Menu

Mode Gelap

Opini · 11 Des 2025 18:12 WIB ·

Inovasi metode dakwah di era digital

Penulis: Aisyah Dwi


 Inovasi metode dakwah di era digital Perbesar

 

INOVASI METODE DAKWAH DI ERA DIGITAL

AISYAH DWI JULIYANTI

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Abstract

This study explores innovative methods of Islamic preaching in the digital era as a

response to shifting communication patterns in modern society. The rapid

development of social media, streaming platforms, and multimedia-based content

has created new opportunities for preachers to deliver religious messages in more

creative, interactive, and accessible ways. This article examines several forms of

digital da’wah innovation, including short videos, podcasts, live streaming, and

storytelling techniques tailored to younger audiences. Using a descriptive-

qualitative approach, the study indicates that digital technology not only expands

the reach of da’wah but also enhances message effectiveness. These findings

highlight the importance of adapting preaching methods to remain contextual,

communicative, and aligned with audience needs in today’s information era.

Abstrak

Penelitian ini membahas inovasi metode dakwah di era digital sebagai respons

terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat modern. Perkembangan media

sosial, platform streaming, dan konten berbasis multimedia telah membuka ruang

baru bagi pendakwah untuk menyampaikan pesan keagamaan secara lebih kreatif,

interaktif, dan mudah diakses. Artikel ini mengkaji bentuk-bentuk inovasi dakwah

digital seperti penggunaan video pendek, podcast, live streaming, serta teknik

storytelling yang relevan bagi generasi muda. Melalui pendekatan deskriptif-

kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak

hanya memperluas jangkauan dakwah tetapi juga meningkatkan efektivitas

penyampaian pesan. Temuan ini menegaskan pentingnya adaptasi metode dakwahagar tetap kontekstual, komunikatif, dan sesuai kebutuhan audiens di era

informasi.

Perkembangan teknologi informasi dalam dua dekade terakhir telah

membawa perubahan signifikan terhadap pola komunikasi masyarakat.

Digitalisasi tidak hanya memengaruhi cara individu berinteraksi, tetapi juga

mengubah bagaimana pesan, nilai, dan pengetahuan disebarkan. Di tengah arus

modernisasi tersebut, aktivitas dakwah sebagai bentuk penyampaian ajaran Islam

turut mengalami evolusi metodologis. Jika sebelumnya dakwah lebih dominan

dilakukan melalui ceramah tatap muka, majelis taklim, dan media konvensional

seperti radio serta televisi, kini media digital membuka ruang baru yang lebih

luas, fleksibel, dan interaktif bagi para pendakwah.

Transformasi digital menghadirkan berbagai platform seperti YouTube,

Instagram, TikTok, podcast, dan aplikasi streaming yang memungkinkan pesan

dakwah tersebar secara cepat dan menjangkau audiens lintas usia, wilayah, dan

latar belakang sosial. Generasi muda yang lebih akrab dengan budaya digital

menjadi kelompok yang sangat potensial untuk dijangkau melalui metode dakwah

yang inovatif. Kondisi ini menuntut pendakwah untuk memahami karakteristik

media baru sehingga pesan yang disampaikan dapat relevan, menarik, dan tidak

terputus dari realitas sosial audiens.

Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat di era informasi menuntut

penyampaian pesan dakwah yang lebih ringkas, visual, dan mudah dicerna.

Penggunaan video pendek, infografis, animasi, serta gaya komunikasi naratif

menjadi bentuk-bentuk kreativitas yang semakin populer dalam dakwah digital.

Metode dakwah tidak lagi sekadar menekankan isi pesan, tetapi juga

memperhatikan teknik penyajian, estetika, dan strategi engagement untuk

menciptakan kedekatan dengan audiens. Pendekatan ini menjadikan dakwah tidak

hanya sebagai aktivitas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga sebagai praktik

komunikasi yang memerlukan pemahaman terhadap media, psikologi audiens, dan

tren budaya digital.

Di sisi lain, inovasi dakwah digital juga menghadirkan tantangan, seperti

potensi penyebaran informasi keagamaan yang tidak valid, komersialisasi konten

dakwah, hingga persoalan etika dalam penggunaan media sosial. Oleh karena itu,

pendakwah maupun pengelola konten dakwah perlu berhati-hati dan bertanggung

jawab dalam memproduksi serta menyebarkan informasi keagamaan, terutama di

tengah derasnya arus hoaks dan misinformasi yang berkembang di internet.

Melihat dinamika tersebut, studi mengenai inovasi metode dakwah di era

digital menjadi penting untuk dilakukan. Kajian ini tidak hanya memberikangambaran tentang perubahan strategi dakwah, tetapi juga menegaskan perlunya

adaptasi, kreativitas, dan literasi digital bagi para pendakwah agar pesan dakwah

tetap efektif, inklusif, dan relevan bagi masyarakat modern. Artikel ini diharapkan

dapat memberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk inovasi dakwah digital

serta implikasinya terhadap praktik komunikasi keagamaan di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk

menggambarkan inovasi metode dakwah di era digital. Data diperoleh melalui

observasi konten di beberapa platform digital seperti YouTube, Instagram, TikTok,

dan podcast. Selain itu, penelitian juga menggunakan data sekunder dari buku,

artikel ilmiah, dan penelitian terkait dakwah digital.

Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis isi kualitatif, yaitu

mengamati pola penyampaian, bentuk inovasi, dan cara pendakwah

berkomunikasi melalui media digital. Keabsahan data dijaga dengan

mencocokkan temuan observasi dengan literatur yang relevan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah di era digital mengalami

perubahan signifikan, terutama dalam cara pendakwah menyampaikan pesan

kepada audiens. Pemanfaatan platform digital membuat dakwah menjadi lebih

fleksibel, kreatif, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, khususnya generasi

muda yang aktif menggunakan media sosial. Berbagai inovasi muncul sebagai

upaya menyesuaikan metode dakwah dengan gaya komunikasi modern yang

cepat, visual, dan interaktif. Berikut ini beberapa temuan utama yang diperoleh

dari observasi konten dakwah digital.

1. Video Pendek sebagai Media Dakwah

a. Banyak digunakan di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

b. Durasi singkat membuat pesan lebih cepat diterima.

c. Visual menarik dan bahasa sederhana efektif untuk audiens muda.

2. Podcast Dakwah

a. Menawarkan pembahasan agama secara santai dan lebih mendalam.

b. Format audio dapat didengarkan kapan saja sambil beraktivitas.

c. Membangun kedekatan melalui penjelasan yang runtut dan personal.

3. Live Streaming Interaktif

a. Memungkinkan pendakwah berinteraksi langsung dengan audiens.

b. Pertanyaan dapat dijawab secara real-time.

c. Memberikan pengalaman dakwah yang lebih personal dan responsif.

4. Storytelling Digitala. Menggabungkan narasi, ilustrasi, dan kisah nyata.

b. Membuat pesan agama lebih mudah dipahami dan diingat.

c. Cocok untuk konten dakwah yang ingin menyentuh sisi emosional

audiens.

5. Penyesuaian dengan Tren dan Budaya Digital

a. Konten dakwah kini lebih ringkas, visual, dan mengikuti tren media

sosial.

b. Pendakwah menggunakan teknik editing modern untuk menarik

perhatian.

c. Kreativitas menjadi kunci agar pesan tidak kalah bersaing dengan

konten hiburan.

6. Tantangan Dakwah Digital

a. Risiko misinformasi agama jika konten kurang akurat.

b. Potensi komersialisasi berlebihan.

c. Perlunya literasi digital dan etika komunikasi bagi pendakwah.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam

metode dakwah, menjadikannya lebih dinamis, kreatif, dan mudah diakses oleh

masyarakat luas. Pemanfaatan video pendek, podcast, live streaming, dan teknik

storytelling terbukti mampu meningkatkan daya tarik dakwah dan

menyesuaikannya dengan pola konsumsi informasi generasi modern. Inovasi-

inovasi tersebut tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga

memperkaya cara penyampaian pesan sehingga lebih interaktif dan relevan

dengan kehidupan sehari-hari audiens.

Meski begitu, hadirnya dakwah digital juga membawa tantangan

tersendiri, seperti potensi penyebaran informasi yang kurang akurat,

komersialisasi konten, serta masalah etika dalam penggunaan media sosial. Oleh

karena itu, para pendakwah perlu memiliki literasi digital, pemahaman keagamaan

yang kuat, serta sikap bertanggung jawab agar pesan dakwah tetap berkualitas dan

bermanfaat. Dengan pengelolaan yang baik, dakwah digital dapat menjadi sarana

efektif untuk memperkuat pemahaman agama sekaligus menjawab kebutuhan

komunikasi masyarakat di era informasi.

4 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 32 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Selisih Paham Perceraian, Bawa Saja ke Pengadilan Agama!

2 Januari 2026 - 05:44 WIB

Refleksi Penghulu di Tahun 2025

31 Desember 2025 - 14:14 WIB

Catatan Penting Penghulu Dalam Pemeriksaan Calon Pengantin

19 Desember 2025 - 12:41 WIB

Pentingnya Rasa Syukur Dalam Pernikahan

18 Desember 2025 - 09:14 WIB

APAKAH GAJI ATAU PENDAPATAN SUAMI WAJIB DIBERIKAN SEPENUHNYA KEPADA ISTRI?

15 Desember 2025 - 18:37 WIB

Problematika Alih Bahasa Ijab Kabul

13 Desember 2025 - 17:41 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x