Ada satu momen dalam kehidupan manusia yang mampu membuat seakan-akan seluruh dunia seakan berhenti berputar. Di tengah ruangan yang dipenuhi keluarga, doa, dan harapan, tiba-tiba suasana menjadi hening. Nafas ditahan, pandangan tertuju, dan hati dipenuhi getaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Itulah detik sakral bernama ijab Kabul, sebuah momen ketika dua jiwa menanggalkan masa lajangnya dan memasuki gerbang kehidupan baru yang penuh dengan tanggung jawab, kasih sayang, serta keberkahan.
Ijab kabul tidak pernah berdiri sebagai rangkaian kata semata. Ia adalah bahasa jiwa, sebuah ikrar yang melampaui formalitas. Di balik pengucapannya, ada debur harapan yang telah dipanjatkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ada kecemasan yang disembunyikan, ada doa orang tua yang mengalir menjelma ketenangan, dan ada restu langit yang perlahan turun menyelimuti ruang akad. Dalam sebaris kalimat sederhana, seorang laki-laki menyatakan kesiapan dirinya untuk menjadi penjaga, pemimpin, sekaligus teman perjalanan bagi perempuan yang kini akan ia sebut istrinya. Momen ijab kabul menjadi sangat berharga karena ia adalah titik di mana takdir berubah arah. Dua insan yang sebelumnya berjalan di jalur berbeda, kini secara sah dilebur dalam satu jalan yang sama. Sebuah jalan yang kadang teduh, kadang melelahkan, namun selalu dipenuhi cahaya bagi dua hati yang saling menggenggam erat. Dalam detik itu, Allah menyaksikan perpindahan takdir seorang wanita dari tanggung jawab ayahnya menuju pemeliharaan seorang suami. Begitu halus, begitu lembut, sehingga tak jarang air mata para orang tua jatuh tanpa disadari, bukan karena kehilangan, tetapi karena bahagia melihat putra-putrinya menemukan sandaran hidup yang baru.
Kesakralan ijab kabul juga terletak pada pertemuan dua sisi kehidupan. Pertama, sisi dunia yang terlihat oleh manusia, dan kedua adalah sisi langit yang hanya dirasakan oleh hati. Di dunia, dua saksi mendengarkan dengan penuh perhatian, memastikan bahwa akad itu sah secara hukum dan agama. Namun jauh di balik itu, malaikat-malaikat hadir sebagai saksi sunyi, mencatat setiap lafadz yang terucap dengan tepat, setiap niat yang hadir tanpa riya’, dan setiap getaran hati yang penuh kerendahan di hadapan Allah. Begitu besar penghormatan syariat terhadap ijab kabul, hingga Allah menyebut pernikahan sebagai mîtsâqan ghalîzhâ atau perjanjian yang sangat kuat. Sebuah perjanjian yang bukan hanya mengikat dua insan, tetapi juga menghubungkan dua keluarga, dua garis keturunan, bahkan dua dunia yang sebelumnya belum pernah bersinggungan. Ada keindahan tersendiri ketika kalimat “saya terima nikahnya…” terucap dengan lantang namun bergetar. Setiap orang yang hadir turut merasakannya, sebuah getaran yang tidak berasal dari suara, tetapi dari kedalaman makna. Lafadz itu bukan sekadar jawaban. Ia adalah pernyataan kesanggupan, keberanian, dan kesadaran seorang laki-laki bahwa ia kini memikul amanah besar, yaitu menjaga wanita yang ia pilih, mencintainya, memuliakannya, dan mengarungi kehidupan bersama dalam suka maupun duka. Pada saat yang sama, hati seorang perempuan berdesir pelan. Bukan karena gugup, tetapi karena ia tahu bahwa ia sedang diserahkan kepada seseorang yang akan menjadi imam bagi langkah-langkahnya. Pada detik itu pula segala doa seakan berkumpul. Doa ibu yang pernah terlantun dalam sujud malam. Doa ayah yang disimpan dalam diam penuh harap. Doa pasangan yang terbata-bata karena rasa syukur. Semua berpadu, naik ke langit, lalu turun menjadi ketenangan yang menyelimuti seluruh prosesi. Tidak ada momen lain yang dapat menggabungkan begitu banyak getaran jiwa dalam waktu sesingkat itu. Itulah mengapa ijab kabul menjadi begitu berharga. Ia bukan sekadar ritual. Ia adalah titik temu antara doa, cinta, tanggung jawab, dan restu ilahi.
Sungguh, ijab kabul adalah detik pendek yang mengubah sepanjang usia. Ia menjadi pintu masuk bagi dua manusia yang ingin saling menyempurnakan. Di dalamnya ada janji untuk saling menjaga ketika dunia tak lagi ramah, ada janji untuk saling menjadi telinga ketika keluh kesah tak menemukan tempat, ada janji untuk saling menggenggam ketika badai datang menerpa. Momen inilah yang membuat pernikahan bukan hanya peristiwa sosial, tetapi ibadah yang menghadirkan sakinah ke dalam hati dan rumah tangga. Dan ketika para tamu mengaminkan doa, ketika penghulu tersenyum lega, ketika keluarga saling berpelukan, kita menyadari bahwa ijab kabul adalah karunia. Ia adalah detik suci yang tidak bisa diulang, tidak bisa digantikan, dan tidak bisa disederhanakan. Sebab pada akhirnya, ijab kabul adalah peristiwa di mana manusia berbicara, tetapi langit yang mengabulkan.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap









