Menu

Mode Gelap

Kolom · 24 Feb 2026 14:38 WIB ·

Dunia Itu Lahwun, Akhirat Itu Hayawan

Penulis: NUROHMAN AS-SYIRBONY


 Dunia Itu Lahwun, Akhirat Itu Hayawan Perbesar

Dunia Itu Lahwun, Akhirat Itu Hayawan[1]

Oleh Nurohman

Seringkali kita merasa bahwa hidup ini adalah segalanya. Kita mengejar pencapaian, menangisi kegagalan, dan terjebak dalam hiruk-pikuk rutinitas seolah-olah kita akan berada di sini selamanya. Namun, jika kita menyelami Surah Al-Ankabut ayat 64 :

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui”

maka kita akan menemukan sebuah perspektif yang menjernihkan pikiran tentang hakikat realitas yang kita jalani.

Al-Qur’an menggambarkan dunia dengan kata Lahwun—senda gurau atau sesuatu yang melalaikan. Dunia itu ibarat hiburan yang membuat kita lupa pada janji atau tugas penting. Ia menyita perhatian kita sedemikian rupa, padahal ia hanyalah permukaan yang tipis. Di sisi lain, dunia juga disebut La’ibun atau permainan. Seperti halnya permainan, ia memiliki aturan, pemenang, pecundang, dan yang terpenting: ia memiliki batas waktu.

Namun, kejutan bahasa yang sesungguhnya muncul saat Allah menggambarkan akhirat dengan istilah Al-Hayawan.

Banyak dari kita mungkin bertanya, mengapa menggunakan akar kata yang sama dengan “hewan”? Secara etimologi, Hayawan berasal dari kata Hayyah (hidup). Dalam bahasa Arab, struktur kata ini menunjukkan puncak dari sebuah sifat. Jika Hayat adalah hidup, maka Hayawan adalah “Puncak Kehidupan”. Sebuah kehidupan yang berdenyut sempurna, tanpa rasa kantuk, tanpa rasa lelah, dan tanpa bayang-bayang kematian.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini?

Memahami bahwa dunia adalah Lahwun dan akhirat adalah Hayawan bukan berarti kita harus berhenti bekerja atau menjadi pasif. Justru sebaliknya, ini adalah sebuah manajemen ekspektasi ilahi. Saat kita tahu dunia ini hanyalah “tempat bermain” yang sementara, kita tidak akan hancur saat kehilangan harta, dan tidak akan mabuk saat memegang tahta.

Kita menjadi sadar bahwa segala yang kita lakukan di dunia—yang bersifat senda gurau ini—hanyalah investasi untuk meraih Al-Hayawan, kehidupan yang sebenar-benarnya hidup. Kita bekerja di dunia, tapi hati kita tertambat pada keabadian.

Pada akhirnya, kutipan penutup ayat tersebut menjadi pengingat bagi kita semua: “Sekiranya mereka mengetahui”. Pengetahuan inilah yang membedakan antara mereka yang diperbudak oleh permainan, dengan mereka yang mengendalikan permainan untuk tujuan yang lebih besar.

 

[1] Mengisi waktu siang di sela-sela kerja di KUA Saketi Pandeglang terbesit menulis ketika bertadarus membaca QS. Al-Ankabut: 64

4 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 26 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Rekonstruksi Hakikat Puasa: Analisis Komprehensif Antara Kewajiban Syariat dan Fenomena Sosial Kontemporer

24 Februari 2026 - 12:13 WIB

Puasa dan Etos Kerja

21 Februari 2026 - 17:38 WIB

Suami Minder Gaji Istri Lebih Besar? Membedah Ego Laki-laki di Meja Makan

4 Februari 2026 - 10:00 WIB

Gengsi Resepsi Nikah dan Beban Pasangan Muda

2 Februari 2026 - 09:21 WIB

Mencintai Bayangan; Ketika Pernikahan Kalah oleh Algoritma TikTok

29 Januari 2026 - 09:44 WIB

Pernikahan: Sekolah Seumur Hidup Tanpa Ijazah

27 Januari 2026 - 14:45 WIB

Trending di Kolom
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x