Menu

Mode Gelap

Kolom · 13 Jan 2026 09:25 WIB ·

Ketika Ibu Belajar Ikhlas Melepasmu Pergi

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Ketika Ibu Belajar Ikhlas Melepasmu Pergi Perbesar

Ada hari yang sejak lama ibu tahu akan datang, namun diam-diam selalu ibu tunda dalam doa. Hari ketika tangan kecilmu tak lagi menggenggam jemari ibu, karena ia akan berpindah ke tangan lelaki yang kau pilih untuk menjadi teman hidupmu. Hari ketika namamu tak lagi hanya menjadi milik ibu dan ayah, tetapi juga menjadi amanah bagi seorang suami. Anakku, perempuan yang ibu lahirkan dengan rasa sakit yang tak pernah ingin ibu ceritakan, hari ini ibu belajar tentang ikhlas yang paling sunyi. Ikhlas yang tidak bising oleh kata-kata, tetapi gemetar oleh rasa. Ibu tersenyum, namun hatimu tetap bergetar di dada ibu. Ada bahagia yang mengalir, ada haru yang menetes pelan, dan ada rindu yang bahkan belum sempat berpisah, sudah lebih dulu menyapa. Sejak kecil, ibu yang menggendongmu saat kau terjatuh, yang terjaga ketika kau demam, yang cemas saat kau terluka oleh dunia. Ibu tahu betul caramu menangis dan bagaimana kamu tersenyum. Maka hari ini, ketika kau berkata, “Bu, aku siap menikah” hati ibu seakan diremas pelan. Bukan karena ibu tak rela, tetapi karena ibu tahu, sejak saat itu, kau akan belajar kuat dengan caramu sendiri.
Anakku,.. menikah bukan berarti kau menjauh dari ibu. Ia hanyalah perjalanan baru, tempatmu belajar mencintai dan dicintai dengan cara yang berbeda. Lelaki yang kau pilih hari ini bukan hanya pasangan hidupmu, tetapi juga sahabat dalam doa, sandaran dalam lelah, dan penenang dalam badai. Jagalah ia sebagaimana ibu dulu menjagamu dengan sabar, dengan tulus, dan dengan cinta yang tidak mudah menyerah. Pesan ibu padamu, wahai putriku:

Menikahlah dengan sabar, bukan hanya dengan cinta. Cinta bisa naik dan turun, tapi sabar akan membuatmu bertahan. Jangan berharap rumah tanggamu selalu mudah, karena justru di situlah kau akan belajar dewasa. Bila kau merasa sendirian, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu, dan ibu selalu menyebut namamu dalam doa-doa panjang di malam hari. Jangan takut menjadi lelah, Nak. Tapi jangan lupa pulang, pulang kepada suamimu dengan hati yang lembut, pulang kepada Tuhanmu dengan jiwa yang berserah. Dan jika suatu saat dunia terasa terlalu kejam, ingatlah bahwa kau selalu punya ibu yang mencintaimu tanpa syarat, meski dari kejauhan. Hari ini ibu merelakanmu, bukan karena cinta ibu berkurang, tetapi karena cinta ibu telah selesai membesarkanmu dan kini berubah menjadi doa. Doa yang tak bersuara, doa yang tak meminta balasan, doa yang hanya ingin satu hal: kebahagiaanmu.

Pergilah, anakku.
Bawalah namamu dengan kehormatan.
Bawalah cintamu dengan kesetiaan.
Dan bawalah doa ibu ke mana pun kau melangkah.

Jadilah istri yang lembut ucapannya, kuat hatinya, dan lapang dadanya. Jika kelak kau lelah, ingatlah bahwa rumah tangga bukan tentang siapa yang menang, melainkan siapa yang mau bertahan. Jika air mata datang, jangan gengsi untuk berdoa. Jika bahagia menyapa, jangan lupa bersyukur. Dan jika suatu hari dunia terasa berat, pulanglah pada Allah, karena di sanalah ketenangan sejati bersemayam.

Jika suatu hari kau rindu ibu, cukup pejamkan mata dan berdoalah. Di sana, ibu selalu ada.

Ibu mungkin tak lagi selalu ada di sisimu setiap hari, tetapi doa ibu akan selalu menyebut namamu setiap sujud. Ibu mungkin tak lagi menyiapkan segalanya untukmu, tetapi cinta ibu tak pernah berpindah tempat. Kau tetap anak perempuan ibu yang akan selalu ibu banggakan, ibu rindukan, dan ibu doakan hingga napas ibu berhenti. Pergilah, anakku. Bangunlah rumah tanggamu dengan cinta dan iman. Ibu merelakanmu, bukan karena berhenti mencintaimu, tetapi karena cinta ibu cukup besar untuk membiarkanmu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Dan hari ini, dengan mata yang basah dan hati yang lapang, ibu berbisik dalam diam: “Berbahagialah, Nak. Doa ibu selalu menyertaimu.”

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 18 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Janda Tak Perlu Wali Nikah? Meluruskan Anggapan yang Keliru

15 Januari 2026 - 09:56 WIB

Dimensi Teologis dan Spiritual Peristiwa Isra Mi’raj

13 Januari 2026 - 16:25 WIB

Mahar di Tangan, Borgol di Bayangan: Syariat Bukan Topeng Pelanggaran

8 Januari 2026 - 16:44 WIB

Saya Terima Nikahnya …

8 Januari 2026 - 15:14 WIB

Mengapa Kita Memperingati Isra Mi’raj? Sebuah Tinjauan Hukum Islam.

7 Januari 2026 - 12:20 WIB

Menikahlah, dan Temukan Bahagiamu dalam Indahnya Pernikahan

7 Januari 2026 - 11:28 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x