Menu

Mode Gelap

Hikmah · 4 Feb 2026 23:11 WIB ·

Esensi Bekal Amal dalam Maqolah Keempat Nashaihul ‘Ibad

Penulis: Muhammad Andriyani


 Esensi Bekal Amal dalam Maqolah Keempat Nashaihul ‘Ibad Perbesar

Memasuki maqolah keempat dalam Bab I kitab Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani menyajikan sebuah analogi filosofis tentang hakikat keberadaan manusia di dunia. Maqolah ini tidak lagi sekadar membahas relasi sosial, melainkan mengajak pembaca untuk melakukan refleksi eksistensial mengenai tujuan akhir kehidupan. Dengan gaya bahasa yang puitis namun sarat akan peringatan (tanbih), nasihat ini menekankan bahwa dunia hanyalah tempat perlintasan sementara, dan kecerdasan sejati seorang hamba diukur dari sejauh mana ia mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju keabadian (Al-Bantani, 2016).

Teks asli dari maqolah keempat ini merupakan ungkapan hikmah yang berbunyi:

 مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِيْنَةٍ

“Man dakhalal qabra bila zaadin faka-annama rakibal bahra bila safinatin.”

Artinya: “Barangsiapa memasuki kubur tanpa membawa bekal (amal saleh), maka seolah-olah ia mengarungi lautan tanpa perahu.” (Al-Bantani, 2010). Analogi “lautan” dan “perahu” ini menggambarkan betapa mengerikannya kondisi seseorang yang menghadapi pengadilan Ilahi tanpa proteksi amal yang memadai. Lautan yang luas dan dalam melambangkan alam barzakh dan akhirat yang penuh misteri, sedangkan perahu melambangkan amal yang menjadi sarana keselamatan.

Poin utama dalam maqolah ini adalah urgensi Zad (bekal). Dalam terminologi agama, bekal yang dimaksud bukanlah materi, melainkan ketakwaan dan amal jariyah. Konsep ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

 “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ayat ini memberikan penegasan bahwa di dunia yang serba fana ini, manusia seringkali terjebak mengumpulkan bekal yang salah, yakni harta yang akan ditinggalkan, padahal yang dibutuhkan di “lautan” akhirat adalah ketulusan niat dan pengabdian.

Metafora mengarungi lautan tanpa perahu mencerminkan kondisi keputusasaan dan ketidakberdayaan. Syekh Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Jika di persinggahan pertama saja seseorang sudah tidak memiliki sarana keselamatan, maka perjalanan selanjutnya akan jauh lebih berat. Hal ini diperkuat oleh literatur klasik lainnya, seperti kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi, yang menyebutkan bahwa orang yang berakal adalah ia yang selalu mengingat maut dan menghiasai rumah masa depannya (kubur) sebelum ia menempatinya (As-Samarqandi, 1994).

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga memberikan penekanan serupa pada Bab Dzikrul Maut (Mengingat Kematian). Beliau menjelaskan bahwa keterpedayaan manusia terhadap dunia (ghurur) seringkali membuat mereka menunda amal (tulul amal). Al-Ghazali menggambarkan dunia sebagai jembatan (jisrun) yang seharusnya dilewati, bukan dijadikan tempat tinggal tetap. Membangun istana di atas jembatan tanpa memikirkan seberang jalan adalah bentuk kebodohan intelektual dan spiritual (Al-Ghazali, 2011).

Dalam perspektif sosiologis, maqolah ini mendidik manusia untuk memiliki orientasi masa depan yang melampaui batas-batas duniawi (transcendental future orientation). Kesadaran akan adanya “lautan” yang harus diseberangi membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak. Amal saleh dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup integritas moral, kejujuran dalam bekerja, dan dedikasi untuk kemaslahatan umum. Semua tindakan positif tersebut akan bertransformasi menjadi “kayu-kayu penyusun perahu” yang akan menyelamatkan pelakunya.

Menariknya, Syekh Nawawi menekankan bahwa “memasuki kubur” adalah sebuah kepastian yang tidak mengenal negosiasi waktu. Kematian seringkali datang tanpa peringatan tertulis. Oleh karena itu, persiapan amal harus dilakukan secara kontinu, bukan menunggu usia tua. Dalam tradisi thuros, konsep ini dikenal dengan istilah isti’dad lil maut (bersiap menyambut kematian). Seseorang yang telah memiliki “perahu” amal yang kokoh tidak akan merasa takut saat badai kematian datang menjemput, karena ia tahu kapalnya mampu bertahan (Al-Bantani, 2016).

Kebutuhan akan perahu amal ini juga berkaitan dengan konsep Syafa’at. Meskipun rahmat Allah adalah penentu utama keselamatan, namun amal saleh adalah magnet yang menarik rahmat tersebut. Tanpa upaya membangun perahu sendiri, mengharapkan bantuan di tengah lautan yang mengamuk adalah sebuah spekulasi yang berbahaya. Kitab Hidayatul Hidayah karya Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal tidak akan mampu menjadi perahu penyelamat di hari kiamat kelak.

Secara psikologis, kesadaran akan bekal ini melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) terhadap dunia dan hirs (ambisi) terhadap akhirat. Seseorang tidak akan lagi terlalu sedih kehilangan materi duniawi, selama ia tahu “perahu” rida Allah-nya masih utuh. Maqolah ini berfungsi sebagai penyeimbang mental di tengah arus materialisme modern yang seringkali memaksa manusia untuk hanya mengumpulkan bekal bagi kehidupan fisik, namun mengabaikan kebutuhan esensial bagi kehidupan metafisik.

Implementasi praktis dari maqolah keempat ini adalah dengan melakukan evaluasi diri (muhasabah) setiap hari. Pertanyaan retoris yang diajukan adalah: “Jika hari ini saya memasuki lautan tersebut, apakah perahu saya sudah cukup kuat untuk menahan ombak?” Kesadaran ini akan memotivasi seseorang untuk meningkatkan kualitas shalatnya, memperluas jangkauan sedekahnya, dan memperbaiki akhlaknya kepada sesama, karena setiap kebaikan tersebut adalah bagian dari struktur perahu keselamatannya (Masduki, 2018).

Syekh Nawawi Al-Bantani ingin menegaskan bahwa kehidupan ini adalah bengkel pembuatan perahu. Waktu yang kita miliki adalah bahan bakunya. Jika kita menghabiskan waktu hanya untuk bermain-main di pinggir pantai tanpa membangun perahu, maka saat air pasang kematian datang, kita akan tenggelam dalam penyesalan yang tak bertepi. Nasihat ini bersifat universal, mengetuk pintu kesadaran setiap individu tanpa memandang jabatan atau kasta sosial.

Sebagai simpulan, Maqolah keempat Bab 1 ini adalah pengingat keras tentang visi jangka panjang manusia. Dunia adalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memanen. Tanpa benih amal yang ditanam dan perahu takwa yang dibangun, perjalanan setelah kematian akan menjadi tragedi yang memilukan. Dengan memahami esensi “perahu” dan “lautan” ini, seorang mukmin diharapkan mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna, penuh persiapan, dan senantiasa berorientasi pada keselamatan abadi.

Daftar Pustaka

 * Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2010). Nashaihul ‘Ibad: Kumpulan Nasihat Pilihan Bagi Para Hamba. (Achmad Masruri, Penerjemah). Bandung: Pustaka Setia.

 * Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2016). Syarah Nashaihul ‘Ibad. Jakarta: Darul Kutub Islamiyah.

 * Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2011). Ihya Ulumuddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. (Moh. Zuhri, Penerjemah). Semarang: CV Asy-Syifa.

 * As-Samarqandi, Abu Laits. (1994). Tanbihul Ghafilin: Peringatan Bagi Mereka yang Lalai. Jakarta: Pustaka Amani.

 * Masduki, Yusron. (2018). Etika Sosial dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 6(2), 185-200.

 

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 9 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Suami Minder Gaji Istri Lebih Besar? Membedah Ego Laki-laki di Meja Makan

4 Februari 2026 - 10:00 WIB

Transmisi Intelektual dan Spiritual: Esensi Majelis Ilmu dalam Maqolah Ketiga Nashaihul ‘Ibad

3 Februari 2026 - 10:57 WIB

Keseimbangan Transendental dan Humanitas: Bedah Maqolah Kedua dalam Nashaihul ‘Ibad

1 Februari 2026 - 10:43 WIB

Integrasi Kesalehan Ritual dan Sosial: Telaah Maqolah Pertama dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad

31 Januari 2026 - 11:29 WIB

NTEGRASI MAQĀṢID AL-SHARĪ’AH DALAM FORMULASI PENCATATAN NIKAH: TRANSFORMASI ADMINISTRASI MENJADI SAKSI ADMINISTRATIF DI INDONESIA

29 Januari 2026 - 17:09 WIB

Bakti Tulus Yang Tak Tergerus Arus

22 Desember 2025 - 23:39 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x