Menu

Mode Gelap

Hikmah · 4 Feb 2026 10:00 WIB ·

Suami Minder Gaji Istri Lebih Besar? Membedah Ego Laki-laki di Meja Makan

Penulis: Muhammad Hanif Hakim


 ilustrasi gaji istri lebih tinggi Perbesar

ilustrasi gaji istri lebih tinggi

Di tengah deru kopi susu kekinian dan diskusi tentang financial freedom di media sosial, ada sebuah percakapan sunyi yang sering kali tertahan di meja makan pasangan muda Indonesia, bagaimana jika pendapatan istri lebih besar?

Bagi Generasi Baby Boomers, skenario ini mungkin dianggap anomali atau bahkan “ancaman.” Namun bagi Milenial dan Gen Z yang hidup di era inflasi tinggi dan pasar kerja yang kompetitif, ini adalah realitas baru yang menuntut redefinisi total atas apa yang kita sebut sebagai “harga diri laki-laki.”

Di zaman ketika mencari nafkah semakin menantang, tidak sedikit istri justru memiliki penghasilan atau karier yang lebih tinggi daripada suami. Namun, di ranah domestik, perbedaan ini kerap menjadi persoalan tersembunyi karena masih kuatnya konstruksi sosial Male Breadwinner Ideology. Anggapan bahwa harga diri laki-laki diukur dari perannya sebagai pencari nafkah utama. Akibatnya, ketika istri lebih mapan secara ekonomi, sebagian laki-laki merasa kehilangan kendali. Padahal dalam realitas biaya hidup yang kian mencekik, penghasilan istri seharusnya menjadi sumber ketenangan dan berkah bersama, bukan pemicu konflik rumah tangga.

Secara psikologis, ketidaksiapan suami menghadapi kesuksesan istri bukanlah mitos. Sebuah studi komprehensif oleh Dr. Joanna Syrda dari University of Bath (2019) yang meneliti lebih dari 6.000 pasangan selama 15 tahun menemukan temuan penting. Tingkat stres suami meningkat signifikan ketika kontribusi pendapatan istri melebihi 40 persen dari total penghasilan rumah tangga.

Studi ini mengonfirmasi bahwa banyak laki-laki mengalami “tekanan identitas gender”, kehilangan rasa percaya diri ketika mereka tidak lagi menjadi tulang punggung keuangan keluarga. Ketika istri mampu membeli segalanya sendiri, ego laki-laki bertabrakan dengan kenyataan ekonomi, menciptakan ketakutan bawah sadar bahwa peran mereka tidak lagi relevan.

Dalam kehidupan sehari-hari, gesekan ini muncul dalam bentuk yang sangat halus. Dampaknya bagi istri juga tak kalah berat. Banyak istri yang berpenghasilan besar akhirnya merasa harus “menebus kesalahan” sukses mereka dengan bekerja lebih keras di urusan domestik. Mereka rela kelelahan mengurus dapur dan sumur sendirian hanya agar suaminya tidak merasa rendah diri. Istri jadi memikul beban ganda. Lelah bekerja di kantor, atau pasar sekaligus lelah menjaga perasaan suami di rumah agar suasana tetap tenang.

Untuk mengurai benang kusut psikologis ini, kita perlu melihat kembali landasan hukum dan agama yang sebenarnya justru sangat protektif terhadap keutuhan keluarga. Secara hukum dan nilai di Indonesia, sebenarnya kita punya konsep yang sangat adil dalam menyikapi hal ini. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), dikenal konsep ‘Harta Bersama’. Aturan ini menjelaskan bahwa apa pun harta yang diperoleh selama masa perkawinan, baik itu dari hasil kerja suami maupun istri, menjadi harta bersama. Konsep Harta Bersama dalam KHI ini berlaku selama tanggung jawab dasar tetap dijalankan, sehingga tidak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi sikap suami yang bermalas-malasan.

Artinya, tidak peduli siapa yang bekerja mencari uang, siapa yang gajinya lebih besar, secara nilai dan hukum, uang tersebut adalah milik “kita”, milik keluarga. Konsep ini hadir untuk melindungi kedua belah pihak, sehingga istri yang sukses tetap merasa uangnya bermanfaat bagi keluarga, dan suami tidak perlu merasa kehilangan hak karena harta itu adalah kesatuan dalam rumah tangga.

Sering kali, konsep qiwamah atau kepemimpinan dalam teks agama seperti yang termuat dalam An Nisa ayat 34 dipahami secara kaku dan digunakan untuk membenarkan anggapan bahwa suami harus selalu unggul secara finansial. Namun, perspektif kontemporer seperti konsep Qira’ah Mubadalah (Kesalingan) yang digagas Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, mengingatkan kita bahwa kepemimpinan adalah tentang tanggung jawab moral, perlindungan, dan pelayanan. Kepemimpinan rumah tangga tidak lantas gugur hanya karena istri membantu ekonomi keluarga. Justru, itu adalah bentuk Ta’awun atau kerja sama yang sangat dianjurkan. Menyamakan kepemimpinan dengan besaran gaji adalah cara berpikir yang sangat sempit dan, jujur saja, melelahkan.

Kita perlu memahami juga bahwa ketika penghasilan istri lebih besar, itu bukan berarti suami boleh berhenti berusaha atau bersikap malas. Justru kondisi ini menuntut sikap yang lebih bertanggung jawab dan dewasa. Jika istri sudah banyak membantu dari sisi keuangan, maka suami semestinya membalasnya dengan lebih banyak peran dalam pekerjaan rumah, perhatian kepada keluarga, dan dukungan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam keseharian, hal ini bisa diwujudkan melalui inisiatif mengambil alih urusan dapur saat istri pulang kerja dengan wajah lelah dan memastikan anak-anak sudah mandi serta belajar tanpa perlu diminta. Selain itu, suami juga dapat menjadi telinga yang setia untuk mendengarkan keluh kesah istri tentang tekanan di tempat kerja. Dukungan ini bukan bentuk “membantu istri”, melainkan bentuk kesadaran diri bahwa ketika beban ekonomi sudah banyak dipikul oleh satu pihak, pihak lainnya harus bersiap menjadi penyangga di sisi yang berbeda.

Pernikahan yang sehat tidak memberi ruang bagi “penumpang gelap”. Kerja keras bagi seorang laki-laki tetaplah menjadi sebuah kehormatan diri, bukan untuk bersaing angka dengan istri, melainkan untuk membuktikan bahwa ia adalah rekan tim yang tangguh yang tidak akan membiarkan pasangannya berjuang sendirian.

Apa yang bisa kita pelajari dari sini? Kita sedang belajar untuk menjadi manusia yang lebih dewasa secara mental. Kita perlu membuang standar sukses kuno yang mengatakan laki-laki harus selalu di atas dalam segala hal. Menjadi laki-laki yang bangga dan mendukung kesuksesan istrinya justru menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang kuat.

Pada akhirnya, penghasilan istri yang lebih tinggi adalah berkah bagi masa depan bersama. Untuk sekolah anak yang lebih baik, untuk masa tua yang lebih tenang, atau sekadar untuk bisa bernapas lebih lega di akhir bulan. Mungkin sudah saatnya kita berhenti merasa bersaing dengan pasangan sendiri. Apakah kita sudah cukup berani untuk bahagia saat pasangan kita berhasil, tanpa merasa diri kita berkurang nilainya sebagai manusia? Wallahu a’lam..

 Penulis: Muhammad Hanif H. (Penghulu/Kepala KUA Mentok)

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Lebih dari Sekadar Legalitas, Mengapa Pernikahan Harus Dicatatkan Secara Resmi dan Melalui Prosedur yang Benar

4 Februari 2026 - 08:30 WIB

Transmisi Intelektual dan Spiritual: Esensi Majelis Ilmu dalam Maqolah Ketiga Nashaihul ‘Ibad

3 Februari 2026 - 10:57 WIB

WALI NIKAH DALAM HUKUM POSITIF DAN MAZHAB HUKUM ISLAM

2 Februari 2026 - 11:04 WIB

Kesakralan Ijab Kabul Dalam Pernikahan

2 Februari 2026 - 10:49 WIB

Gengsi Resepsi Nikah dan Beban Pasangan Muda

2 Februari 2026 - 09:21 WIB

WALI NIKAH V. CALL

1 Februari 2026 - 20:16 WIB

Trending di Karya Ilmiah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x