Menu

Mode Gelap

Hikmah · 11 Feb 2026 10:11 WIB ·

Penyesalan Sang ‘Abid Ketika Sakaratul Maut

Penulis: Khaerul Umam


 Penyesalan Sang ‘Abid Ketika Sakaratul Maut Perbesar

Oleh :

KHAERUL UMAM, S.Ag*)

(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)

 

 

ﺑِﺴْـــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ

أللهم صل على سَيْدِنَا محمد وعلى آل سَيْدِنَا محمد كما صليت على سَيْدِنَا إبراهيم  وعلى آل سَيْدِنَا إبراهيم وبارك على سَيْدِنَا محمد وعلى آل سَيْدِنَا محمد كما باركت على سَيْدِنَا إبراهيم وعلى آل سَيْدِنَا إبراهيم فِيْ الْعَالَمِيْنَ إنك حميد مجيد

۞ اَللهُمَّـ صَلِ عَلَی سَيْدِنَا مُحَمَّد وَعَلَی اَلِ سَيْدِنَا مُحَمَّد ﷺ ۞

 

       Dalam berbagai literatur Shirah Nabawiyah (sejarah kehidupan para nabi), banyak kisah baik dari para Nabi atau Rasul maupun dari para shahabat dan pengikutnya yang yang bisa dijadikan contoh atau teladan bagi kita baik itu dalam hal ibadah maupun akhlaknya. Di kalangan para shahabat Rasulullah SAW sendiri banyak para shahabatnya yang patut kita teladani, salah satunya adalah Shahabat yang bernama Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu (sebagian pendapat ada yang menyebutnya dengan Tsauban), Namanya tidak begitu popular sekaliber shahabat-shahabat Rasululah SAW yang lain, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab dan yang lainnya. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu memiliki kebiasaan unik, dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiap shalat berjamaah dan i’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah SAW sendiri, bahkan Rasulullah SAW menyebutnya dengan sebutan ‘Abid (ahli ibadah). Tetapi sang ‘abid tersebut diketahui menyesali semua amal kebaikan yang pernah ia lakukan ketika menjelang sakaratul mautnya. Mengapa demikian, apa yang sebenarnya terjadi?

       Suatu hari Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu tidak ikut berjama’ah shalat Shubuh di masjid bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya, Rasulullah SAW pun ketika tiba ke masjid heran tidak mendapati Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu di tempat duduknya biasanya, shalat Shubuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Shubuh kesiangan, Rasulullah SAW pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu belum datang juga.. Selesai shalat Shubuh, Rasulullah SAW pun bertanya, “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab. Rasul pun bertanya lagi, “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang shahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu.

       Rasulullah SAW sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap shahabatnya tersebut, meminta diantarkan ke rumah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuhnya dengan berjalan kaki. Akhirnya, Rasulullah SAW dan para shahabat sampai di rumah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu pada waktu shalat Dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).

     Sesampainya di depan rumah, Rasulullah SAW pun mengucap salam sambil mengetuk pintu. Kemudian, keluarlah seorang wanita sambil membalas salam serta membukakan pintu. Rasulullah SAW bertanya, “Benarkah ini rumah Sya’ban?”. Wanita itu pun menjawab, “Iya, saya istrinya.” Rasulullah SAW kembali bertanya, “Bisakah kami bertemu dengan Sya’ban? Tadi pagi beliau tidak hadir waktu jamaah shalat shubuh bersama kami.” Wanita itu menjawab sambil menitikkan air mata di pipinya. “Mohon maaf ya Rasulullah. Beliau sudah meninggal pagi tadi, tepat sebelum adzan shubuh”. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.

       Beberapa saat kemudian, wanita itu bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada engkau.” Rasulullah SAW pun menjawab, “Silakan apa yang hendak ingin kau tanyakan?” Wanita itu berkata, “Tadi sebelum ia meninggal, ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda.” Rasulullah SAW pun kembali bertanya, “Apa saja kalimat yang diucapkannya?”, “Dalam masing-masing teriakan ia berkata, ‘Aduh, mengapa tidak lebih jauh? Aduh, mengapa tidak yang baru? Aduh, mengapa tidak semuanya?”

       Rasulullah SAW kemudian memberikan penjelasan dengan amat rinci. Ketika menjelang sakaratul maut, seluruh amal perbuatan yang telah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu lakukan ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Semua peristiwa yang disaksikan oleh Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu, tidak dapat dilihat oleh orang lain. Di samping amal perbuatannya, Allah SWT juga memperlihatkan ganjaran atau pahala yang Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu terima karena mengerjakan amal atau perbuatan baik tersebut.

      Teriakan pertama, “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?” Dalam penayangan itu, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu menyaksikan suatu amal yang biasa ia lakukan setiap hari berupa perjalanannya pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat lima waktu berjamaah. Dari perjalanan yang amat panjang itu, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu diperlihatkan ganjaran yang ia peroleh dari setiap langkah kakinya. Saat ia berteriak itulah, timbul penyesalan dalam diri Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu. Andaikan jarak rumahnya dengan masjid lebih jauh dan jauh lagi, tentu pahala yang ia peroleh semakin banyak dan berlipat-lipat.

       Teriakan kedua, “Aduh, mengapa tidak yang baru?” Saat itu musim dingin, angin menghembuskan hawa dingin. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu yang hendak pergi ke masjid pun kembali ke dalam rumah dan mengambil baju untuk outer. Sya’ban sengaja mengenakan baju yang baru di dalam sedangkan baju yang jelek di luar. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu sengaja melakukannya karena nanti jika terkena debu atau kotoran di jalan hanya terkena di baju yang luar, sedangkan baju yang dalam masih bersih dan dapat digunakan untuk shalat berjamaah setelah menanggalkan baju yang luar. Di tengah perjalanan, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu menemukan. seseorang yang kedinginan. Tanpa ragu, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu segera menanggalkan bajunya yang luar lalu menyelimuti orang itu sambil memapahnya menuju masjid. Orang itu selamat dari kedinginan dan dapat melaksanakan shalat berjamaah. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu melihat ganjaran yang ia terima sebagai balasan untuknya yang telah memakaikan baju yang jelek kepada orang itu. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu pun menyesal, seandainya ia memakaikan bajunya yang baru,pastilah ganjaran yang ia terima jauh lebih banyak lagi.

       Teriakan ketiga, “Aduh, mengapa tidak semua?” Suatu pagi, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu hendak sarapan dengan sebuah roti dan segelas susu. Roti itu dikonsumsi dengan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam susu hangat sebelum disantap. Sebelum memulai sarapan, datanglah pengemis di depan pintu rumah Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu sambil meminta makan. Pengemis itu mengaku sudah tiga hari tidak makan sama sekali. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu pun merasa iba. la pun membagi rotinya menjadi dua bagian sama besar dan juga membagi susu ke dalam dua gelas yang sama banyak. Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu pun diperlihatkan ganjaran yang ia terima dari memberikan sebagian roti dan separuh susu yang hendak ia makan untuk sarapan. Andaikan ia memberikan semuanya, tentu, pahalanya jauh lebih besar lagi. Masya Allah, Sya’ban Radhiyallahu ‘Anhu bukan menyesali dosa, melainkan menyesal karena merasa tidak optimal saat melaksanakan ibadah dan amal-amal kebaikan lainnya.

      Sesungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan. Mari, kita syukuri nikmat sehat dan panjang umur ini dengan terus memaksimalkan sekuat tenaga untuk beribadah dan meningkatkan amaliyah kebaikan kita sebelum ajal menjemput kita.

 

 

———

**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan                pemerhati sosial keagamaan.

 

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 5 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

3 Sikap Ketika Menyambut Ramadhan

11 Februari 2026 - 10:25 WIB

Esensi Bekal Amal dalam Maqolah Keempat Nashaihul ‘Ibad

4 Februari 2026 - 23:11 WIB

Suami Minder Gaji Istri Lebih Besar? Membedah Ego Laki-laki di Meja Makan

4 Februari 2026 - 10:00 WIB

Transmisi Intelektual dan Spiritual: Esensi Majelis Ilmu dalam Maqolah Ketiga Nashaihul ‘Ibad

3 Februari 2026 - 10:57 WIB

Keseimbangan Transendental dan Humanitas: Bedah Maqolah Kedua dalam Nashaihul ‘Ibad

1 Februari 2026 - 10:43 WIB

Integrasi Kesalehan Ritual dan Sosial: Telaah Maqolah Pertama dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad

31 Januari 2026 - 11:29 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x