SEPERTI NYONYA BESAR
Pak mamad adalah seorang tukang becak, tiap hari mangkal di perempatan pasar di dekat pasar di kampungnya. Para tetangga dan orang yang mengenalnya memanggilnya “abang becak” panggilan ini terkenal setelah ia mulai menggeluti profesinya sebagai tukang becak. Tak menentu hasil dari becaknya dalam sehari kadang banyak bisa untuk menyimpan untuk dimasukkan celengan bambu di rumahnya dan kadang pendapatan hari kemarin dipakai lagi untuk belanja hari ini. Istrinya bernama dewi seorang ibu rumah tangga.
Para tetangga memanggilnya dengan bu dewi mamad, mungkin banyak dewi di lingkungan mereka maka ditambah di belakang namanya dengan nama suaminya supaya orang orang tidak bertanya lagi “dewi yang mana?”. Bu dewi bekerja serabutan dari mencuci dan bersih bersih di rumah tetangganya siapapun yang membutuhkan jasanya ia siap membantu. Pak mamat dengan bu dewi menikmati kehidupan rumah tangga dengan bersahaja.
Pagi itu harinya cerah pak mamad pun mulai berangkat menarik becak, dengan semangat ia memutar becak nya yang terparkir bila sore sampai pagi di samping rumahnya yang terbuat dari bilik bambu dan masih beralaskan tanah yang agak kelihatan kontras dengan rumah rumah disekitarnya. Diambilnya topi rimba warna hitam yang sudah hampir warna coklat itu ditaruhnya di atas kepalanya , ia pun mendorong becaknya sampai jalan desa di depan rumahnya. Tetangga yang melihat pak mamad yang berangkat pagi itu dengan basa basi menyapanya “ berangkat pak mamad “, berangkat pakde , berangkat !” ada banyak kata kata kosong yang datang ke pak mamad kala ia mau berangkat cari maisyah buat keluarganya.
Hari menjelang siang pak mamad belum juga mendapatkan penumpang, ia mulai resah belum ada yang bisa dibawa pulang” katanya dalam hati. Botol sprite yang berisi air rebusan istrinya out pun tinggal separoh, matanya selalu menatap orang orang yang lalu lalang di sekitar becaknya dengan harapan jadi penumpangnya, dipandangnya jam tangan karet warna hitam yang melingkar di pergelangannya jarum panjang menunjuk ke arah angka enam dan jarum pendek hampir sampai ke angka dua belas, sesekali terbit di hatinya berbisik “ mungkin rezekiku hari ini cuma segini dan cuma begini”.
Jarum jam tangannya tidak mau berhenti ia terus berjalan di garis edarnya mengelilingi angka satu sampai angka dua belas. Hampir dua jarum tangannya membentuk sudut sembilan puluh derajat. Belum juga ada yang mau jadi penumpangnya. Tanpa pikir panjang pak mamat mengayuh becaknya ke arah masjid yang tidak jauh dari tempat mangkalnya. Sampai di halaman masjid di parkirnya becak di bawah kayu di sudut kanan halaman masjid, dibukanya bagasi becaknya diambilnya kain sarung yang terus tersedia di bawah jok becaknya. Ia berjalan ke arah toilet dan tempat wudhu’ .
Setelah selesai bersuci dan berwudhu ia ke masjid dan adzan pun berkumandang dalam hati ia berencana setelah sholat ia pulang ke rumah dan makan siang karena perutnya pun sudah menuntut haknya. Setelah selesai azan lohor warga pun berjamaah di masjid tersebut pak mamad salah satu jamaahnya. Selesai sholat ia masih duduk berdoa dan sholat ba’diyah sebagaimana kebiasaan yang ia lakukan selama ini.
Kembali pak mamad mengayuh becaknya ke rumahnya, sampai di depan rumahnya ia kaget mendengar panggilan dari rumah pak Heri, tetangganya yang akan mengadakan acara hajatan sunat anaknya dua hari kedepan, “bang becak” suara itu ia sangat kenal, ia pun menoleh, ia melihat lambaian tangan dari rumah tetangganya tersebut, ia pun segera membelokkan becaknya ke arah lambaian tangan tersebut,
“ bu susi.. “ sapanya “ kenapa bu” sambungnya
“bang.. antar saya ke pasar, saya mau belanja, “ kata bu susi
“Sekarang ya bu” kata pak mamad setengah bertanya
“ ya sekaranglah bang….. “ jawab bu susi
“ ibu dah sholat?” tanya tukang becak tersebut
“oiya saya sholat dulu deh bang…”
“ nah biar saya makan dulu”
“Oke bang… seperempat jam lagi sya tunggu disini ya… “ kata bu susi dengan suara agak keras dengan gaya nyonya besar, ibu ibu yang ada di sekeliling mereka tersenyum dan tertawa kecil melihat senda gurau suami istri ini.
“ siap nyonya besar” jawab pak mamad
Seperempat jam kemudian pak mamat sudah siap di depan rumah tetangganya yang mau buat acara hajatan tersebut, “ bang becak……” teriak bu susi dari arah rumah pak mamad “siap nyonya….” balas pak mamad
“ kok nunggu di sana aku kan disini, disana rumah orang lain “ kata bu susi
Di sela kayuhan becak pak mamad, “mas…. “ omongan bu susi terdengar di sela sela suara becak pak mamad yang berbunyi nyit…. nyit….saat di gayuh karena kurang di kasih oli atau minyak pelumas atau semacamnya.
“nanti ditunggu sekalian ya… sampai saya selesai belanja, kata bu susi “ tapi nanti pulangnya ke rumah bu heri “ sambungnya “ jangan ke rumah bu dewi, nanti dikira belanjaannya di bawa ke rumah bu dewi mentang mentang bu dewi yang belanja “ tutupnya
Siap bu dewi “ jawab pak mamad.
Keduanya pun saling tatap dan saling senyum lebar senyum bersahaja, senyum bahagia senyum sakinah. Suami istri itu pun membelanjakan keperluan tetangganya yang akan menggelar hajatan dua hari kedepan.
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri
Hanya alang alang pagar rumah kita
Tanya anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita








