Oleh :
KHAERUL UMAM, S.Ag*)
(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)
Muqadimah
Tidak terasa kurang lebih sepekan lagi kita akan memasuki tahun baru 2026. Masyarakat Indonesia dan mayoritas negara di dunia akan merayakan dan menyambut malam pergantian tahun tersebut. Hal ini sebagai wujud berakhirnya masa satu tahun di 2025 dan menandai akan dimulainya hitungan tahun selanjutnya yaitu 2026. Saat tahun baru ini masyarakat merayakannya dengan beragam kegiatan, mulai dari berdoa, berkumpul bersama keluarga, hingga melihat pesta kembang api.
Perayaan tahun baru pada 1 Januari ini karena Indonesia menganut hitungan kalender Gregorian, sebagaimana mayoritas negara-negara di dunia. Dalam sejarahnya, kalender Gregorian ini diresmikan oleh salah seorang kaisar Romawi bernama Julius Cesar pada tahun 46 SM. Kemudian kembali diresmikan oleh pemimpin katolik tertinggi yaitu Paus Gregorius XII pada tahun 1582. Sedangkan proses penetapannya dilakukan oleh bangsa Eropa Barat yang menggunakan kalender Greogorian pada tahun 1752. Perayaan tahun baru biasanya diisi dengan sukacita berkumpul bersama keluarga, kolega ataupun orang tercinta di alun-alun kota maupun tempat-tempat lainnya guna menyaksikan ragam pertunjukan, seperti pesta kembang api, konser musik, hingga pentas seni budaya.
Tetapi di penghujung akhir tahun 2025 ini, kembali bangsa kita diuji dengan musibah dan bencana yang luar biasa dahsyatnya. Akhirnya, kita seakan menjadi saksi bagaimana musibah banjir menghantam berbagai daerah di Indonesia. Wilayah ujung Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan daerah lain, menjadi saksi keganasan luapan air yang merendam rumah warga, fasilitas umum, rumah sakit, bahkan rumah ibadah. Diperkirakan korban meninggal sudah mencapai lebih dari 1000 jiwa. Ratusan korban lainnya masih dalam pencarian. Banjir juga menenggelamkan sejumlah desa serta menghancurkan kawasan pemukiman dan berbagai infrastruktur di tiga provinsi tersebut. Pertanyaannya, pantaskah kita bergembira, pesta pora, pesta kembang api dan mengelar hiburan lainnya di atas penderitaan dan kesengsaraan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana atau musibah?, di mana rasa empati kita jika ada di antara kita tetap “keukeuh” merayakan pesta malam tahun baru? Pantaskah tertawa riang gembira dan menari-nari di atas derai air mata dan mayat-mayat saudara kita di tiga provinsi tersebut.
Kedepankan Konsep Kesederhanaan dan Empati Dalam Perayaan Tahun Baru
Alhamdulillah, pertanyaan yang muncul dan berkecamuk di benak penulis pun terjawab. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengimbau para kepala daerah untuk tidak menggelar perayaan pergantian tahun baru secara berlebihan. Imbauan Kemendagri itu disampaikan sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat di sejumlah daerah yang tengah terdampak bencana alam. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto menyampaikan bahwa kondisi nasional saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak mudah. Oleh karena itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kepekaan, kewaspadaan, serta empati terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. Sejalan dengan Kemendagri, Komisi II DPR juga mendorong pemerintah daerah agar menahan diri dalam merayakan tahun baru. Wakil Ketua Komisi II DPR, Dede Yusuf, menyebut perayaan sebaiknya dilakukan secara sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap kondisi masyarakat yang terdampak bencana.
Imbauan dari Kemendagri dan Wakil Ketua Komisi II DPR pun gayung bersambut. Sejumlah pemerintah daerah di Indonesia memutuskan meniadakan atau membatasi perayaan Tahun Baru 2026 sebagai bentuk empati dan solidaritas atas rentetan bencana alam yang melanda Pulau Sumatra di penghujung 2025. Alih-alih menggelar pesta kembang api dan hiburan meriah, banyak daerah memilih mengisi malam pergantian tahun dengan doa bersama, pengajian, serta refleksi kemanusiaan. Di Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa pemerintah kota tidak akan menggelar pesta kembang api saat malam Tahun Baru 2026. Sebagai gantinya, kegiatan pergantian tahun akan diisi dengan pengajian dan doa bersama yang dipusatkan di Balai Kota Surabaya serta sejumlah titik lainnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Medan memutuskan membatalkan seluruh rangkaian kegiatan malam Tahun Baru 2026. Pemko ingin memusatkan perhatian dan sumber daya pada penanganan bencana yang terjadi di wilayahnya dan daerah sekitar. Keputusan ini sekaligus menjadi wujud kepedulian terhadap para korban serta upaya memastikan penanganan darurat berjalan optimal tanpa terganggu kegiatan seremonial. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menyampaikan bahwa pesta kembang api di Bundaran HI dan sejumlah titik keramaian tidak akan digelar pada malam pergantian Tahun Baru 2026. Menurutnya, Jakarta saat ini masih berada dalam suasana duka nasional akibat tragedi bencana alam di berbagai daerah di Pulau Sumatra. Karena itu, pemerintah provinsi menilai tidak tepat menggelar perayaan besar di tengah keprihatinan bersama.
Senada dengan daerah lain, Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mengimbau masyarakat agar tidak menggelar perayaan Tahun Baru 2026 secara meriah. Imbauan ini dikeluarkan karena banyak warga Indonesia yang tengah mengalami kesulitan akibat bencana alam, khususnya banjir bandang dan longsor di Aceh dan wilayah Sumatra lainnya. Selain Jakarta, Pemerintah Kota Denpasar, Bali, juga menetapkan kebijakan serupa dengan tidak menggelar pesta kembang api maupun konser musik pada malam pergantian tahun, sebagai wujud empati terhadap kondisi Indonesia yang tengah dilanda bencana.
Keputusan sejumlah daerah (menunggu hal yang sama dari lembaga atau organisasi keagamaan) meniadakan perayaan Tahun Baru 2026 mencerminkan rasa solidaritas dan kemanusiaan. Pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan pesta dan kembang api, melainkan juga dapat dimaknai sebagai momentum refleksi, doa, dan kepedulian terhadap sesama. Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menunjukkan kepedulian sosial dengan menyambut tahun baru secara sederhana dan penuh empati.
Penutup
Setelah adanya imbauan atau anjuran dari pemerintah dan lembaga atau organisasi keagamaan di Indonesia tentang malam perayaan tahun baru di atas, ternyata kemudian masih ada sebagian masyarakat kita yang tetap berpesta pora dengan berbagai hiburan berbalut kemaksiyatan sungguh sangat disesalkan di mana logika berfikir, solidaritas dan rasa empatinya disematkan, kalau boleh meminjam adagium dari Bang H.Rhoma Irama…Sungguh Terlaluuu…Coba bayangkan andaikata uang yang dipakai untuk berpesta pora dan hura-hura di malam tahun baru itu, semisal uang ratusan ribu rupiah dibuat mubadzir hanya untuk membeli petasan andai uang itu dipakai untuk membeli nasi bungkus, atau sembako lainnya dan diberikan kepada saudara-saudara kita yang kelaparan, lihatlah seorang anak dan puluhan keluarga lainnya yang rela berjalan puluhan kilometer hanya untuk mencari bantuan makanan, lihatlah seorang ayah rela melawan arus sungai yang deras untuk mendekati pesawat helikopter di sebrang sungai yang membawa bantuan sembako, lihat…lihat dan lihatlah…Di saat malam tahun baru kita berkumpul dengan keluarga yang masih lengkap, tapi mereka di sana banyak anak yang kehilangan orang tuanya, banyak orang tua yang masih mencari anak-anaknya, mereka makan seadanya bahkan menahan lapar menanti bantuan yang tak kunjung datang, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan…..😭 😭 😭
. Pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan pesta dan kembang api. Momen pergantian tahun sebaiknya diisi dengan kegiatan yang lebih bersifat reflektif dan sosial, bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mendoakan, merefleksi, dan bahkan juga menggalang solidaritas sosial dan menahan diri untuk tidak melakukan perayaan dengan cara-cara yang tidak berempati dan berlebihan, amatlah tidak bijak dan tidak tepat apabila ada perayaan di tengah penderitaan. Sangatlah tidak pas apabila ada yang bersuka di tengah situasi duka.
Alangkah baiknya bagi kita untuk memaknai pergantian tahun baru ini sebagai momentum untuk mengevaluasi diri agar lebih memaksimalkan ibadah ke depannya dengan ungkapan syukur. Selain itu, yang tak kalah penting dalam momentum pergantian tahun ialah memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjalankan kebaikan dan ketaatan serta dijauhkan dari segala marabahaya. Pada saat yang sama, marilah kita mendoakan saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan berbagai daerah lain yang sedang terdampak banjir agar diberi kekuatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menghadapi situasi sulit ini. Semoga kondisi di wilayah-wilayah tersebut segera pulih dan masyarakatnya kembali dapat beraktivitas dengan tenang…Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin..
———
**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan pemerhati sosial keagamaan.








