Menu

Mode Gelap

Opini · 4 Okt 2025 13:21 WIB ·

Kisah Penumpuk Beban dalam Muscab APRI

Penulis: Mahbub Fauzie


 Kisah Penumpuk Beban dalam Muscab APRI Perbesar

Musyawarah Cabang II Pengurus Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (PC APRI) Kabupaten Aceh Tengah berlangsung dalam suasana sejuk di Gayo Belangi Resort, Mendale, tepat di pinggiran utara Danau Laut Tawar. Dalam forum empat tahunan itu, Ketua PC APRI periode 2021–2025 Anda Putra, S.H. menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) bersama Sekretaris Irham, S.S. dan Bendahara Darwin, S.H.I.

Suasana muscab berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Namun dari sekian paparan teknis, ada satu bagian dari pengantar LPJ yang mencuri perhatian peserta: refleksi Anda Putra tentang makna kepemimpinan.
Bukan tentang angka, bukan pula daftar kegiatan, melainkan sebuah kisah spiritual yang sarat makna.

Kisah dari Isra Mikraj

Dalam penyampaiannya, Anda Putra menyinggung kisah dalam peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, ketika Rasul melihat sekelompok orang yang memikul beban berat di punggungnya. Mereka tampak kelelahan, hampir tak sanggup berjalan, namun anehnya mereka justru menambah beban di atas pundaknya sendiri.

Kepada malaikat Jibril, Rasul bertanya tentang makna pemandangan itu.
Jibril menjawab, “Itulah orang-orang yang diberi amanah, namun tidak mampu menunaikannya. Ia sudah terbebani tanggung jawab besar, tapi masih menambah beban lain yang bukan dalam batas kemampuannya.”

Kisah itu menjadi perumpamaan yang dalam. Sebab dalam dunia kepemimpinan, baik di lembaga, organisasi, maupun pemerintahan, sering kali seseorang terjebak dalam semangat berlebih tanpa menyadari keterbatasan diri.
Padahal, sebagaimana disampaikan Anda Putra, “Menjadi pemimpin bukan hanya soal keberanian memikul beban, tetapi juga kebijaksanaan mengukur kemampuan memikulnya.”

Refleksi bagi Penghulu dan Organisasi

APRI adalah organisasi profesi yang menaungi para penghulu KUA — sosok yang dalam istilah masyarakat Gayo disebut “tengku kali”.
Para penghulu adalah garda terdepan dalam membina rumah tangga umat, memimpin akad suci, dan menjadi rujukan masyarakat dalam urusan keagamaan. Namun, di balik tugas mulia itu, beban moral dan sosial yang mereka pikul tidaklah ringan.

Apa yang disampaikan Anda Putra seakan menjadi cermin bagi para penghulu: jangan sampai semangat mengabdi membuat kita menumpuk beban tanpa strategi.
Terlalu banyak tanggung jawab tanpa pembagian kerja yang sehat justru bisa membuat seseorang kehilangan keseimbangan — dan akhirnya tidak optimal dalam pelayanan.

Dalam LPJ-nya, Anda Putra secara terbuka menyebut adanya plus dan minus dalam pelaksanaan program selama masa kepemimpinan. Transparansi itu disambut positif oleh peserta muscab.
Bagi sebagian orang, mengakui kekurangan mungkin terasa berat, tapi justru di situlah nilai kejujuran dan kematangan seorang pemimpin diuji.

Sepandai-Pandai Tupai Melompat

Selain kisah Isra Mikraj, Anda Putra juga menyinggung pepatah lama: “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu pasti tidak melompat juga.”
Maknanya jelas — tak ada pemimpin yang sempurna. Setinggi apa pun kemampuan dan pengalaman seseorang, pasti ada masa di mana ia khilaf atau keliru.
Namun, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan yang lain adalah keberaniannya mengakui kesalahan dan belajar darinya.

Dalam organisasi seperti APRI, semangat kolektif harus lebih diutamakan daripada ego pribadi. Sebab, sebagaimana diingatkan Anda Putra, keberhasilan organisasi bukanlah hasil kerja satu orang, tetapi buah kebersamaan dan dukungan banyak pihak.

Pelajaran dari Gayo Belangi

Pemandangan Danau Laut Tawar di sekitar lokasi muscab seakan memperkuat makna refleksi itu. Air danau yang tenang menggambarkan keseimbangan antara kedalaman dan ketenangan.
Demikian pula kepemimpinan yang ideal: tidak gegabah mengambil semua beban, tetapi tahu kapan harus berhenti, berbagi, dan melibatkan orang lain.

Melalui LPJ yang jujur dan reflektif itu, Anda Putra memberikan pesan moral bagi rekan-rekan penghulu dan pengurus organisasi:

“Jangan menambah beban saat beban sudah berat. Kepemimpinan yang baik bukan tentang siapa yang paling kuat memikul, tapi siapa yang mampu menjaga keseimbangan.”

Penutup

Musyawarah Cabang II PC APRI Aceh Tengah bukan hanya ajang pergantian kepengurusan, tetapi juga momentum introspeksi dan pembelajaran bersama.
Dari kisah Isra Mikraj dan pepatah tupai, kita diingatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang membutuhkan kesadaran, bukan sekadar keberanian.

Semoga para penghulu dan pengurus APRI di seluruh daerah dapat meneladani semangat yang sama: menunaikan amanah dengan hati yang jernih, langkah yang seimbang, dan niat yang tulus untuk terus berbuat bagi umat.[]

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu KUA Atu Lintang, Aceh Tengah

 

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 88 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Pentingnya Kesadaran Mencatatkan Pernikahan Secara Resmi

28 November 2025 - 14:28 WIB

Izin Istri atau Diam-Diam? Poligami dalam Perspektif Agama, Etika, dan Dampak Nyata dalam Kehidupan Rumah Tangga

27 November 2025 - 15:49 WIB

Pernikahan Siri atau Tidak Tercatat Termasuk Bentuk Pelanggaran Administratif dan Membahayakan Masa Depan Keluarga

26 November 2025 - 08:46 WIB

Benarkah Tak Boleh Ada Jeda Sama Sekali Dan Satu Nafas Dalam Ijab Qobul Nikah?

25 November 2025 - 14:20 WIB

Sebuah Perasaan yang Tak Pernah Selesai

24 November 2025 - 14:16 WIB

Kesetiaan Adalah Salah Satu Pilar yang Menegakkan Cinta di Tengah Problematika dalam Rumah Tangga

19 November 2025 - 09:01 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x