‘Peka terhadap Rangsang’, Kunci Keharmonisan dalam Rumah Tangga yang Islami
Oleh: Mahbub Fauzie, Penghulu KUA Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah
Suami istri adalah dua jiwa yang bersatu dalam ikatan yang paling suci, pernikahan. Dalam setiap perjalanan rumah tangga, tidak ada hal yang lebih penting selain saling memahami, menghargai, dan merespons kebutuhan pasangannya. Salah satu aspek yang sering terabaikan, padahal sangat krusial, adalah kepekaan terhadap rangsang. Rangsang di sini bukan hanya berkaitan dengan hal-hal fisik atau seksual, melainkan juga perasaan, perhatian, dan komunikasi yang tumbuh dalam keseharian. Kunci dari sebuah hubungan yang harmonis adalah saling peka dan responsif terhadap apa yang dirasakan pasangan.
Kepekaan, Lebih dari Sekadar Tanggapan
Kepekaan bukanlah hal yang bisa datang dengan sendirinya, namun merupakan hasil dari latihan dan niat yang tulus dalam menjaga hubungan. Dalam agama Islam, hubungan suami-istri disebut sebagai “mawaddah wa rahmah,” penuh cinta kasih dan rahmat. Ini bukan sekadar konsep romantis, tetapi juga menyangkut kualitas hubungan yang dalam dan saling membangun. Ketika seorang suami atau istri mampu peka terhadap perasaan pasangannya, maka mereka sedang menumbuhkan rahmah yang sesungguhnya dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Peka terhadap rangsang berarti memiliki kemampuan untuk membaca suasana hati, memahami bahasa tubuh, dan mendengar apa yang tidak diucapkan. Misalnya, saat seorang istri tampak lelah dan tidak berkata apa-apa, suami yang peka akan segera tahu bahwa dia membutuhkan dukungan, apakah itu dalam bentuk perhatian atau bantuan dalam pekerjaan rumah tangga. Begitu juga, seorang istri yang peka akan tahu kapan suaminya membutuhkan ruang untuk beristirahat atau kapan dia membutuhkan dorongan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Rangsang dalam Konteks Fisik dan Emosional
Seringkali kita mendengar bahwa kepekaan dalam hubungan rumah tangga hanya berkaitan dengan rangsang seksual. Memang, bagian ini tidak bisa dikesampingkan karena hubungan fisik yang sehat adalah salah satu bentuk ibadah dalam pernikahan. Rasulullah SAW dalam sabdanya menegaskan bahwa istri berhak mendapatkan perhatian dari suaminya dalam segala hal, termasuk dalam hal fisik dan seksual. Namun, kepekaan terhadap rangsang tidak hanya terbatas pada ranah ini. Rangsang emosional pun sangat penting.
Seorang suami yang peka akan mengetahui bahwa istrinya membutuhkan lebih dari sekadar perhatian fisik; dia butuh percakapan yang menyentuh, pengakuan terhadap usaha yang dia lakukan, dan kasih sayang yang tulus. Di sisi lain, seorang istri yang peka juga akan sadar kapan suaminya merasa tertekan dengan masalah pekerjaan, atau merasa kurang dihargai, sehingga dia memberikan dukungan yang dibutuhkan dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang.
Pentingnya Komunikasi yang Terbuka
Kepekaan terhadap rangsang sangat bergantung pada komunikasi yang terbuka dan jujur. Tanpa komunikasi yang baik, akan sangat sulit untuk saling memahami dan merespons dengan tepat. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati. Dalam konteks rumah tangga, ini berarti tidak hanya mendengarkan kata-kata pasangan, tetapi juga membaca situasi dan perasaan yang ada di balik kata-kata tersebut. Jika komunikasi ini terjalin dengan baik, maka setiap rangsang, baik yang bersifat fisik, emosional, maupun spiritual, bisa ditangkap dengan cepat dan tepat.
Sebagai contoh, ketika seorang istri merasa cemas karena ada masalah keluarga, seorang suami yang peka tidak hanya diam dan menunggu masalah tersebut reda. Dia akan mengajukan pertanyaan yang lembut, memberikan perhatian yang tulus, dan mencari solusi bersama. Begitu juga, seorang istri yang peka akan tahu kapan suaminya membutuhkan waktu untuk diri sendiri atau kapan dia ingin berbicara tentang pekerjaan dan tantangan yang dia hadapi.
Kepekaan dan Tanggung Jawab dalam Islam
Dalam Islam, kepekaan terhadap pasangannya bukan hanya soal kewajiban moral, tetapi juga bagian dari ibadah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.” Kasih sayang dan ketenteraman ini hanya dapat tercipta jika suami-istri saling peka terhadap perasaan dan kebutuhan masing-masing.
Menjadi peka adalah bagian dari tanggung jawab yang diemban oleh setiap pasangan. Suami memiliki kewajiban untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan istrinya, baik secara fisik maupun emosional. Begitu juga istri, yang harus memberikan kasih sayang dan dukungan kepada suaminya. Kepekaan terhadap rangsang ini bukan hanya akan menjaga keharmonisan rumah tangga, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual yang lebih dalam antara keduanya.
‘Kepekaan’ sebagai Ibadah
Menjadi pasangan yang peka terhadap rangsang adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kesadaran. Ini bukan sesuatu yang dapat dicapai dalam semalam, tetapi melalui usaha yang terus-menerus dan niat yang tulus untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Kepekaan terhadap rangsang, baik dalam hal fisik, emosional, maupun spiritual, adalah bentuk penghargaan terhadap pasangan yang tidak hanya membahagiakan mereka, tetapi juga mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Marilah kita menjadikan kepekaan ini sebagai bagian dari ibadah kita dalam berumah tangga. Dengan saling merespons setiap rangsang yang ada, baik yang tersirat maupun yang tersurat, kita akan semakin kuat dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, yang penuh dengan kasih sayang dan saling pengertian. [Boeb]








