Cahaya di Balik Nasihat: Kiprah Penyuluh Agama Perempuan Wonosari dalam Balutan Kasih Ibu
Hari Ibu bukan sekadar perayaan tentang bunga dan ucapan selamat. Bagi seorang Penyuluh Agama Perempuan di KUA Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Hari Ibu adalah refleksi tentang bagaimana peran domestik sebagai ibu di rumah bersinergi dengan peran sosial sebagai “ibu” bagi umat di tengah masyarakat.
Menjadi Ibu bagi Masyarakat Wonosari
Wonosari dikenal dengan masyarakatnya yang dinamis namun tetap memegang teguh nilai religius. Di sinilah peran Penyuluh Agama perempuan menjadi krusial. Jika di rumah ia membimbing anak-anaknya, maka di lapangan, ia membimbing ibu-ibu Majelis Taklim, kelompok mualaf, hingga remaja masjid di desa-desa seperti Gaden, Teloyo, hingga Kingkang.
Ia datang bukan hanya membawa teks agama, tetapi membawanya dengan pendekatan keibuan (maternal): penuh kesabaran, empati, dan tutur kata yang santun khas wong Klaten.
Syiar Agama dengan Sentuhan Kasih
Tugas Penyuluh Agama di Wonosari sangatlah beragam, namun di tangan seorang perempuan, tugas tersebut mendapatkan sentuhan yang berbeda:
- Pencegahan Stunting & Ketahanan Keluarga: Melalui bimbingan perkawinan, ia memberikan edukasi layaknya seorang ibu yang ingin anaknya sehat. Ia memastikan calon pengantin memahami pentingnya gizi dan pola asuh.
- Penyuluhan Ekonomi Umat: Memberdayakan ibu-ibu rumah tangga melalui kelompok usaha bersama, mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik, persis seperti seorang ibu yang mengajarkan kemandirian pada anaknya.
- Moderasi Beragama: Di wilayah Wonosari yang beragam, Penyuluh Perempuan hadir sebagai penyejuk, merangkul perbedaan dengan kasih sayang agar kerukunan antarwarga tetap terjaga.
Dilema dIbuan Keikhlasan
Setiap pagi, ia menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum memacu sepeda motor menyusuri jalanan persawahan Wonosari menuju titik-titik penyuluhan. Ada kalanya ia harus meninggalkan rumah di akhir pekan demi mendampingi kegiatan keagamaan warga.
Namun, lelah itu terbayar saat melihat ibu-ibu di desa kini lebih paham tentang hak-haknya dalam Islam, atau saat melihat sebuah keluarga kembali rukun berkat mediasinya. Di saat itulah, esensi “Hari Ibu” terpancar nyata: Pengabdian tanpa pamrih.
Penutup
Untuk para Ibu yang mengabdi sebagai Penyuluh Agama di KUA Wonosari, terima kasih telah menjadi pelita bagi masyarakat. Anda membuktikan bahwa menjadi ibu tidak menghalangi langkah untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Anda adalah potret nyata bahwa kebahagiaan sebuah bangsa dimulai dari bimbingan agama yang disampaikan dengan kasih sayang seorang ibu.
Selamat Hari Ibu. Teruslah menyuluh, teruslah menyentuh hati dengan ilmu dan kasih.








