Menu

Mode Gelap

Opini · 3 Des 2025 08:25 WIB ·

Batasan Wanita dalam Rumah Tangga dan Kewajiban yang Perlu Dijaga

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Batasan Wanita dalam Rumah Tangga dan Kewajiban yang Perlu Dijaga Perbesar

Rumah tangga adalah tempat pulang paling indah bagi seorang suami dan istri. Di dalamnya ada cinta, amanah, kerja sama, dan doa yang saling menguatkan. Dan di balik kokohnya sebuah rumah tangga, sering kali terdapat sosok wanita hebat yang menjadi cahaya bagi keluarga, bukan sekadar pelengkap, tetapi sekaligus sebagai penopang peradaban kecil bernama keluarga. Dalam kehidupan pernikahan, seorang wanita memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun, kemuliaan itu akan lebih terjaga jika ia memahami batasan dan kewajiban yang menjadi bagian dari peran sucinya sebagai istri.

Batasan dalam rumah tangga bukan berarti membatasi ruang gerak wanita atau mengekang kebebasannya. Justru batasan itu hadir untuk menjaga kehormatan, memperindah hubungan, serta mencegah hal-hal yang dapat merusak ikatan. Kehormatan diri dan keluarga adalah salah satu hal utama yang perlu dijaga. Cara berpakaian, adab pergaulan, dan sikap sehari-hari ikut mencerminkan martabat keluarga. Bila seorang wanita terjaga kemuliaannya, maka akan terjaga pula kehormatan suaminya, anak-anaknya, dan nama baik rumah tangganya. Aib rumah tangga pun menjadi sesuatu yang harus dijaga. Tidak semua masalah perlu diceritakan keluar, apalagi di media sosial. Setiap rumah tangga pasti pernah diuji, tetapi penyelesaian terbaik lahir dari dua hati yang saling memperbaiki diri, bukan dari telinga publik yang hanya memberi komentar tanpa solusi. Membicarakan masalah rumah tangga sebaiknya hanya kepada orang yang tepat saja, seperti orang tua, tokoh agama, atau konselor profesional, sudah lebih dari cukup. Interaksi dengan lawan jenis juga perlu dijaga sewajarnya. Bukan berarti hidup harus tertutup dan tidak boleh berkomunikasi, tetapi tetap menjaga adab dan batasan. Tidak semua percakapan harus dilakukan, tidak semua perhatian harus diterima. Kehati-hatian bukan karena curiga, tetapi karena menjaga itu lebih indah daripada memperbaiki yang sudah rusak. Seorang istri juga dianjurkan untuk tidak mengizinkan seseorang masuk ke rumah tanpa izin suami. Rumah adalah wilayah privasi keluarga, dan menghormati pasangan dalam hal ini merupakan bentuk penghargaan, bukan penghambaan kepada suami.

Selain batasan, seorang wanita juga memiliki kewajiban mulia dalam rumah tangga. Di antaranya adalah ketaatan kepada suami dalam perkara yang ma’ruf. Selama bukan maksiat, memuliakan suami adalah ibadah yang besar pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad)

Begitu besar kemuliaan seorang istri hingga pintu surganya dibuka luas dari arah mana pun. Selain itu, seorang istri memegang peran besar sebagai penjaga suasana rumah. Wanita adalah manajer keluarga, bukan pelayan. Dialah yang menjadikan rumah terasa damai, hidup, dan penuh kehangatan. Mulai dari perhatian kecil, senyum ketika suami pulang, hingga kelembutan terhadap anak-anak, semua itu menjadi energi terbesar di dalam rumah. Wanita juga menjadi pendamping sejati dalam suka maupun duka. Saat suami di posisi paling kuat, istri adalah penyemangat; namun saat suami dalam kondisi paling lemah, istri adalah sandaran. Dan melalui tangannya pula lahir dan tumbuh generasi-generasi baru, anak-anak yang bukan hanya butuh tempat tinggal, tetapi contoh akhlak yang baik dan kasih sayang yang cukup. Dengan demikian, wanita sejatinya bukan hanya membangun keluarga, tetapi membangun masa depan. Namun satu hal yang perlu disadari, bahwa wanita hebat bukanlah wanita yang sempurna. Tidak ada istri tanpa salah, sama seperti tidak ada suami tanpa cela. Rumah tangga bisa saja diwarnai pertengkaran, perbedaan pendapat, dan air mata. Tapi selama keduanya ingin mempertahankan dan memperbaiki, selama masih ada cinta dan doa, rumah tangga akan tetap menjadi tempat pulang yang terindah.

Akhir,

Sebagai penutup, semoga doa ini menjadi penguat hati para pasangan yang ingin menjaga cintanya sampai akhir :

Ya Allah, jadikan rumah tangga kami penuh cinta, kedamaian, dan Ridha-Mu. Satukan hati kami dalam kebaikan, jauhkan kami dari perselisihan dan godaan yang memisahkan. Bimbing kami untuk saling mencintai, memuliakan, dan saling memahami. Karuniakan kepada kami keturunan yang saleh dan shalihah, penyejuk mata dan penerus kebaikan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Rumah tangga bukan soal siapa yang menang, siapa yang lebih benar, atau siapa yang berkuasa. Rumah tangga adalah tentang dua hati yang sama-sama ingin tetap bersama. Semoga setiap wanita menjadi cahaya dalam keluarganya, dan semoga setiap rumah tangga menjadi surga tempat kita pulang selamanya ❤️

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 2 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 116 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

WALI NIKAH DALAM HUKUM POSITIF DAN MAZHAB HUKUM ISLAM

2 Februari 2026 - 11:04 WIB

Kesakralan Ijab Kabul Dalam Pernikahan

2 Februari 2026 - 10:49 WIB

Gengsi Resepsi Nikah dan Beban Pasangan Muda

2 Februari 2026 - 09:21 WIB

WALI NIKAH V. CALL

1 Februari 2026 - 20:16 WIB

NTEGRASI MAQĀṢID AL-SHARĪ’AH DALAM FORMULASI PENCATATAN NIKAH: TRANSFORMASI ADMINISTRASI MENJADI SAKSI ADMINISTRATIF DI INDONESIA

29 Januari 2026 - 17:09 WIB

Mencintai Bayangan; Ketika Pernikahan Kalah oleh Algoritma TikTok

29 Januari 2026 - 09:44 WIB

Trending di Kolom
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x