Oleh :
KHAERUL UMAM, S.Ag*)
(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)
ﺑِﺴْـــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
أللهم صل على سَيْدِنَا محمد وعلى آل سَيْدِنَا محمد كما صليت على سَيْدِنَا إبراهيم وعلى آل سَيْدِنَا إبراهيم وبارك على سَيْدِنَا محمد وعلى آل سَيْدِنَا محمد كما باركت على سَيْدِنَا إبراهيم وعلى آل سَيْدِنَا إبراهيم فِيْ الْعَالَمِيْنَ إنك حميد مجيد
۞ اَللهُمَّـ صَلِ عَلَی سَيْدِنَا مُحَمَّد وَعَلَی اَلِ سَيْدِنَا مُحَمَّد ﷺ ۞
Perceraian itu….
Bukan hanya tentang dua orang dewasa yang berhenti bersama,
tapi tentang seorang anak yang tiba-tiba kehilangan dunia yang ia kenal.
Kadang suami dan istri terlalu sibuk mempertahankan kemenangan ego masing-masing,
sampai lupa ada hati kecil yang diam-diam hancur,
menyaksikan dua orang yang ia cinta memilih saling menjauh.
Mencari pasangan baru memang tidak sulit,
tapi kasih yang lahir dari orang tua sendiri…
takkan pernah tergantikan,
bukan oleh wajah tercantik,
bukan oleh harta paling melimpah.
Ibu tiri bisa mencoba menyayangi,
ayah tiri bisa berusaha mengasihi,
tapi cinta pertama seorang anak tetaplah orang tuanya sendiri.
Jadi sebelum menyerah pada hubungan,
ingatlah ada masa depan yang ikut dipertaruhkan.
Jangan biarkan luka orang dewasa menjadi beban yang harus dipikul anak selamanya.
Karena kebahagiaan anak…
jauh lebih berharga daripada sekadar pelarian ke hubungan baru.
———
**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan pemerhati sosial keagamaan.








