MENJELANG waktu salat Jumat, 14 November 2025, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Masjid Jamik Baiturrohmah, Kampung Damar Mulyo, Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah. Sebuah kunjungan sederhana yang kemudian menghadirkan pengalaman spiritual penuh makna. Saat tiba, Imam Kampung mempersilakan saya untuk menjadi khatib. Sebuah amanah yang tentu tidak ringan, namun mesti dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Ketika azan pertama dikumandangkan, para jamaah menunaikan salat sunat qabliyah dua rakaat. Suasana masjid yang teduh semakin menguatkan hati untuk hadir dalam ketundukan. Sebagaimana tradisi di sejumlah masjid, sebelum khatib naik mimbar, seorang bilal membacakan tarqiyyah—bacaan yang menjadi tanda bahwa khutbah akan segera dimulai. Secara bahasa, tarqiyyah berarti “menaikkan”, sebuah isyarat halus bahwa seorang khatib akan naik mimbar membawa pesan Allah dan Rasul-Nya.
Saya naik mimbar dengan memulai salam, kemudian duduk sejenak hingga bilal mengumandangkan azan kedua. Usai itu khutbah pun dimulai. Saya membuka dengan pujian kepada Allah, salawat, dan wasiat takwa—bagian penting yang menjadi ruh khutbah setiap Jumat. Wasiat takwa bukan hanya tradisi lisan, melainkan panggilan abadi untuk memperkuat hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia; hablum minallah wa hablum minannas.
Jangan Menjadi Pendusta Agama
Khutbah hari itu saya arahkan pada refleksi Surah Al-Ma’un. Surah pendek namun sarat makna tajam yang mengetuk nurani. Allah memperingatkan tentang golongan yang disebut sebagai pendusta agama, yaitu mereka yang mengabaikan hak anak yatim, tidak peduli terhadap kaum dhuafa, lalai dalam salat, serta melakukan ibadah hanya untuk dilihat dan dipuji.
Surah Al-Ma’un mengajarkan bahwa agama bukan hanya ritual; ia adalah komitmen sosial. Tidak cukup seorang hamba berlama-lama dalam ibadah namun menutup mata dari penderitaan sekitar. Kita diajak merenungi: apakah selama ini kita telah menjadi hamba yang selaras antara keimanan dan kepedulian?
Dalam kehidupan keluarga, Al-Ma’un mengingatkan orang tua untuk tidak membiarkan anak-anak tumbuh tanpa perhatian nilai akhlak, kasih sayang, serta pendidikan agama. Di masyarakat, surah ini menyeru agar kita tidak hanya mengurus urusan pribadi tetapi juga memastikan tetangga, lingkungan, dan fakir miskin mendapatkan hak dan penguatan moral.
Agama bukan sekadar bacaan, tetapi aksi nyata. Jika surah Al-Ma’un dihayati, maka tidak akan ada lagi masyarakat yang individualis, tidak ada lagi tetangga yang dibiarkan kelaparan, tidak ada lagi anak yatim yang terabaikan, dan tidak ada lagi ibadah yang gugur karena ketidakpedulian sosial.
Manusia: Dari Ahsani Taqwim ke Asfala Safilin
Setelah itu saya mengajak jamaah merenungkan pesan mendalam dalam Surah At-Tin ayat 4–6:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsan taqwim).
Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin),
kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh.”
Ayat ini menegaskan martabat manusia yang begitu tinggi. Kita diciptakan dengan akal, hati, dan potensi yang sempurna. Namun, kehormatan itu bisa runtuh bila manusia menyimpang dari nilai iman dan amal saleh. Manusia bisa jatuh lebih rendah dari makhluk lain apabila lalai, sombong, dan kehilangan arah moral.
Refleksi ini penting di tengah arus modernitas. Banyak manusia tampak maju secara teknologi, tetapi terpuruk secara spiritual. Banyak yang cerdas dalam pikiran, tetapi miskin dalam hati. Karena itu, kunci agar tidak jatuh ke lembah kehinaan adalah menjaga iman dan memperbanyak amal saleh.
Urgensi Mencetak Kader Ulama
Di bagian akhir khutbah, saya mengajak jamaah untuk mendukung lembaga-lembaga pendidikan agama, khususnya pesantren yang ada di kampung tersebut. Kita sedang menghadapi fenomena krisis kader ulama. Hari ini sangat sulit mencari anak muda yang bersedia menekuni ilmu agama secara mendalam. Banyak orang tua lebih bangga jika anaknya menjadi pegawai, polisi, atau pejabat, tetapi ragu mengirim anak ke pesantren.
Padahal umat sangat membutuhkan ulama, imam, dan mubalig yang mampu membimbing masyarakat. Lihat fenomena di banyak kampung: jika seorang imam wafat atau uzur, sulit sekali mencari penggantinya. Tetapi ketika ada pemilihan reje (kepala desa), justru banyak yang ingin maju. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat menjadi pemimpin dunia lebih besar daripada menjadi pemimpin ibadah.
Ini harus menjadi bahan renungan bersama. Siapa yang kelak akan memimpin salat kita? Siapa yang akan memandikan jenazah kita? Siapa yang akan mengajarkan fikih wudhu kepada anak-anak kita? Tanpa kaderisasi, umat akan kehilangan arah. Maka mendukung pesantren berarti ikut melestarikan cahaya ilmu dan menjaga keberlanjutan keberagamaan masyarakat.
Berfastabiqul Khairat: Berlomba dalam Kebaikan
Sebagai penutup khutbah, saya mengajak jamaah untuk berfastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan. Persaingan dalam hidup adalah hal biasa, tetapi hendaknya diarahkan pada hal-hal yang diridai Allah. Jadilah orang yang pertama hadir di masjid, pertama membantu tetangga, pertama mendukung pendidikan agama, dan pertama menolong orang dalam kesulitan.
Kebaikan yang dilakukan bersama akan melahirkan masyarakat yang kuat, rukun, dan beradab. Inilah esensi khutbah Jumat: mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam dunia, tetapi hidup dengan iman, kepedulian, ilmu, dan amal.
Semoga khutbah hari itu menjadi pengingat bagi diri dan jamaah, serta menjadi cahaya yang terus menerangi langkah-langkah kita. Aamiin.[]








