Pernikahan bukanlah sekadar perayaan indah, tapi juga janji suci yang mengikat dua jiwa. Dalam gambar ini, kita bisa melihat momen akad nikah yang sakral, di mana dua keluarga bersatu dan dua hati berikrar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang, di mana cinta dan kasih sayang akan diuji dan diperkuat. Pernikahan yang langgeng dan penuh berkah dibangun di atas pondasi cinta yang tulus karena Allah SWT. Ketika suami istri saling mencintai karena-Nya, setiap interaksi mereka menjadi ladang pahala. Senyum, perhatian, bahkan pengorbanan kecil, semua bernilaikan ibadah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan (sakinah), kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah) adalah pilar-pilar utama dalam pernikahan. Mawaddah adalah cinta yang berlandaskan nafsu dan ketertarikan, sedangkan rahmah adalah cinta yang lebih dalam, penuh belas kasih, dan tetap ada meski mawaddah terkadang memudar.
Dalam rumah tangga, suami dan istri memiliki peran yang saling melengkapi. Keduanya adalah “pakaian” bagi satu sama lain, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ini berarti, suami dan istri harus saling menjaga aib, melindungi, dan menjadi penenang bagi pasangannya. Seperti pakaian yang melindungi tubuh, pasangan juga harus saling melindungi kehormatan dan kelemahan masing-masing.
Perjalanan rumah tangga pasti tidak bisa lepas dari tantangan dalam keluarga. Ada kalanya terjadi perselisihan atau ketidakcocokan. Namun, di sinilah letak ujian sejati. Bagaimana kita menyikapinya?
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي لله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ» أَوْ قَالَ: «غَيْرَهُ».
[صحيح] – [رواه مسلم] – [صحيح مسلم: 1469]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Janganlah seorang laki-laki mukmin membenci wanita mukminah! Jika ia tidak menyukai satu perangai wanita itu, tentunya ia menyukai perangainya yang lain.”
[Sahih] – [HR. Muslim] – [Sahih Muslim – 1469]
Hadis ini mengajarkan kita untuk tidak fokus pada keburukan pasangan, tetapi berlapang dada dan melihat kebaikan-kebaikannya. Ketika ada masalah, komunikasi yang baik, saling memaafkan, dan mencari solusi bersama adalah kuncinya. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Suami bertanggung jawab menafkahi dan membimbing keluarganya, sementara istri bertanggung jawab menjaga kehormatan dan mendidik anak-anak. Tapi, ini bukan tugas terpisah, melainkan kolaborasi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa baik suami maupun istri memiliki peran penting yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Mereka adalah tim yang harus saling mendukung untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Membangun rumah tangga yang bahagia butuh usaha dan komitmen seumur hidup. Jaga api cinta tetap menyala dengan memberikan perhatian kecil, menghargai, dan selalu mendoakan kebaikan untuk pasangan. Ingatlah, bahwa tujuan utama pernikahan adalah meraih ridha Allah dan membangun keluarga yang diridhai-Nya.
Semoga pasangan yang baru menikah dalam gambar ini dan juga semua pasangan di luar sana, senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Jadikan pernikahan sebagai jalan menuju surga, dan jadikan setiap interaksi sebagai ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT. Aamiin
- Muhamad Fathul Arifin – Penghulu KUA Kesugihan, Cilacap








