INOVASI METODE DAKWAH DI ERA DIGITAL
AISYAH DWI JULIYANTI
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Abstract
This study explores innovative methods of Islamic preaching in the digital era as a
response to shifting communication patterns in modern society. The rapid
development of social media, streaming platforms, and multimedia-based content
has created new opportunities for preachers to deliver religious messages in more
creative, interactive, and accessible ways. This article examines several forms of
digital da’wah innovation, including short videos, podcasts, live streaming, and
storytelling techniques tailored to younger audiences. Using a descriptive-
qualitative approach, the study indicates that digital technology not only expands
the reach of da’wah but also enhances message effectiveness. These findings
highlight the importance of adapting preaching methods to remain contextual,
communicative, and aligned with audience needs in today’s information era.
Abstrak
Penelitian ini membahas inovasi metode dakwah di era digital sebagai respons
terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat modern. Perkembangan media
sosial, platform streaming, dan konten berbasis multimedia telah membuka ruang
baru bagi pendakwah untuk menyampaikan pesan keagamaan secara lebih kreatif,
interaktif, dan mudah diakses. Artikel ini mengkaji bentuk-bentuk inovasi dakwah
digital seperti penggunaan video pendek, podcast, live streaming, serta teknik
storytelling yang relevan bagi generasi muda. Melalui pendekatan deskriptif-
kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak
hanya memperluas jangkauan dakwah tetapi juga meningkatkan efektivitas
penyampaian pesan. Temuan ini menegaskan pentingnya adaptasi metode dakwahagar tetap kontekstual, komunikatif, dan sesuai kebutuhan audiens di era
informasi.
Perkembangan teknologi informasi dalam dua dekade terakhir telah
membawa perubahan signifikan terhadap pola komunikasi masyarakat.
Digitalisasi tidak hanya memengaruhi cara individu berinteraksi, tetapi juga
mengubah bagaimana pesan, nilai, dan pengetahuan disebarkan. Di tengah arus
modernisasi tersebut, aktivitas dakwah sebagai bentuk penyampaian ajaran Islam
turut mengalami evolusi metodologis. Jika sebelumnya dakwah lebih dominan
dilakukan melalui ceramah tatap muka, majelis taklim, dan media konvensional
seperti radio serta televisi, kini media digital membuka ruang baru yang lebih
luas, fleksibel, dan interaktif bagi para pendakwah.
Transformasi digital menghadirkan berbagai platform seperti YouTube,
Instagram, TikTok, podcast, dan aplikasi streaming yang memungkinkan pesan
dakwah tersebar secara cepat dan menjangkau audiens lintas usia, wilayah, dan
latar belakang sosial. Generasi muda yang lebih akrab dengan budaya digital
menjadi kelompok yang sangat potensial untuk dijangkau melalui metode dakwah
yang inovatif. Kondisi ini menuntut pendakwah untuk memahami karakteristik
media baru sehingga pesan yang disampaikan dapat relevan, menarik, dan tidak
terputus dari realitas sosial audiens.
Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat di era informasi menuntut
penyampaian pesan dakwah yang lebih ringkas, visual, dan mudah dicerna.
Penggunaan video pendek, infografis, animasi, serta gaya komunikasi naratif
menjadi bentuk-bentuk kreativitas yang semakin populer dalam dakwah digital.
Metode dakwah tidak lagi sekadar menekankan isi pesan, tetapi juga
memperhatikan teknik penyajian, estetika, dan strategi engagement untuk
menciptakan kedekatan dengan audiens. Pendekatan ini menjadikan dakwah tidak
hanya sebagai aktivitas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga sebagai praktik
komunikasi yang memerlukan pemahaman terhadap media, psikologi audiens, dan
tren budaya digital.
Di sisi lain, inovasi dakwah digital juga menghadirkan tantangan, seperti
potensi penyebaran informasi keagamaan yang tidak valid, komersialisasi konten
dakwah, hingga persoalan etika dalam penggunaan media sosial. Oleh karena itu,
pendakwah maupun pengelola konten dakwah perlu berhati-hati dan bertanggung
jawab dalam memproduksi serta menyebarkan informasi keagamaan, terutama di
tengah derasnya arus hoaks dan misinformasi yang berkembang di internet.
Melihat dinamika tersebut, studi mengenai inovasi metode dakwah di era
digital menjadi penting untuk dilakukan. Kajian ini tidak hanya memberikangambaran tentang perubahan strategi dakwah, tetapi juga menegaskan perlunya
adaptasi, kreativitas, dan literasi digital bagi para pendakwah agar pesan dakwah
tetap efektif, inklusif, dan relevan bagi masyarakat modern. Artikel ini diharapkan
dapat memberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk inovasi dakwah digital
serta implikasinya terhadap praktik komunikasi keagamaan di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk
menggambarkan inovasi metode dakwah di era digital. Data diperoleh melalui
observasi konten di beberapa platform digital seperti YouTube, Instagram, TikTok,
dan podcast. Selain itu, penelitian juga menggunakan data sekunder dari buku,
artikel ilmiah, dan penelitian terkait dakwah digital.
Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis isi kualitatif, yaitu
mengamati pola penyampaian, bentuk inovasi, dan cara pendakwah
berkomunikasi melalui media digital. Keabsahan data dijaga dengan
mencocokkan temuan observasi dengan literatur yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah di era digital mengalami
perubahan signifikan, terutama dalam cara pendakwah menyampaikan pesan
kepada audiens. Pemanfaatan platform digital membuat dakwah menjadi lebih
fleksibel, kreatif, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, khususnya generasi
muda yang aktif menggunakan media sosial. Berbagai inovasi muncul sebagai
upaya menyesuaikan metode dakwah dengan gaya komunikasi modern yang
cepat, visual, dan interaktif. Berikut ini beberapa temuan utama yang diperoleh
dari observasi konten dakwah digital.
1. Video Pendek sebagai Media Dakwah
a. Banyak digunakan di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
b. Durasi singkat membuat pesan lebih cepat diterima.
c. Visual menarik dan bahasa sederhana efektif untuk audiens muda.
2. Podcast Dakwah
a. Menawarkan pembahasan agama secara santai dan lebih mendalam.
b. Format audio dapat didengarkan kapan saja sambil beraktivitas.
c. Membangun kedekatan melalui penjelasan yang runtut dan personal.
3. Live Streaming Interaktif
a. Memungkinkan pendakwah berinteraksi langsung dengan audiens.
b. Pertanyaan dapat dijawab secara real-time.
c. Memberikan pengalaman dakwah yang lebih personal dan responsif.
4. Storytelling Digitala. Menggabungkan narasi, ilustrasi, dan kisah nyata.
b. Membuat pesan agama lebih mudah dipahami dan diingat.
c. Cocok untuk konten dakwah yang ingin menyentuh sisi emosional
audiens.
5. Penyesuaian dengan Tren dan Budaya Digital
a. Konten dakwah kini lebih ringkas, visual, dan mengikuti tren media
sosial.
b. Pendakwah menggunakan teknik editing modern untuk menarik
perhatian.
c. Kreativitas menjadi kunci agar pesan tidak kalah bersaing dengan
konten hiburan.
6. Tantangan Dakwah Digital
a. Risiko misinformasi agama jika konten kurang akurat.
b. Potensi komersialisasi berlebihan.
c. Perlunya literasi digital dan etika komunikasi bagi pendakwah.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam
metode dakwah, menjadikannya lebih dinamis, kreatif, dan mudah diakses oleh
masyarakat luas. Pemanfaatan video pendek, podcast, live streaming, dan teknik
storytelling terbukti mampu meningkatkan daya tarik dakwah dan
menyesuaikannya dengan pola konsumsi informasi generasi modern. Inovasi-
inovasi tersebut tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga
memperkaya cara penyampaian pesan sehingga lebih interaktif dan relevan
dengan kehidupan sehari-hari audiens.
Meski begitu, hadirnya dakwah digital juga membawa tantangan
tersendiri, seperti potensi penyebaran informasi yang kurang akurat,
komersialisasi konten, serta masalah etika dalam penggunaan media sosial. Oleh
karena itu, para pendakwah perlu memiliki literasi digital, pemahaman keagamaan
yang kuat, serta sikap bertanggung jawab agar pesan dakwah tetap berkualitas dan
bermanfaat. Dengan pengelolaan yang baik, dakwah digital dapat menjadi sarana
efektif untuk memperkuat pemahaman agama sekaligus menjawab kebutuhan
komunikasi masyarakat di era informasi.








