Saya masih mengingat pengalaman pada tahun 2014 ketika menonton film Her. Saat itu, kisah tentang seorang pria bernama Theodore yang menjalin hubungan emosional dengan sistem operasi berbasis kecerdasan buatan “Samantha” terasa seperti cerita fiksi yang jauh dari kenyataan. Hubungan dengan mesin tampak mustahil terjadi secara mendalam. Namun satu dekade kemudian, perkembangan teknologi menunjukkan arah yang berbeda. Muncul berbagai berita tentang Gen Z yang berbicara dengan AI setiap hari untuk berbagi cerita, keluh kesah, bahkan masalah pribadi. Realitas ini menunjukkan bahwa relasi manusia dan teknologi telah berubah secara signifikan.
Film Her sebenarnya menggambarkan persoalan kesepian manusia modern. Tokoh utama tidak jatuh cinta pada teknologi semata, tetapi pada rasa didengar dan dipahami. AI dalam film tersebut hadir sebagai “pendengar ideal”, selalu tersedia, responsif, dan tidak menghakimi. Gambaran ini kini semakin relevan. Di tengah dunia yang sangat terhubung secara digital, banyak anak muda tetap merasa kesepian. Dalam situasi seperti itu, AI menjadi ruang aman yang mudah diakses dan terasa personal.
Fenomena Gen Z yang lebih nyaman “curhat” kepada AI dapat dipahami sebagai gejala sosial dan psikologis. AI memberikan respons cepat dan cenderung menyenangkan. Ia tidak marah, tidak kecewa, dan tidak menuntut. Pola ini berbeda dengan hubungan antar manusia yang penuh dinamika. Dalam relasi nyata, selalu ada perbedaan pendapat, konflik, dan proses saling memahami. Jika seseorang terlalu terbiasa dengan interaksi yang serba nyaman dan tanpa risiko, maka ia bisa kehilangan kesiapan menghadapi kompleksitas hubungan yang sebenarnya.
Dalam konteks perkawinan, kondisi ini perlu mendapat perhatian. Perkawinan bukan hanya tentang kenyamanan emosional, tetapi tentang komitmen jangka panjang. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kewajiban, dan proses penyesuaian diri. Jika standar kenyamanan dibentuk oleh interaksi dengan AI yang selalu “ideal”, maka pasangan hidup bisa dianggap kurang memuaskan hanya karena bersikap manusiawi. Hal ini berpotensi memengaruhi ketahanan rumah tangga generasi mendatang.
Islam memandang perkawinan sebagai institusi yang memiliki makna spiritual. Dalam QS. Ar-Rum ayat 21 disebutkan bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenangan (sakinah), serta menghadirkan mawaddah dan rahmah. Ketenangan di sini bukan sekadar rasa nyaman sesaat, tetapi ketenteraman yang lahir dari kebersamaan, tanggung jawab, dan kasih sayang yang nyata. Mawaddah dan rahmah menuntut kehadiran dua manusia yang saling memberi dan menerima, bukan relasi satu arah seperti interaksi dengan mesin.
Selain itu, QS. An-Nisa ayat 21 menyebut perkawinan sebagai mitsaqan ghalizhan, yaitu perjanjian yang kuat. Artinya, perkawinan mengandung konsekuensi hukum dan moral, ada hak dan kewajiban, ada nafkah, ada tanggung jawab terhadap keluarga dan keturunan. Relasi dengan AI tidak memiliki dimensi tersebut. AI tidak memikul tanggung jawab dan tidak terikat komitmen. Karena itu, ia tidak dapat menggantikan peran pasangan hidup dalam makna yang sesungguhnya.
Fenomena meningkatnya curhat kepada AI juga menjadi tantangan bagi lembaga seperti Kantor Urusan Agama (KUA). Bimbingan perkawinan tidak cukup hanya membahas syarat dan rukun nikah, tetapi juga perlu menyentuh isu relasi di era digital. Generasi muda perlu dibekali pemahaman bahwa empati yang sejati berbeda dengan empati yang disimulasikan. Mereka perlu belajar bahwa konflik bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses pendewasaan dalam rumah tangga.
Pada akhirnya, teknologi bukan musuh. AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam banyak aspek kehidupan. Namun, ia tidak dapat menggantikan hubungan manusia yang dibangun atas dasar komitmen dan tanggung jawab. Tantangan kita hari ini adalah menjaga agar generasi muda tetap memahami makna perkawinan sebagai ikatan yang sakral dan kokoh. Peradaban yang berkelanjutan bertumpu pada keluarga yang kokoh, dan keluarga yang kokoh dibangun melalui komitmen manusiawi yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.








