ETIKA BERPUASA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِىْ نَحْمَدُه وَنَسْتَعِيْنُه وَنَسْتَغْفِرُه، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَــيّــِآتِ اَعْمَالِنَا. مَنْ يــَّــهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لــَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لــَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُولُه الَّذِىْ لاَ نَبِيَّ بـَعْدَهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَـيْهِ وَعَلى آلِه وَصَحْبِه وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. اَمَّا بَعْدُ، مَعَاشِرَ الْـمُسْلِمِيـْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ. اُوْصِيكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهِ، فَــقَدْ فــَازَ الْمُــتَّــقُونَ. اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ . {البقرة:١٨٦}
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat yang tiada terhingga. Salawat dan salam sejahtera semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga, sahabat, dan umatnya yang mengikuti jejak langkahnya.
Hadirin hamba Allah yang berbahagia
Ibadah puasa Ramadhan adalah perintah Allah yang diwajibkan kepada orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah yang meyakini kebenaran firman-Nya yang disampaikan oleh Nabi terkasih Muhammad SAW pada tahun kedua hijriyah. Dan tentu saja, hanya orang-orang yang berimanlah yang akan menyambut seruan itu dengan penuh suka cita dan melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Sebab al-Quran sendiri telah mensifati orang-orang yang beriman ketika menerima perintah dari Allah SWT, maka mereka akan menyambutnya dengan pernyataan: sami’na wa-atha’na, kami dengar dan kami taat.
Demikian pula ketika Allah SWT memerintahkan kepada hambanya untuk menyempurnakan ibadah puasanya, maka dengan segera orang-orang yang beriman itu akan memenuhinya. Oleh karena itu, pada hidangan jamuan Ramadhan saat ini, marilah kita bersama-sama menelaah beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksaan puasa demi kesempurnaan ibadah kita.
Pertama, mengakhirkan sahur, yakni makan atau minum di akhir malam menjelang waktu subuh tiba. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya:
تَسَحَّرُوْا فَاِنَّ فِى السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ. (متفق عليه)
Sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu ada keberkahan. (HR. Bukhari-Muslim)
Dan dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:
السَّحُورُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ اَنْ يَجُرَّعَ اَحَدُكُمْ جُرْعَةَ مَاءٍ، فَاِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنِ. (رواه احمد)
Sahur itu semuanya mengandung keberkahan, maka janganlah kamu tinggalkan walaupun hanya dengan meminum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla dan para malaikat-Nya mencurahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang sahur. (HR. Ahmad)
Hadirin hamba Allah yang berbahagia
Kedua, menyegerakan berbuka apabila memang waktunya sudah tiba, yakni waktu maghrib, dengan ditandai kumandang azan untuk waktu setempat maka segeralah berbuka, jangan ditunda-tunda lagi. Dan pada waktu berbuka puasa ini, Rasulullah mengajarkan agar tidak makan terlalu kenyang, karena apabila perut kekenyangan akan melahirkan rasa kantuk dan malas untuk menunaikan ibadah yang lainnya, seperti shalat maghrib, isya, dan tarawih.
Begitu juga, hindarilah jenis makanan yang dapat merangsang timbulnya penyakit perut, seperti makanan yang asam atau pedas. Karena selama seharian perut kita kosong, alat pencernaan pun sejenak beristirahat, apabila tiba-tiba perut kita ini diisi dengan makanan yang asam atau pedas, maka terjadilah kontradiksi di dalam saluran pencernaan yang secara otomatis akan mengakibatkan zat asam lambung meninggi, dan terjadilah sakit perut, mulas, mual, maag, dan buang air besar.
Rasulullah menganjurkan berbuka dengan makanan yang manis, seperti buah kurma. Hal ini secara medis diketahui, bahwa dengan mengkonsumsi makanan yang manis pada waktu berbuka itu, dapat mengganti karbohydrat dan kalori yang hilang selama berpuasa.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَزَالُ الــنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجِلُوا الْفِطْرَ. (متفق عليه)
Manusia senantiasa dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka. (HR. Bukhari Muslim)
Hadirin hamba Allah yang berbahagia
Ketiga, meninggalkan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, baik ucapan maupun perbuatan. Inilah salah satu fungsi dari ibadah puasa, yaitu untuk mendidik manusia agar menjauhi perbuatan sia-sia yang tidak berguna.
Rasulullah SAW bersabda:
لَــيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلاَكْلِ وَالشُّرْبِ، اِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. (رواه الحاكم)
Puasa itu bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi puasa adalah menahan diri dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji. (HR. Hakim)
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ وَالْغِـيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ وَالـنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ. (اخرجه الـازدي)
“Ada lima perkara yang akan membatalkan (pahala) puasa, yaitu: dusta, ghibah (menggunjing), profokasi (mengadu domba), sumpah palsu, dan melihat sesuatu yang menimbulkan syahwat.
Hadirin hamba Allah yang berbahagia
Keempat, menghidupkan malam Ramadhan dengan mendirikan shalat Qiyamu Ramadhan atau shalat Tarawih dan shalat-shalat sunnah lainnya, baik itu di masjid, mushalla, ataupun di tempat-tempat lain yang layak untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Tarawih artinya istirahat, karena dahulu Rasulullah SAW dan kaum muslimin mula-mula berkumpul untuk melaksanakan shalat tersebut, mereka itu beristirahat terlebih dahulu setiap mereka selesai shalat empat rakaat. Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkad, bagi laki-laki dan perempuan, sah dikerjakan sendiri-sendiri (munfarid) dan lebih baik dikerjakan secara berjamaah.
Shalat tarawih dengan berjamaah sesungguhnya telah pernah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dahulu, tetapi karena beliau kuatir kalau shalat Tarawih itu dianggap wajib oleh umat Islam dan bisa memberatkan umat, maka beliau hanya melaksanakan berjamaah beberapa hari saja, dan selebihnya beliau melaksanakannya di rumah.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Urwah dari Aisyah bahwa Nabi SAW pada suatu malam pergi ke masjid di tengah malam lalu shalat di masjid, dan para sahabat ikut berjamaah bersama beliau. Pada malam kedua terjadi peristiwa yang sama, demikian pula pada malam ketiga. Tapi pada malam keempat Nabi tidak pergi ke masjid untuk qiyamullail. Subuhnya beliau ke masjid sebagaimana biasa, dan selesai shalat Subuh beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah tersembunyi bagiku keadaanmu tadi malam, akan tetapi aku kuatir shalat mala ini akan difardukan atas kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya”.
Keadaan tanpa berjamaah di masjid kecuali tiga malam yang diimami Nabi SAW sendiri itu hingga Nabi SAW wafat. Kemudian pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, pada suatu malam bulan Ramadhan beliau pergi ke masjid, dan di situ telah banyak orang-orang yang shalat Qiyamu Ramadhan dengan terpencar-pencar, ada yang munfarid dan ada yang berjamaah. Lalu khalifah berpendapat, bahwa alangkah baiknya kalau mereka yang shalat itu dikumpulkan dan mengikuti seorang imam shalat. Dan pada malam berikutnya beliau menunjuk Ubay bin Kaab untuk mengimami orang-orang yang shalat Qiyamu Ramadhan. Dan malam-malam selanjutnya dilaksanakan secara berjamaah oleh satu imam. Demikian Qiyamu Ramadhan atau shalat Tarawih dilaksanakan oleh Umat Islam secara berjamaah sampai pada generasi kita sekarang. Tentang keutamaan shalat Tarawih ini Rasulullah SAW bersabda: