Menu

Mode Gelap

Opini · 3 Sep 2025 13:52 WIB ·

Menikah Itu Harus Terencana, Tidak Ujug-Ujug

Penulis: Mahbub Fauzie


 Menikah Itu Harus Terencana, Tidak Ujug-Ujug Perbesar

Penulis adalah Penghulu KUA Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah. Fasilitator Bimwin Terbimtek

Pernikahan adalah ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Namun, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, pernikahan juga harus dijalani dengan ilmu, niat yang benar, dan persiapan yang matang. Sayangnya, masih banyak calon pengantin yang menganggap pernikahan hanya sebagai acara seremonial, cukup dengan kesiapan materi dan mental seadanya. Padahal, menikah bukan sekadar menyatukan dua insan, tapi juga menyatukan dua keluarga, dua latar belakang, dan dua cara pandang yang berbeda.

Di sinilah pentingnya bimbingan perkawinan (Bimwin) bagi setiap calon pengantin. Sebagai Penghulu dengan tugas tsmvahan sebagai Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah, sekaligus fasilitator Bimwin, saya menyaksikan langsung bagaimana program ini sangat dibutuhkan, bahkan krusial, untuk membekali pasangan muda memasuki gerbang rumah tangga.

Bimbingan perkawinan bukan hanya formalitas. Di dalamnya, terdapat materi-materi penting yang menjadi bekal dasar untuk membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Setiap modul dalam Bimwin dirancang secara sistematis agar para calon pengantin tidak hanya siap menikah secara fisik dan finansial, tetapi juga secara emosional, psikologis, dan spiritual.

1. Mempersiapkan Keluarga Sakinah

Pernikahan dalam Islam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis atau status sosial. Tujuan utamanya adalah membentuk keluarga sakinah—keluarga yang diliputi ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Di sesi ini, para calon pengantin diajak memahami visi dan misi pernikahan dalam perspektif Islam. Mereka belajar membangun fondasi rumah tangga yang kuat, berlandaskan iman, takwa, dan akhlak mulia.

2. Dinamika dan Psikologi Keluarga

Setelah akad, kehidupan pernikahan bukanlah jalan mulus tanpa rintangan. Perbedaan karakter, latar belakang, dan ekspektasi bisa menjadi sumber konflik. Oleh karena itu, penting bagi calon pasangan suami istri untuk memahami dinamika psikologis dalam keluarga. Materi ini mengajarkan komunikasi yang sehat, cara mengelola konflik, serta bagaimana membangun empati dan saling pengertian dalam hubungan suami istri.

3. Kebutuhan dan Keuangan Keluarga

Banyak rumah tangga yang retak bukan karena kurang cinta, tetapi karena persoalan keuangan. Dalam Bimwin, para calon pengantin dibekali dengan pengetahuan dasar tentang manajemen keuangan keluarga. Mereka belajar menyusun anggaran, merencanakan pengeluaran, dan menabung untuk kebutuhan jangka panjang, termasuk pendidikan anak dan kesehatan.

4. Kesehatan Keluarga

Kesehatan adalah pondasi utama dalam membina keluarga. Dalam bimbingan ini, calon pengantin mendapatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan, terutama kesehatan reproduksi. Edukasi ini penting agar pasangan suami istri bisa merencanakan kehamilan dengan baik, mencegah penyakit menular, dan menjaga kualitas hidup keluarga secara keseluruhan.

5. Pendidikan dan Kualitas Generasi

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga awal dari lahirnya generasi baru. Oleh karena itu, penting bagi pasangan suami istri untuk memiliki visi pendidikan anak sejak dini. Bimwin membekali mereka dengan kesadaran akan pentingnya pola asuh yang tepat, pendidikan karakter, dan pembentukan generasi yang berkualitas, berdaya saing, serta berakhlak mulia.

6. Ketahanan Keluarga

Tantangan hidup kian kompleks. Persoalan ekonomi, sosial, hingga gangguan pihak ketiga dapat menggoyahkan rumah tangga. Materi ketahanan keluarga memberikan strategi kepada calon pengantin untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dalam situasi apapun. Termasuk bagaimana membangun solidaritas antar keluarga besar, serta menghindari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

7. Refleksi dan Evaluasi

Bagian akhir dari bimbingan ini adalah refleksi. Para peserta diberikan waktu untuk mengevaluasi pemahamannya melalui tes sederhana, diskusi, dan sesi tanya jawab. Tujuannya agar mereka betul-betul siap lahir batin dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Melalui Bimwin, negara hadir memberi perlindungan dan pembekalan kepada warganya sejak awal perjalanan pernikahan. Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang mengikuti bimbingan perkawinan memiliki tingkat ketahanan keluarga yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Mereka lebih mampu mengelola konflik, mengambil keputusan bersama, dan mendidik anak dengan lebih baik.

Sebagai penghulu, saya sering menyampaikan kepada para calon pengantin: “Jangan hanya mempersiapkan pesta pernikahan, tapi siapkan juga bekal untuk hidup sesudahnya.” Karena menikah bukan hanya tentang hari H, tapi tentang perjalanan panjang setelahnya.

Maka dari itu, mari kita sadari bersama bahwa menikah itu terencana, bukan ujug-ujug. Tanpa ilmu, tanpa kesiapan, pernikahan bisa menjadi sumber masalah, bukan solusi. Namun dengan ilmu, kesadaran, dan kesiapan, pernikahan bisa menjadi ladang ibadah yang penuh berkah dan membawa ketenangan dunia akhirat. []

5 2 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 61 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Ijab Kabul Harus Satu Napas: Mitos atau Emang Harus Jago Selam?

10 Januari 2026 - 07:32 WIB

Mahar di Tangan, Borgol di Bayangan: Syariat Bukan Topeng Pelanggaran

8 Januari 2026 - 16:44 WIB

Saya Terima Nikahnya …

8 Januari 2026 - 15:14 WIB

Mengapa Kita Memperingati Isra Mi’raj? Sebuah Tinjauan Hukum Islam.

7 Januari 2026 - 12:20 WIB

Menikahlah, dan Temukan Bahagiamu dalam Indahnya Pernikahan

7 Januari 2026 - 11:28 WIB

Pernikahan Tercatat Menjadi Perlindungan Nyata Bagi Hak-Hak Seorang Istri

6 Januari 2026 - 10:00 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x