Menikah bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga dua latar belakang, kebiasaan, emosi, dan cara berpikir yang berbeda. Banyak pasangan fokus pada kesiapan finansial dan acara pernikahan, tetapi lupa bahwa kesiapan psikologis justru menjadi penentu utama keberlangsungan rumah tangga.
Salah satu aspek terpenting dari kesiapan psikologis adalah kemampuan mengelola konflik. Dalam hal ini penulis bukan ahli psikologi, tetapi apa yang penulis jabarkan selnjuatnya merupakan hasil bacaan penulis dari karya-karya John. M. Gottman (seorang psikolog pakar pernikahan).
1. Pahami: Konflik Itu Pasti, Bukan Tanda Gagal
Kesalahan paling umum sebelum menikah adalah keyakinan bahwa:
“Kalau sudah cocok, nanti jarang bertengkar.”
Faktanya dalam perniakahn itu konflik pasti terjadi, rumah tangga tanpa adalah hal yang tidak realistis. Bedanya antara pasangan sehat dan tidak sehat bukan ada atau tidaknya konflik, tapi bagaimana cara mereka mengelola ‘konflik’ tersebut.
Konflik adalah sinyal adanya perbedaan, bukan ancaman.
2. Kenali Pola Emosi Diri Sendiri
Sebelum mengelola konflik dengan pasangan, seseorang perlu mengenal dirinya sendiri:
- Apakah saya tipe diam & memendam?
- Apakah saya meledak-ledak saat emosi?
- Apakah saya cenderung menghindar saat masalah muncul?
Latihan sederhana:
- Ingat konflik terakhir dengan orang terdekat
- Evaluasi: apa pemicu, apa reaksi saya, apa dampaknya
Kesadaran ini penting agar konflik tidak berubah menjadi luka berkepanjangan.
3. Belajar Komunikasi Asertif, Bukan Agresif
Komunikasi agresif:
- Menyalahkan, menghakimi, merendahkan
Selalu menggunakan kata, “kamu, kamu, kamu”
Komunikasi asertif:
- Jujur, jelas, tetap menghargai pasangan
Contoh perbandingan:
Instead of “Kamu selalu egois!”
Better: “Aku merasa tidak didengarkan saat kamu begitu.”
Perubahan kecil dalam cara berbicara bisa menurunkan eskalasi konflik secara drastis.
Rumah tangga yang kuat bukan tanpa kesalahan, tapi cepat pulih setelah konflik. Manajemen konflik merupakan salah satu kunci bagaimana rumah tangga bisa bertahan kuat.
Dengan memahami konflik sebagai bagian yang natural dari pernikahan, pasangan suami istri akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh dalam membangun rumah tangga yang sehat, dewasa, dan penuh makna.
Referensi:
-The Seven Principles for Making Marriage Work
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. New York: Crown Publishers.
-Eight Dates: Essential Conversations for a Lifetime of Love
Gottman, J. M., Gottman, J. S., Abrams, D., & Abrams, R. (2019). Eight dates: Essential conversations for a lifetime of love. New York: Workman Publishing Company.








