Menu

Mode Gelap

Opini · 13 Mar 2026 22:44 WIB ·

APAKAH IMAN KITA MENJADI SEMPURNA SETELAH MENIKAH?

Penulis: Muchammad Ibnu Shiina Al Musyaawi, S.H


 APAKAH IMAN KITA MENJADI SEMPURNA SETELAH MENIKAH? Perbesar

Kita mungkin sering melihat isu di media sosial yang dipenuhi dengan perceraian, kdrt, perselingkuhan dimana mana, dan ‘ekspetasi’ kehidupan setelah menikah yang tidak seindah drama cina. Bahkan, media sosial dibanjiri dengan tagline “marry is scary” “menikah itu menakutkan” “fatherless” dan lain sebagainya (penulis sudah pernah mengulas ini di tulisan lain). Dilain sisi, kita sering mendengar hadis Nabi Muhammad bahwa “Barangsiapa yang menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya”.

Barangkali dari kita ‘mungkin’ sedikit mempertanyakan. Apakah benar iman kita akan sempurna jika kita menikah?. Atau, mungkin pertanyaan yang lebih ‘ekstrim’ lagi adalah “Apakah pernyataan tersebut tidak ‘relate’ (baca: relevan) di kondisi saat ini?”

Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengajak pembaca untuk merenungi kembali makna pernikahan. Mungkin bagi yang ingin menikah, tulisan ini bisa menjadi renungan. Bahkan, bagi yang meragukan pernikahan, tulisan ini mungkin bisa menjadi bahan diskusi.

IMAN DAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

Iman merupakan sebuah keyakinan dengan hati dan dibenarkan dalam bentuk perilaku bahwa semua ajaran agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah sesuatu yang benar. Membahas keimanan tidak berlaku hanya dalam ranah keyakinan secara semu saja, tetapi juga keyakinan dalam ranah praktik.

Uniknya, frasa ‘keyakinan’ ini juga ditemukan dalam pernikahan. Pernikahan juga dibentuk dari sebuah ‘keyakinan’. Pernikahan terjadi karena dua orang sudah yakin untuk membangun rumah tangga. Pernikahan juga bertahan karena ‘saling percaya’ dengan pasangan.

Kesamaan ini mungkin membuat Nabi Muhammad mengisyaratkan bahwa menikah menyempurnakan agama seseorang. Karena agama dibangun dengan ranah yang sama dengan pernikahan. Tetapi, kenapa tetap terjadi perselingkuhan, kehidupan yang buruk setelah menikah, kdrt, dan lain sebagainya?. Apakah ada yang salah dengan iman nya? Atau ada faktor lain?

FATAMORGANA KEHIDUPAN PERNIKAHAN YANG BAHAGIA

Terjadinya fenomena tersebut tidak lepas dari makna pernikahan yang ‘terkadang’ tidak dijelaskan secara utuh. Glorifikasi (melebih-lebihkan) arti kebagiaan dalam pernikahan kadang tidak berimbang dengan apa saja yang diperlukan ketika kita sudah berkomitmen untuk menikah.

Salah satunya masalah “sempurnanya agama setelah menikah”. Tidak banyak yang mencoba mengulas apa arti sempurnanya agama setelah menikah secara berimbang. Seperti “apakah otomatis sempurna iman seseorang ketika sudah menikah?”. Kemudian, apakah bisa menjamin bahwa sempurna-nya agama setelah menikah membawa kebahagiaan?.

Fatamorgana seperti ini harus diluruskan. Ketika kita sudah menikah, tidak otomatis keimanan kita “sempurna”. Bahkan, tidak otomatis kesempurnaan itu membawa kita dalam jalan kebahagiaan.

Ini mengingatkan penulis ketika masih mengaji dengan kyai penulis (Allah yarham KH Amiruddin Mu’in). Beliau menjelaskan bahwa niat ibadah itu tidaklah mudah (salah satunya menikah). Karena sejatinya ibadah itu seperti naik kapal. Ada kalanya ketika beribadah ada ombak ujian yang besar, kadang ada juga ada masa masa bahagia karena tenangnya ombak.

Ini mirip dengan pesan Nabi kepada sahabat Abi Dzar Al-Ghifari untuk selalu memperbaharui niat (baca: tekad), karena sesungguhnya beribadah itu seperti naik kapal ditengah ombak kejam yang bisa saja menenggelamkan kapal. Sama halnya dengan menikah, ada kalanya bahagia dan ada masanya juga ketika semua terasa begitu berat.

Oleh karenanya, Apakah kita selamanya tidak bisa sempurna agamanya dengan menikah?

SEMPURNA YANG “BERTUMBUH”

Untuk menjawab tersebut, setidaknya ada dua hal penting yang harus dipahami

Pertama, kapal pernikahan tidak dinahkodai oleh satu orang saja. Tapi, kapal pernikahan adalah milik berdua yang harus diputuskan arahnya berdua. Suami bukan kapten kapal sempurna yang tau badai apa yang akan dihadapi di depan. Istri juga bukan cuma “penumpang” yang cuma bisa duduk tenang dan taklid buta (baca: pasrah brutal) sepenuhnya kepada kapten kapal.

Artinya, relasi suami-istri harus bisa saling mengingatkan, harus ada saling percaya untuk tumbuh bersama, saling menguatkan dan saling membantu ketika ada kesusahan. Ini yang kadang kita lupakan, kita lupa bahwa suami bukan manusia sempurna, demikian juga istri bukan hakim yang selalu benar. Keduanya harus mau untuk tumbuh bersama, belajar bersama.

Kedua, kesalahan yang sering adalah ekspektasi menikah dapat menyempurnakan diri kita baik secara iman dan ketakwaan. Salahnya sebagian dari kita adalah tidak intropeksi atau memperbaiki diri ketika sebelum menikah. Kadang sebagian kita masih membawa ‘trauma’ sebelum pernikahan. Atau kadang kita menikah karena berekspektasi untuk bahagia lahir batin dan lupa untuk mempersiapkan diri.

Sempurna agama dalam pernikahan tidak bisa tercapai kecuali ketika kita sudah “selesai dengan diri sendiri” atau minimal “merenungi” perilaku dan kondisi psikis kita sebelum menikah. Kadang kita lupa membicarakan latar belakang, trauma apa yang dibawa, dan pandangan kita kepada calon pasangan kita (atau kalau tidak bisa, minimal pada saat awal pernikahan). Atau, kadang lupa untuk memperbaiki diri yang membuat diri kita tidak selesai dengan diri sendiri. Nantinya, justru membawa beban kepada pasangan sehidup semati.

Kedua hal tersebut sesuai dengan hadis nabi, bahwa menikah itu untuk saling menyempurnakan. Sekali lagi, nabi menggunakan frasa “saling”. Artinya, harus ada dua individu yang mau tumbuh bersama, harus ada individu yang sebelumnya sudah “berusaha” untuk memantapkan dirinya, harus ada dua  individu yang sebelumnya sudah selesai dengan dirinya.

TITIK TEMU

Akhirnya, menikah bukan hanya soal menghindari zina, mencari partner atau teman hidup semata. Menikah bukan hanya menghindari hal-hal tersebut yang membuat iman kita menjadi ‘sempurna’. Tetapi, bagaimana kita menjadi dua individu yang saling tumbuh untuk saling menyempurnakan. Menikah juga soal apakah kita sudah selesai dengan diri kita sendiri. Tanpanya, sepertinya kedepan masih banyak tagline “perselingkuhan” “kdrt “marry is scary” dan fatherless” memenuhi media sosial kita.

5 3 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 97 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

MAHRAM ADAT VERSUS MAHRAM SYARIAT

13 Maret 2026 - 19:00 WIB

JANGAN SALAH PILIH PASANGAN (9) (Pasangan yang  Harus Dihindari)

12 Maret 2026 - 09:38 WIB

AMBANG PINTU

11 Maret 2026 - 13:21 WIB

JANGAN SALAH PILIH PASANGAN (8) (Pasangan yang  Harus Dihindari)

9 Maret 2026 - 12:44 WIB

Kemunafikan dalam Rumah Tangga

9 Maret 2026 - 12:06 WIB

Teori Akad Nikah: Kontrak, Perjanjian, dan Perikatan dalam Perspektif Lintas Mazhab

7 Maret 2026 - 12:04 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x