Menu

Mode Gelap

Opini · 3 Okt 2025 11:26 WIB ·

Menyalakan Lilin di Tengah Badai

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Menyalakan Lilin di Tengah Badai Perbesar

Sebagai seorang penulis yang telah menelusuri ratusan narasi, baik fiksi maupun nyata. Saya sering menemukan bahwa kisah yang paling memukau bukanlah tentang pertemuan dua insan yang sempurna, melainkan tentang dua jiwa yang tak sempurna namun berani berjuang bersama. Pernikahan, dalam spektrumnya yang paling jujur, bukanlah garis finis dari sebuah dongeng, melainkan garis start dari sebuah pelayaran mengarungi samudera kehidupan yang tak terduga.

Kita terlalu sering dijejali dengan citra pernikahan yang gemerlap; foto-foto tersenyum di media sosial, pesta mewah, dan janji “bahagia selamanya”. Namun, izinkan saya membisikkan sebuah rahasia yang jarang dibicarakan di panggung-panggung megah: kegelapan itu nyata. Akan ada hari-hari di mana rumah terasa hampa, percakapan menjadi singkat, dan kehangatan pelukan terasa seperti memori yang jauh. Inilah badai itu. Dan di tengah badai inilah, nasehat-nasehat klise seperti “komunikasi adalah kunci” terasa seperti perahu kertas yang ringkih.

Hari ini, saya tidak akan memberikan Anda perahu kertas itu. Saya ingin mengajak Anda untuk menemukan sesuatu yang lebih purba dan kuat: kemampuan untuk menyalakan lilin di tengah kegelapan pekat.

Nasehat pertama yang ingin saya bagikan adalah: berhentilah menghitung. Dalam banyak rumah tangga yang mulai retak, suami dan istri tanpa sadar berubah menjadi akuntan. “Aku sudah mencuci piring, kenapa kamu tidak bisa menjemur pakaian?” “Aku yang lebih banyak berkorban untuk anak-anak.” “Giliranku untuk marah, karena kemarin aku sudah sabar.” Pernikahan bukanlah neraca laba-rugi. Saat Anda mulai menghitung skor, Anda telah menempatkan pasangan di seberang meja, sebagai lawan, bukan kawan seperjuangan. Kegelapan merayap masuk ketika cinta diukur dengan timbangan pengorbanan.

Sinar harapannya adalah : Ubah mentalitas dari “aku vs kamu” menjadi “kita vs masalah”. Ketika piring kotor menumpuk, itu bukan masalah ‘dia’, tapi masalah ‘kita’. Ketika kelelahan melanda, itu bukan beban ‘kamu’, tapi kesempatan bagi ‘kita’ untuk saling menopang. Lepaskan kalkulator Anda, dan genggam tangannya. Di situlah cahaya pertama mulai berpendar.

Kita terobsesi dengan “bicara”. Padahal, dalam pernikahan, keheningan seringkali berbicara lebih lantang. Ada hening yang dingin dan menusuk-nusuk dinding es di antara dua orang. Namun, ada pula hening yang hangat dan memulihkan. Pernahkah Anda mencoba membuatkan secangkir teh hangat untuk pasangan Anda di tengah pertengkaran tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Pernahkah Anda hanya duduk di sampingnya saat ia tampak lelah, tanpa menuntut penjelasan? Tindakan-tindakan kecil ini adalah puisi tanpa kata. Ini adalah ‘bahasa hening’ yang mengatakan, “Aku mungkin marah, tapi aku masih peduli. Kita mungkin sedang sulit, tapi aku tidak akan pergi.” Di tengah badai kata-kata yang menyakitkan, satu gestur hening yang tulus bisa menjadi mercusuar yang menuntun jalan pulang.

Tidak ada taman yang hanya berisi bunga tanpa duri. Pasangan Anda adalah taman itu. Akan ada duri-duri tajam dari kebiasaan yang menjengkelkan, kata-kata yang ceroboh, atau sifat yang sulit diubah. Kegelapan datang saat kita hanya fokus pada duri, merasakannya setiap hari hingga tangan kita berdarah dan hati kita lelah.

Di sinilah kebijaksanaan abadi dari Sang Nabi Muhammad ﷺ memberikan cahayanya. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai satu perangai darinya, niscaya ia akan meridhai perangai lain darinya.” (HR. Muslim no. 1469)

Hadis ini bukan sekadar nasehat, namun ini adalah sebuah strategi bertahan hidup dalam pernikahan. Ini adalah perintah untuk menjadi ‘pencari kebaikan’. Saat Anda merasa jengkel dengan satu sifat buruknya, paksakan diri Anda untuk secara aktif mencari dan mengingat satu sifat baik lainnya. Jika ia ceroboh, ingatlah betapa lembut hatinya. Jika ia keras kepala, kenanglah betapa ia selalu membela Anda di depan orang lain.

Latihan sederhana ini secara perlahan akan mengubah lensa yang Anda gunakan untuk memandang pasangan. Anda tidak meniadakan durinya, tetapi Anda memilih untuk lebih sering menikmati keharuman bunganya.

Nasehat terakhir dan mungkin yang paling ‘out of the box’ adalah ini: dalam konflik, jadilah cermin, bukan palu.

Palu digunakan untuk menghancurkan dan memaksa. “Kamu salah!”, “Kamu harus berubah!”, “Kenapa kamu selalu begini?!” Ini adalah hantaman palu yang menciptakan retakan, pertahanan diri, dan kebencian.

Cermin, di sisi lain, hanya merefleksikan. Ia tidak menghakimi. Alih-alih berkata “Kamu egois!”, seorang cermin akan berkata, “Aku merasa sendirian saat keputusan dibuat tanpa diskusi.” Alih-alih berteriak “Kamu tidak pernah mendengarkan!”, seorang cermin akan berbisik, “Aku merasa tidak dihargai ketika aku berbicara.” Cermin menggeser fokus dari serangan personal menjadi ekspresi perasaan. Ia mengundang introspeksi, bukan perlawanan. Menjadi cermin memang membutuhkan kekuatan dan kerentanan yang luar biasa, tetapi ia memiliki kekuatan untuk mengubah medan perang menjadi ruang penyembuhan.

Akhir,

Pernikahan yang langgeng bukanlah yang terbebas dari badai. Pernikahan terindah adalah sebuah kapal yang mungkin sudah usang, layarnya terkoyak di beberapa bagian, namun di dalamnya ada dua orang yang telah belajar bersama cara menambal layar, membaca kompas, dan yang terpenting, tak pernah menyerah untuk saling menyalakan lilin saat malam paling kelam tiba.

Karena secercah harapan itu tidak datang dari luar. Ia dinyalakan dari dalam, oleh dua tangan yang memilih untuk tetap saling berpegangan di tengah gelap gulita.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan
5 4 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 56 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Pentingnya Kesadaran Mencatatkan Pernikahan Secara Resmi

28 November 2025 - 14:28 WIB

Memformat titik Fokus Penelitian Usia Dini dari Stagnan puluhan tahun menjadi Rekomendable Action

28 November 2025 - 11:01 WIB

Izin Istri atau Diam-Diam? Poligami dalam Perspektif Agama, Etika, dan Dampak Nyata dalam Kehidupan Rumah Tangga

27 November 2025 - 15:49 WIB

Pernikahan Siri atau Tidak Tercatat Termasuk Bentuk Pelanggaran Administratif dan Membahayakan Masa Depan Keluarga

26 November 2025 - 08:46 WIB

Benarkah Tak Boleh Ada Jeda Sama Sekali Dan Satu Nafas Dalam Ijab Qobul Nikah?

25 November 2025 - 14:20 WIB

Sebuah Perasaan yang Tak Pernah Selesai

24 November 2025 - 14:16 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x