KELUARGA HARMONIS
(Samakan Cara Pandang)
OLEH: SYAFRAN LUBIS
Keharmonisan dalam rumah tangga adalah pondasi utama dalam membangun suasana yang nyaman untuk tinggal, untuk tempat berbagi keluh-kesah, serta berbahagia bersama. Tetapi banyak dari kita yang kehilangan itu semua. Keharmonisan dalam keluarga, bukanlah hal yang dapat terwujud oleh salah satu atau beberapa anggotanya saja, tetapi harus diwujudkan oleh seluruh anggota keluarga.
Mental yang baik antara suami istri sangat berpengaruh pada keluarga, terutama saat mereka masih baru baru menjalin rumah tangga. Awal awal mereka membangun rumah tangga, mereka tengah disibukkan untuk mencari jati dirinya. Dengan psikologi yang baik, tentu akan menuntun mereka dalam mencari jati diri masing masin yang lebih diharapkan. Dengan ada interaksi yang terjalin antar suami istri dapat menciptakan keharmonisan tersebut. Sehingga tidak tercipta jarak yang bisa menjauhkan hubungan antara suami istri. Agar keluarga yang rukun, bahagia, dan harmonis dapat dicapai dengan salah satunya .
Samakan Cara Pandang.
Menyusun visi dan misi pernikahan adalah langkah krusial untuk menyamakan tujuan, nilai, dan arah rumah tangga bersama pasangan. Visi mencerminkan impian jangka panjang, sementara misi adalah langkah konkret untuk mencapainya. Proses ini melibatkan komunikasi terbuka, diskusi (ngobrol), serta penyusunan rencana aksi dari tujuan bersama. Visi misi pernikahan bukan hanya mengatur tentang hal hal besar, tapi juga membangun fondasi yang kuat untuk kehidupan bersama yang penuh cinta dan tujuan.
Visi dalam keluarga sangatlah penting dalam kehidupan pernikahan. Saat menikah, kita dan pasangan sudah memiliki satu set standar nilai dan harapan berdasarkan pengalaman, cita-cita, kebiasaan, bahkan keinginan. Kalau berbagai standar nilai dan harapan tersebut tidak bentrok alias sejalan satu sama lain, tak akan sulit untuk membentuk visi hubungan dengannya. Namun, ketika standar dan nilai kamu dan pasangan saling bentrok, kemungkinan besar akan sering terjadi gesekan atau perselisihan. Besar atau kecilnya perselisihan, tentu akan mempengaruhi kondisi mental kita dan pasangan dalam menjalani pernikahan.
Oleh karena itu, suami istri perlu menyamakan visi jika terjadi perbedaan standar nilai dan harapan. Langkah pertama yang perlu diambil adalah dengan membuat vision board. Papan visi ini sebuah alat yang digunakan sebagai wadah untuk menampung dan merangkum pemikiran antara suami istri. Tidak mesti papan visi, ia bisa berupa apapun seperti kertas gambar atau notebook untuk menuliskan berbagai pemikiran antara suami istri. Dalam papan visi ini, baik suami maupun istri mengisinya dengan berbagai hal yang penting untuk dijaga atau dijalankan sebagai standar nilai bersama. Mereka juga perlu membahas hal-hal yang lebih berat untuk dibicarakan agar tak menjadi bom waktu.
Konflik seringkali terjadi karena adanya perbedaan cara pandang, perbedaan pendapat atau perbedaan tujuan dari masing-masing suami istri. Perbedaan ini jika tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan perselisihan antara suami dan istri. Oleh karena itu, sebaiknya suami istri mencoba untuk menyamakan visi terlebih dahulu. Setiap hubungan pernikahan pasti akan mengalami masalah, salah satunya adalah perbedaan pendapat.
Namun, pasangan suami istri harus bisa menghadapi permasalahan dalam rumah tangganya sendiri. Dengan menyamakan cara pandang salah satunya dengan berusaha menyamakan visi, pasangan suami istri bisa mengetahui apa tujuan di balik sikap pasangan. Dengan begitu, mereka bisa saling memahami dan mendukung sikap satu sama lain, selama tujuan yang dimaksud memang untuk kebaikan bersama.
Hal-hal apa yang dianggap mengganggu dari kebiasaan atau cara berpikir pasangan dan harapan untuk dilakukan penyesuaian. Hal ini berlaku dua arah. Perspektif keluarga menurut pendapat pribadi dan harapan masa depan. Berapa jumlah anak yang diinginkan, menyekolahkan anak di sekolah mana, membeli rumah atau tempat tinggal lainnya, di kota atau pinggiran kota, dan lain sebagainya.
Siapa yang mengatur keuangan keluarga, apakah sendiri sendiri atau perlu bersama sama (joint account), berapa persen dari penghasilan yang dipergunakan untuk pengeluaran keluarga, dan seterusnya. Pengasuhan anak seperti apa, dan pendisiplinan seperti apa yang sesuai untuk keluarga. Pembicaraan ini penting dilakukan dalam rumah tangga , tetapi banyak pasangan yang luput melakukannya.
Sebelum jauh jauh melangkah untuk pasangan baru maka tidak ada kata terlambat untuk menyamakan visi dengan pasangan. Suami istri harus membuka diri dan tidak mendahulukan ego karena pernikahan adalah sesuatu yang dijalankan bersama-sama. Kalau pun sampai terjadi ketidaksepakatan, suami istri dapat membicarakannya kembali, mana yang perlu dihapus dan mana yang tetap dipertahankan. (Wallahu A’lam)








