Efektivitas Dakwah Melalui Peringatan Maulid Nabi di Aceh: Harmoni Tradisi, Spiritualitas, dan Identitas Budaya
Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd
Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah
Alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (2000)
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh adalah sebuah tradisi yang bukan sekadar perayaan keagamaan rutin, melainkan sebuah fenomena budaya dan spiritual yang mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Melalui berbagai amalan seperti salawat berjamaah, tausiah sirah nabawiyah, dan kenduri molod, masyarakat Aceh mengekspresikan kecintaan mendalam kepada Rasulullah SAW sekaligus menjaga identitas keislaman yang menyatu dengan adat budaya lokal.
Namun, dalam dinamika modernisasi dan perubahan sosial, pertanyaan yang tak kalah penting adalah: seberapa efektifkah dakwah yang disampaikan melalui peringatan Maulid ini dalam memperkuat pemahaman keagamaan dan membangun kesadaran spiritual?
*Tradisi Maulid, Mengikat Spiritual dan Budaya*
Aceh merayakan Maulid Nabi bukan hanya pada satu hari, melainkan selama tiga bulan berturut-turut yang dikenal sebagai Molod Tuha, Molod Tengoeh, dan Molod Akhe. Seluruh rangkaian acara ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, beribadah, dan saling mempererat tali silaturahmi.
Tradisi kenduri molod yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa, memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dapat berpadu harmonis dengan budaya lokal yang menekankan gotong royong dan kebersamaan.
Penggabungan ibadah dengan tradisi sosial ini sangat penting dalam konteks dakwah karena pesan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman kolektif yang memperkuat solidaritas dan rasa memiliki terhadap agama dan budaya.
Dengan demikian, Maulid di Aceh menjadi lebih dari sekadar peringatan, tetapi juga wahana membangun komunitas dan memperkokoh jati diri.
*Salawat, Inti Spiritualitas dan Kebersamaan*
Salah satu amalan utama dalam peringatan Maulid di Aceh adalah lantunan salawat berjamaah, yang menurut Wakil Pimpinan MPU Aceh Selatan, Ustaz H. Riza Nazlianto, Lc., MA sebagaimana dikutip Serambi (2/9/2025), mampu menumbuhkan kebersamaan dan menyatukan batin umat dalam kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Salawat yang dilantunkan dengan khusyuk bukan hanya bernilai pahala besar, tetapi juga dipercaya membawa keselamatan dan ketentraman hidup dunia-akhirat. Ustaz Riza menekankan pentingnya agar salawat tidak sekadar menjadi ritual mengeraskan suara atau lingiek dike yang berlebihan, melainkan sebuah penghayatan yang menyentuh makna batiniah .
Salawat ini menjadi denyut nadi spiritual yang menggerakkan semangat keagamaan masyarakat Aceh. Ketika ribuan orang bersama-sama melafalkan doa dan pujian untuk Nabi, rasa cinta dan rasa kebersamaan menguat, menjadikan peringatan Maulid sebagai momen transformatif yang mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam secara mendalam.
*Sirah Nabawiyah dan Tausiah, Membangun Pemahaman*
Selain salawat, tausiah sirah nabawiyah yang disampaikan dalam peringatan Maulid juga memegang peran penting. Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, perjuangannya dalam berdakwah, serta akhlak mulianya menjadi sumber inspirasi yang sangat berharga. Melalui sirah, masyarakat diajak tidak hanya mengenang, tetapi juga meneladani Rasulullah dalam keseharian.
Namun, efektivitas penyampaian tausiah sangat bergantung pada kualitas dai dan metode dakwah yang digunakan. Bila tausiah hanya disampaikan secara seremonial dan formal tanpa pendekatan yang menarik dan relevan, pesan dakwah berisiko menjadi sekadar rutinitas tanpa makna mendalam.
Oleh karena itu, upaya pembinaan dai yang mampu mengemas sirah secara kontekstual dan aplikatif sangat diperlukan agar nilai-nilai Islam yang disampaikan dapat menyentuh hati dan membimbing perilaku umat.
*Kenduri Molod, Solidaritas Sosial dan Identitas Budaya*
Kenduri Molod yang digelar dalam Maulid menjadi wujud nyata dakwah sosial yang mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan.
Dalam tradisi ini, seluruh warga gampong ikut serta berbagi makanan dan berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan. Ini menguatkan nilai Islam sebagai agama yang tidak hanya ritualistik, tapi juga sosial, menumbuhkan kepedulian dan rasa persaudaraan.
Tradisi ini juga memperkuat identitas masyarakat Aceh yang khas, di mana agama dan adat bersinergi dalam harmoni. Falsafah leluhur Aceh yang berbunyi “Hukom dengon adat lagee zat dengon sifeut”, hukum dengan adat dan hakikat dengan sifat, menjadi landasan penting dalam menjaga keseimbangan antara keislaman dan kebudayaan.
*Peran Ulama dan Generasi Muda dalam Menjaga Tradisi*
Salah satu kunci keberhasilan keberlangsungan Maulid di Aceh adalah peran ulama dan pimpinan dayah. Setiap tahun, para pimpinan dayah mengadakan pelatihan Dikee Molod bagi para santri yang kemudian dilaksanakan secara serentak di seluruh Aceh pada malam 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Rasulullah SAW.
Pelatihan ini mempersiapkan para santri untuk menjadi pewaris tradisi dengan pemahaman dan penghayatan yang mendalam, bukan sekadar meneruskan ritual secara mekanis.
Peran perangkat gampong juga sangat penting dalam mendorong generasi muda untuk aktif belajar dan mengikuti tradisi Maulid. Dalam menghadapi arus modernisasi yang kuat, generasi muda diimbau agar tidak melupakan akar budaya dan keislaman mereka.
Mereka didorong untuk mempelajari dan mempertahankan tradisi ini agar tetap relevan dan bermakna, sekaligus menjadi penyeimbang antara dinamika zaman dan nilai-nilai luhur leluhur.
*Tantangan dan Peluang dalam Dakwah Maulid*
Meski kaya akan nilai positif, tradisi Maulid juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah risiko tradisi yang berubah menjadi rutinitas tanpa makna mendalam.
Ketika peringatan hanya dilaksanakan sebagai formalitas tanpa pemahaman yang mendalam, maka pesan dakwah yang terkandung bisa hilang. Selain itu, potensi berlebihan dalam perayaan yang tidak sesuai syariat perlu diwaspadai agar tidak mengurangi nilai ibadah.
Oleh karena itu, pembaruan pendekatan dakwah sangat diperlukan. Penggunaan teknologi dan media sosial dapat membantu memperluas jangkauan dakwah dan menjadikan tradisi Maulid lebih menarik bagi generasi muda.
Pendekatan dakwah yang kontekstual dan kreatif akan membantu pesan keagamaan lebih mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi di Aceh merupakan tradisi yang kaya makna dan nilai, menggabungkan spiritualitas, kebudayaan, dan identitas masyarakat.
Dakwah yang disampaikan melalui salawat berjamaah, tausiah sirah nabawiyah, dan kenduri molod menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan dapat menjadi media efektif membangun kecintaan terhadap Rasulullah sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial.
Agar dakwah melalui Maulid tetap relevan dan efektif, diperlukan penguatan kualitas penyampaian dakwah, peran aktif ulama dan generasi muda, serta pembaruan metode dakwah sesuai perkembangan zaman.
Dengan demikian, Maulid bukan hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi momentum transformasi spiritual dan sosial yang nyata, menjaga identitas keislaman Aceh yang kaya dan unik. Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq.








