Gemuruh persiapan pernikahan sering kali identik dengan daftar panjang: cari gedung, fitting baju, tes makanan katering, sampai memilih warna seragam untuk keluarga. Semuanya penting dan seru, tentu saja! Tapi di tengah semua kemeriahan itu, ada satu persiapan yang sering kali luput dari perhatian utama, padahal inilah fondasi dari semuanya yaitu kesiapan untuk pernikahannya itu sendiri.
Pernikahan bukanlah garis finish, melainkan garis start dari sebuah perjalanan panjang bernama rumah tangga. Gaun yang indah akan dilepas, dan dekorasi megah akan dibongkar. Yang tersisa adalah kamu, pasanganmu, dan bekal yang kalian bawa untuk mengarungi perjalanan ini bersama.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita resapi panduan terindah dari panutan kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan kita sebuah pesan fundamental. Kata kunci di sini adalah “mampu” atau al-ba’ah. Kemampuan ini bukan sekadar tentang materi atau finansial, melainkan sebuah paket lengkap yang mencakup kesiapan mental, kedewasaan emosional, dan tanggung jawab untuk memimpin serta membina sebuah keluarga. Menikah adalah ibadah, sebuah cara menyempurnakan separuh agama. Maka, mempersiapkannya dengan ilmu dan kesadaran adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
Nah, mari kita rinci “kemampuan” itu ke dalam bekal-bekal praktis yang perlu kita siapkan.
Cinta memang jadi bahan bakar utama, tapi pernikahan butuh mesin yang kuat. Kesiapan mental adalah mesinnya. Ini bukan berarti kamu harus jadi orang yang sempurna, tapi lebih ke arah:
Apa kelebihan dan kekuranganmu? Bagaimana caramu mengatasi stres atau marah? Kalau kamu belum “berdamai” dengan dirimu sendiri, akan sulit untuk hidup harmonis dengan orang lain. Pernikahan itu bukan dongeng Disney. Akan ada hari-hari sulit, tagihan yang harus dibayar, dan perbedaan pendapat yang tajam. Siapkah kamu menghadapi momen-momen “tidak Instagram-able” itu bersama pasangan? Belajar untuk tidak meledak-ledak saat marah atau ngambek berhari-hari. Kesiapan emosional berarti mampu mengelola perasaan dan menyampaikannya dengan cara yang sehat.
Uang adalah salah satu topik paling sensitif, tapi justru karena itu wajib dibicarakan secara terbuka sebelum menikah. Jangan sampai masalah finansial jadi bom waktu. Mulailah obrolan santai tentang:
Apakah kamu tipe penabung atau si paling impulsif? Bagaimana dengan pasanganmu? Bicarakan soal pendapatan masing-masing, utang (jika ada), dan cicilan. Keterbukaan adalah kunci kepercayaan. Mau menabung untuk rumah? Dana pendidikan anak? Liburan? Punya tujuan finansial bersama akan membuat kalian jadi tim yang solid. Ingat, ini bukan soal siapa yang gajinya lebih besar, tapi tentang bagaimana kalian akan mengelola keuangan sebagai sebuah tim yang amanah.
Dua orang yang menyatu dalam pernikahan idealnya berjalan ke arah yang sama, menuju ridha Allah. Coba diskusikan “peta” masa depan kalian. Beberapa pertanyaan penting untuk didiskusikan:
Mau punya anak? Jika iya, kapan? Bagaimana pola asuh Islami yang kalian inginkan?
Apakah istri akan tetap bekerja setelah punya anak? Adakah impian karier yang ingin dikejar oleh masing-masing?
Akan tinggal di mana setelah menikah? Bersama orang tua atau mandiri?
Bagaimana pembagian tugas rumah tangga nanti? Siapa yang bertanggung jawab untuk apa sesuai kodratnya?
Perbedaan jawaban itu wajar, kok! Yang penting adalah menemukan titik tengah dan kompromi yang bisa diterima berdua.
Komunikasi adalah bekal paling vital. Seberapa sering kamu mendengar nasihat, “Kuncinya komunikasi”? Itu benar sekali! Komunikasi yang baik bukan hanya tentang bicara, tapi juga untuk mencoba pahami sudut pandang pasangan, bukan hanya menunggu giliran untuk membela diri. Ungkapkan perasaan dan kebutuhanmu tanpa menyalahkan atau menyerang. Ganti kalimat “Kamu tuh, ya…” dengan “Aku merasa…” Jangan hindari masalah. Belajarlah cara berdebat yang sehat untuk menemukan solusi, bukan untuk mencari siapa yang menang.
Saat kamu menikahi seseorang, kamu juga “menikahi” keluarganya. Penting untuk mempersiapkan diri bagaimana cara berinteraksi dan membangun hubungan yang baik dengan keluarga besar pasangan. Setiap keluarga punya kebiasaan dan cara berkomunikasi yang berbeda. Diskusikan dengan pasangan bagaimana batasan antara keluarga inti kalian dengan keluarga besar, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Tunjukkan rasa hormat dan niat baik kepada orang tua dan saudara pasangan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keharmonisan rumah tangga.
Akhir,
Mempersiapkan lima bekal di atas memang tidak semudah memilih warna gaun pengantin. Prosesnya butuh waktu, kejujuran, dan kerendahan hati. Namun, inilah investasi terbaik untuk masa depan pernikahanmu, sebuah perjalanan ibadah terpanjang. Pernikahan yang bahagia bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang kesiapan untuk tumbuh, belajar, dan berjuang bersama melewati segala musim kehidupan dalam naungan rahmat-Nya.
Sebuah Doa Untukmu yang Sedang Berikhtiar
Ya Allah, bagi saudara-saudari kami yang saat ini sedang berjuang mempersiapkan pernikahan, kuatkanlah niat mereka untuk beribadah kepada-Mu. Lapangkanlah jalan mereka, mudahkanlah setiap urusan mereka, dan jauhkanlah dari segala hal yang dapat merusak niat suci mereka.
Satukanlah hati mereka dalam kebaikan, berkahi setiap langkah persiapan yang mereka lakukan, dan kelak jadikanlah rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Sebuah rumah yang menjadi penyejuk mata dan hati, serta tempat lahirnya generasi penerus yang saleh dan salihah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








