analisis ini, persepsi kita terhadap paradoks rezeki berubah secara mendasar. Akar masalah perceraian karena ekonomi ternyata bukan terletak pada seberapa kecil atau besarnya angka pendapatan, melainkan pada kemiskinan cara pandang (scarcity mindset). Tanpa rasa syukur, pendapatan puluhan juta rupiah pun akan tetap terasa menyiksa karena pasangan terjebak dalam rasa tidak pernah cukup dan terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Sebaliknya, rasa syukur bertindak sebagai “wadah” yang menampung dan melipatgandakan keberkahan rezeki tersebut. Ia mengubah cara suami dan istri memandang perjuangan satu sama lain, melunakkan komunikasi yang tegang, dan memberikan kekuatan emosional untuk bertahan di masa-masa sulit. Dengan kata lain, manajemen finansial dan komunikasi adalah alatnya, tetapi rasa syukur adalah bahan bakar utama yang menjaga agar rumah tangga tetap hangat dan bertahan di tengah badai.

Akhir,

Perceraian yang terjadi karena faktor ekonomi bukanlah bukti bahwa janji keterbukaan rezeki setelah menikah itu tidak berlaku. Fenomena ini adalah tamparan keras yang menyadarkan kita bahwa pintu rezeki tidak pernah bekerja secara otomatis bagi jiwa-jiwa yang malas berikhtiar dan buta akan rasa syukur. Rezeki setelah pernikahan bukanlah modal gratis yang bisa dinikmati tanpa perjuangan, melainkan benih kepercayaan dari Tuhan yang harus dirawat dengan perencanaan yang matang, kerja keras bersama, dan rasa cukup yang menenangkan jiwa. Ketika sebuah pasangan memilih untuk berpisah dengan alasan uang, sering kali yang sebenarnya bangkrut bukanlah rekening bank mereka, melainkan rasa syukur, rasa saling percaya, dan kebesaran hati untuk berjuang bersama dari titik terendah. Menikah memang membukakan pintu rezeki, tetapi hanya mereka yang bijak mengelola dan pandai bersyukurlah yang sanggup melangkah masuk serta menikmati keberkahannya hingga akhir hayat.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 8 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Baca Lainnya

Saat Pesona Terbaik Hanya Miliknya yang Berhak Memilikinya

4 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Perceraian yang Dirayakan dan Cahaya Baru Pasca Berpisah

31 Juli 2026 - 08:34 WIB

Menjaga Ritme Jiwa dalam Pernikahan Di Antara Kesungguhan dan Gelak Tawa

29 Juli 2026 - 13:13 WIB

Biaya Tersembunyi Pernikahan yang Sering Terlewatkan dan Cara Bijak Mengatasinya

28 Juli 2026 - 09:23 WIB

POTRET KEPEMIMPINAN DAN REKONSTRUKSI NILAI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

27 Juli 2026 - 17:00 WIB

KELUARGA HARMONIS (Segera Cari Solusi)

24 Juli 2026 - 06:39 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x