Wahai pasangan pengantin yang berbahagia, hari ini adalah hari yang Allah pilihkan untuk menulis kisah cinta kalian, bukan hanya di atas buku nikah, tetapi juga di atas lembaran takdir yang ditulis di Lauh Mahfuz. Kini dua hati telah bersatu, dua jalan telah menyatu, dan dua doa telah bertemu dalam satu ikatan suci yaitu pernikahan.
Namun, ketahuilah…
Cinta bukan hanya tentang rasa yang hangat di dada, tetapi tentang tanggung jawab dan keberkahan yang dijaga dengan kesungguhan. Dan di antara amanah terbesar bagi seorang suami adalah menafkahi keluarganya dengan cara yang halal dan baik. Nafkah bukan sekadar uang belanja yang berpindah tangan, tetapi sebuah cinta yang berwujud tanggung jawab. Setiap rupiah yang dihasilkan dari keringat halal, adalah doa yang hidup dalam piring yang terhidang, adalah berkah yang tumbuh di hati istri yang setia dan ketenangan di dada anak-anak yang bahagia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)
Ayat ini bukan sekadar penegasan tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang amanah besar — bahwa seorang suami harus berjuang dengan cara yang benar, mencari rezeki bukan demi kebanggaan, tetapi demi keberkahan. Sebab rezeki yang halal membawa ketenangan, sementara rezeki yang haram – meski tampak banyak, akan meninggalkan kegelisahan di hati, dan menjauhkan keberkahan dari rumah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ المِقْدَامِ بنِ مَعْدِيكَرِبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ:مَا اَكَلَ اَحَدٌطَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ, وَاِنَّ نَبِيّ اللهِ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Dari Miqdam bin Ma’dikariba Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, ia berkata: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”. [HR Bukhari, no. 2072]
Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang suami bukan diukur dari besarnya gaji, tetapi dari halalnya usaha dan kejujuran langkahnya. Sungguh, nafkah yang halal, meski sedikit, lebih menenangkan daripada harta melimpah yang ternoda dosa.
Wahai para suami, jadilah pelindung, bukan penekan. Carilah rezeki dengan jalan yang diridai Allah, meski langkah terasa berat dan hasil tampak kecil, karena sesungguhnya Allah tidak menilai jumlah, tetapi niat dan keikhlasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا
“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Kalimat itu bukan ancaman, tapi peringatan kasih agar kita menjaga kesucian rezeki yang masuk ke tubuh dan keluarga kita. Jangan biarkan satu suapan haram menodai doa-doa panjang istri di sepertiga malam. Jangan biarkan harta kotor menumbuhkan daging pada anak yang kelak menjerit tanpa berkah. Adapun pepatah mengatakan,
Lebih baik rumah sederhana yang penuh doa, daripada istana megah yang sepi dari ketenangan.
Wahai pengantin baru, ketika engkau memulai perjalanan ini, ingatlah bahwa cinta sejati tidak tumbuh dari kata-kata manis, tetapi dari usaha yang tulus dan doa yang tak henti. Mulailah rumah tanggamu dengan niat yang baik: mencari ridha Allah dalam setiap langkah, menyemai rezeki halal dalam setiap nafkah, dan bersyukur atas setiap pemberian sekecil apa pun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Maka, selama engkau menempuh jalan yang halal, Allah akan cukupkan kebutuhanmu dengan cara yang tak terduga. Rezeki itu bukan hanya uang, tetapi juga kesehatan, ketenangan, cinta yang langgeng, dan doa yang diijabah.
Akhir,
Suami yang menafkahi keluarganya dengan halal sesungguhnya sedang menanam benih surga di halaman rumahnya sendiri. Sebab dari nafkah halal tumbuhlah ketenangan, dari ketenangan lahirlah kasih, dan dari kasih mengalir keberkahan yang tak terhitung. Wahai para pengantin, jadikan rumah tanggamu taman kecil yang harum oleh doa, tempat bernaung yang teduh oleh kejujuran, dan istana kecil yang berdiri di atas pondasi nafkah yang halal dan hati yang tulus.
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا، وَبَارِكْ عَلَيْهِمَا، وَاجْمَعْ بَيْنَهُمَا فِي خَيْرٍ
“Ya Allah, berkahilah keduanya, limpahkan berkah atas keduanya, dan satukan mereka dalam kebaikan.”
Semoga Allah menjadikan rumah tanggamu tempat berlabuh yang penuh cinta, rezekimu dilimpahkan dari jalan yang halal, dan setiap langkahmu menjadi saksi ketaatan kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








