Dunia digital hari ini telah sukses menyulap kesakralan pernikahan menjadi ajang kompetisi kemewahan yang tidak masuk akal dan cenderung toksik. Tanpa sadar, setiap kali kita menggulir layar Instagram atau TikTok, kita sedang dicekoki standar semu tentang apa yang disebut sebagai resepsi “ideal”. Dekorasi pelaminan yang megah, tema yang estetik, katering bintang lima, hingga video cinematic yang sempurna ‘seolah’ menjadi syarat sah baru dalam sebuah pernikahan. Fenomena ini bukan lagi sekadar tren, melainkan tekanan psikologis yang membuat makna ibadah terpinggirkan oleh tuntutan gengsi.
Inilah realitas pahit yang sedang menghantam generasi muda kita. Pernikahan bukan lagi dipandang sebagai momen sakral untuk memulai hidup baru, melainkan telah bergeser menjadi ajang pamer kemewahan yang membuat banyak pasangan justru merasa ciut untuk melangkah. Banyak dari anak muda yang mungkin merasa tidak percaya diri bukan karena belum siap berkomitmen secara mental, melainkan karena mereka merasa tidak sanggup memenuhi ekspektasi finansial yang terus dipompa oleh standar sosial yang tidak realistis.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, biaya resepsi pernikahan yang dianggap “standar” oleh lingkungan sosial kini mencapai angka fantastis, mulai dari 100 hingga 300 juta rupiah atau bahkan lebih. Sementara itu, di banyak daerah, UMR masih berada di kisaran Rp2–5 juta per bulan, demikan halnya gaji atau pendapatan rata-rata fresh graduate tidak berbeda jauh. Belum lagi jika dipotong biaya hidup yang terus meroket.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan dana sebesar itu? Jawabannya bisa bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade. Tak heran jika banyak pasangan menunda pernikahan hingga usia 30-an atau memilih tidak menikah sama sekali, semata karena faktor finansial. Belum lagi jika bicara tentang generasi muda pengangguran.
Riset dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 memperlihatkan angka yang sangat memprihatinkan. Sebanyak 68 persen milenial dan 63 persen generasi Z memilih untuk menunda pernikahan karena alasan finansial. Mereka bukannya tidak ingin membina rumah tangga, tetapi standar biaya pernikahan yang dirasa berat telah menjadi tembok besar yang menghalangi niat baik tersebut.
Ironisnya, di saat yang sama, generasi muda dituntut untuk untuk segera menikah di usia ideal, demi menghindari zina. Namun kita sering kali menutup mata terhadap budaya “biaya tinggi” yang dilanggengkan oleh masyarakat sendiri.
Lebih menyedihkan lagi, banyak keluarga rela menghabiskan tabungan masa tua untuk resepsi yang “sempurna”. Tak sedikit yang bahkan nekat berutang ke bank atau pinjaman online. Banyak orang tua merasa harus merayakan pernikahan anaknya secara meriah karena tekanan sosial dan gengsi. Mereka khawatir akan dicemooh atau dianggap pelit oleh kerabat. Akibatnya, pasangan baru justru harus memulai langkah pertama rumah tangga mereka dengan beban utang yang mencekik leher.
Memang ada yang berargumen bahwa pernikahan layak dirayakan meriah dan bahkan bisa bisa berdampak pada ekonomi lokal. Namun persoalannya bukan pada perayaan kebahagiaan itu, melainkan standar tidak realistis dan tekanan sosial yang memaksa. Merayakan pernikahan secara meriah boleh saja, asalkan sesuai kemampuan, bukan dengan berutang atau mengorbankan masa depan finansial rumah tangga.
Coba kita renungkan satu hal yang paling esensial. Apakah sebenarnya kemegahan resepsi itu menentukan kualitas hubungan pernikahan? Dalam keyakinan kita, pernikahan adalah mitsaqan ghalizha, sebuah janji suci dan ikatan kuat yang menjadi awal perjalanan panjang. Namun, obsesi berlebihan terhadap kemasan visual sering kali membuat banyak pasangan jauh lebih sibuk memikirkan warna bunga dekorasi daripada mendiskusikan visi misi setelah hari pernikahan berlalu. Energi kita habis untuk hal-hal yang bersifat seremonial, sementara kematangan mental, spiritual, dan emosional justru terabaikan.
Jika kita menengok ke belakang, generasi orang tua jaman dulu sering kali menikah dengan cara yang sangat bersahaja. Tidak ada dekorasi mewah yang memakan tempat. Tidak ada videografer profesional yang mengatur gaya. Bahkan mungkin hanya dihadiri oleh tetangga dan keluarga inti di ruang tamu rumah. Namun, nyatanya pernikahan mereka bisa bertahan hingga puluhan tahun, melintasi berbagai badai kehidupan. Kesederhanaan tersebut tidak pernah menjadi penghalang kebahagiaan.
Lalu, apa langkah konkret yang bisa kita ambil untuk memutus rantai ini? Perubahan besar harus dimulai dari keberanian kita untuk berkata “cukup”. Calon pengantin, harus memiliki ketegasan untuk menetapkan batas dan berkomunikasi secara jujur dengan keluarga besar. Tidak perlu takut dianggap tidak mampu atau pelit hanya karena memilih resepsi yang sederhana namun bermakna.
Begitu pula bagi para orang tua, sudah saatnya kita melepaskan gengsi yang sama sekali tidak produktif. Kebahagiaan dan ketenangan hidup anak kita sebagai pasangan baru jauh lebih penting daripada sekadar pujian kosong dari tetangga atau kolega. Sebagai bagian dari masyarakat, kita juga perlu belajar untuk berhenti mencemooh atau meremehkan pernikahan yang digelar secara sederhana. Justru pernikahan yang simpel dan fungsional itulah yang harus kita apresiasi sebagai bentuk kecerdasan finansial.
Saya percaya bahwa pernikahan impian yang sejati bukanlah tentang seberapa mahal gaun yang dikenakan atau seberapa mewah gedung yang disewa. Pernikahan impian adalah pernikahan yang penuh berkah, dimulai dengan tangan yang bersih dari beban utang, dan menjadi fondasi yang sehat untuk masa depan keturunan. Sudah saatnya kita semua kembali kepada esensi ini. Sebelum lebih banyak lagi generasi muda yang kehilangan kesempatan untuk berumah tangga hanya karena ketakutan pada mahalnya biaya gengsi.
Penulis: Muhammad Hanif H. (Penghulu/Kepala KUA Mentok)









