Menu

Mode Gelap

Hikmah · 5 Apr 2026 21:02 WIB ·

ANAK PUNK

Penulis: syafran lubis


 ANAK PUNK Perbesar

ANAK PUNK

Mentari siang itu tidak begitu cerah, langit diatas sana di selimuti awan, bapak tua itu datang ke KUA Bandar Sribhawono mendaftarkan anaknya yang yang akan menikah. Saat ditanya, anaknya kemana jawabnya “belum disini masih di perjalanan”. Akhirnya di daftarkan lah pernikahan Dewi Septina dan Rio Saifudin. Yang akan menikah bulan depan  tahun ini

Pada hari yang ditentukan pak penghulu datang sebagai pemeriksa ke tempat pernikahan Dewi Septian dan Rio Saifudin, tidak ada tarup tidak ada janur hanya beberapa orang duduk duduk di depan rumah sambil menunggu pak penghulu datang, ada pak RT ada juga pak RW dan tetangga kiri kanan dari sohibul hajat. Di pojok paling kanan dari halaman rumahnya ada beberapa anak punk dan motor vespa yang dimodifikasi dengan modif yang tidak beraturan dengan standar modifikasi, rodanya banyak entah yang mana yang sampai ke tanah, di sana sini diikat dengan tali bukan dengan baut, plastik bekas dimana mana sehingga body vespanya ditutupi oleh kantong kresek. Bukan hanya satu tapi ada dua motor vespa yang diparkir di sana.

Anak punk kerap menjadi sorotan di banyak kota di negara kita, begitu juga di rumah bapak wali ini tapi ia tak bisa berbuat apa apa. Anaknya salah satu termasuk dari anak punk, dan itu lah pengantin perempuan. Anak punk mencirikan diri mereka dengan gaya hidup yang unik, penampilan yang tak biasa, berbeda dengan orang kebanyakan dan kebiasaan hidup mereka di jalanan. Mereka menantang kerasnya hidup dijalanan, solidaritas mereka kata orang sangat kuat, di mana malam disitu mereka tidur dimana lapar di situ mereka survival, kadang kadang ngamen kadang kadang memberikan jasa apa saja kepada orang yang mau memakai jasa mereka.

Mereka adalah sekelompok anak muda yang mengidentifikasi diri dengan sebuah gerakan subkultur yang lahir di Eropa pada era 1970 an, sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni sosial, politik, dan ekonomi. Di Indonesia, berbeda karena telah mengalami mutasi dan pergeseran makna. Ia tidak lagi sekadar tentang musik keras dan pakaian sobek, tetapi juga tentang gaya hidup jalanan, kebebasan berekspresi, hingga survival menghadapi kerasnya realitas hidup.

Mereka biasanya hidup berkelompok, membentuk komunitas kecil yang erat, dengan prinsip solidaritas tinggi. Di balik kesan kumuh, mereka membangun kebersamaan yang erat dan penuh makna. Mereka mengenakan rambut mohawk, pakaian hitam, aksesoris rantai kawat, cincin paku, kalung besi dengan leontin gigi hewan, sepatu boot lusuh, dan atribut unik dari barang bekas.

Hari ini mereka ada di depan pak penghulu, masih sama dengan penampilan komunitasnya walaupun ia memakai kemeja putih tapi kesan punknya masih melekat. Pengantin perempuan juga sama masih menonjol kesan punknya. Teman temannya di luar musiknya rock and rock, hardcore, dan turunannya menjadi “soundtrack”. Tanda mereka mengkritik ketidakadilan sosial, kata orang…, pak penghulu tidak tahu apa mereka mengerti apa yang mereka dengar dari sound dengan music keras tersebut. Jarang mandi hingga pakaian mereka lusuh,hidup mereka bebas, anti mapan, dan itulah protes mereka terhadap sistem yang menindas, masih kata orang sich…

Walaupun ada diantara mereka yang tidak kriminal tapi anggapan  sebagai sampah masyarakat, perusuh, atau pemalas sangat melekat dengan mereka. Biasanya mereka berasal dari keluarga broken home, latar belakang ekonomi yang sulit, atau kegagalan dalam sistem pendidikan formal. Jalanan menjadi sekolah kehidupan bagi mereka. Dari sanalah mereka belajar arti loyalitas, solidaritas, dan bertahan hidup.

Hari ini pun dua orang dari mereka yang akan menjadi pengantin dan sudah di depan pak penghulu

“ harap dimaklumi ya pak “ kata walinya “ kemana mana sudah bersama sama terus saya sebagai orang tua kan tidak tenang “ lanjutnya “kemarin pas pulang saya bilang, kamu dinikahkan aja ya.. dengan teman dekatmu itu, iya mau itulah makanya saya daftarkan pernikahan nya ke KUA “, terangnya.

Setelah diam beberpa saat “Ini tidak ada acara apa apa pak, klo masih ada tugas lain dimulai aja “ kata pak wali

“ya udah pak sudah disiapkan tempat akad nikahnya “ kata pak penghulu

“Sudah pak, kita didalam aja ya …”

“Iya pak” jawab pak penghulu

Pak wali pun memanggil anak gadisnya dan calon suaminya,  kedua calon pengantin itu pun datang , pengantin laki laki tidak ada yang mendampingi dari keluarganya ia datang dan akan menikah sendiri, keluarganya entah tahu atau tidak atau masih ada atau tidak, yang datang dan ikut merayakannya adalah teman temannya satu komunitas.

Saat akad nikah kedua mempelai ini tidak ada yang susah mulai dari pengucapan syahadat dan pengucapan ijab qobulnya , informasi dari walinya anak gadisnya ini  dulu kecil nya sempat ngaji sore di masjid dekat rumahnya walaupun mungkin kelas iqro, “dia memang bukan anak pondok tapi dia sempat mengaji di masjid dan sudah sampai juz amma “ kata ayahnya

Maskawin yang diminta pengantin perempuan ini juga tidak mahal mahal, hanya uang seratus ribu rupiah , setelah disahkan saksi, pak penghulu menyerahkan buku nikahnya dan maharnya pun telah diserahkan pengantin laki laki ke istrinya, keduanya pun sah menjadi suami istri . pak penghulu pun pamit pulang.

Previous Post MENIKAHI SEPUPU
0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 4 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

MENIKAHI SEPUPU

3 April 2026 - 20:52 WIB

THREE IN ONE

2 April 2026 - 13:19 WIB

EKA DAN DEWI

1 April 2026 - 06:10 WIB

JANGAN SALAH PILIH PASANGAN (12) (Pasangan yang  Harus Dihindari)

31 Maret 2026 - 05:20 WIB

KURANG ASIN

29 Maret 2026 - 18:59 WIB

CINEMA XXI

28 Maret 2026 - 07:35 WIB

Trending di Novel
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x