Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Pengajian rutin Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Atu Lintang yang dipadukan dengan peringatan Tahun Baru Islam 1448 H menjadi momentum penting bagi umat untuk tidak hanya memperkuat aspek spiritual, tetapi juga merawat ukhuwah dan persatuan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baitussalam Kampung Atu Lintang pada Senin, 22 Juni 2026 (7 Muharram 1448 H) tersebut berjalan khidmat dan penuh kebersamaan. Ratusan jamaah, khususnya kaum ibu, memenuhi masjid sejak pagi hari. Kehadiran unsur Forkopimcam, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur pemerintahan menunjukkan bahwa pengajian bukan sekadar kegiatan ritual, tetapi juga ruang perjumpaan sosial yang memperkuat ikatan antar elemen masyarakat.
Hadirnya penceramah Dr. Tgk. Irwansyah Al-Waqy, M.Pd. (Tgk. TIR) memberikan warna tersendiri dalam penyampaian pesan-pesan keislaman yang membumi dan mudah diterima jamaah. Dalam suasana yang hangat, nilai-nilai agama disampaikan tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang menyentuh realitas keseharian umat.
Dalam kesempatan tersebut, penulis menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum muhasabah dan penguatan persatuan umat. Hal ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang dibacakan pada pembukaan acara, yakni Surat Ali Imran ayat 102–103, yang menegaskan perintah bertakwa kepada Allah SWT dan larangan berpecah belah.
Pesan ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi pada kokohnya persatuan dan keteguhan dalam berpegang pada nilai-nilai agama. Dalam konteks kehidupan sosial saat ini, persatuan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar, terlebih di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Pengajian BKMT juga memperlihatkan peran strategis kaum ibu sebagai pilar pendidikan pertama dalam keluarga. Dari majelis taklim inilah nilai-nilai keagamaan, akhlak, dan kebersamaan ditanamkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Apresiasi yang disampaikan oleh berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah dan anggota legislatif, semakin menegaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini memiliki dampak sosial yang luas. Ia tidak hanya membina spiritualitas, tetapi juga memperkuat modal sosial masyarakat dalam bentuk solidaritas dan kepedulian.
Pengajian BKMT Atu Lintang bukan sekadar agenda rutin bulanan, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga keseimbangan antara ibadah, ilmu, dan persatuan umat. Di tengah tantangan zaman, majelis taklim tetap menjadi ruang yang menyejukkan, mempersatukan, dan menguatkan langkah umat menuju kehidupan yang lebih baik.
Atu Lintang, 22 Juni 2026








