Di jari manis itu, sebuah cincin melingkar. Kecil, sederhana, bahkan terkadang tampak biasa. Namun siapa sangka, benda kecil itu menyimpan makna yang begitu besar tentang cinta, tanggung jawab, kesetiaan, dan sebuah janji suci yang tak boleh dipermainkan. Cincin pernikahan bukan sekadar perhiasan. Ia adalah simbol. Dan setiap simbol, dalam tradisi manusia dan khazanah keilmuan Islam, selalu lahir dari makna yang mendalam. Bentuk cincin yang melingkar tanpa awal dan akhir bukanlah kebetulan. Ia melambangkan keabadian, kontinuitas, dan kesempurnaan komitmen. Dalam konteks pernikahan, cincin seakan berbisik lirih: “Ikatan ini tidak mengenal ujung, kecuali jika engkau sendiri yang memutuskannya.”
Dalam Islam, pernikahan disebut sebagai mitsaqan ghalizha perjanjian yang kokoh dan berat. Sebuah akad yang bukan hanya disaksikan manusia, tetapi juga disaksikan Allah. Maka cincin menjadi pengingat visual atas akad yang sejatinya bersifat spiritual. Setiap kali cincin itu terlihat, seharusnya ia mengingatkan: aku telah berjanji, dan janji itu bukan main-main. Banyak budaya meyakini jari manis terhubung langsung ke hati. Entah mitos atau simbol, namun maknanya indah: cinta itu dekat dengan hati, namun dijaga oleh akal dan tanggung jawab. Dalam Islam, pasangan bukanlah milik dalam arti kepemilikan yang menindas, melainkan amanah. Cincin bukan tanda “aku menguasaimu”, tetapi isyarat lembut: “Aku bertanggung jawab atasmu, lahir dan batin.” Di sinilah letak keindahan makna cincin. Ia membatasi, namun bukan mengekang. Ia menandai, namun bukan menghilangkan martabat. Menariknya, Islam tidak mewajibkan cincin pernikahan. Ia bukan rukun, bukan syarat sah, bahkan tidak dikenal dalam praktik akad nikah Rasulullah ﷺ secara khusus. Namun Islam adalah agama yang menghargai simbol selama tidak melanggar syariat. Karena itu, cincin menjadi urf (tradisi) yang dibolehkan, bahkan bernilai positif, selama dimaknai dengan benar. Ia menjadi pengikat akhlak, bukan sekadar gaya. Ketika godaan datang, ketika ego meninggi, ketika lelah dan bosan menghampiri, cincin itu seolah berkata: “Ingat, ada janji yang sedang kau jaga.”
Ironisnya, hari ini cincin sering diukur dari berat karat dan harga. Padahal nilai sejatinya bukan pada mahalnya, melainkan pada kesungguhan menjaga maknanya. Cincin yang sederhana namun dijaga dengan kesetiaan jauh lebih mulia daripada cincin mahal yang mengiringi pengkhianatan. Sebab dalam Islam, kemuliaan bukan pada benda, melainkan pada amanah yang ditunaikan. Cincin tidak bisa berbicara. Namun bagi hati yang jernih, ia menyampaikan pesan yang sangat jelas: “Jagalah pasanganmu sebagaimana engkau menjaga kehormatan dirimu sendiri.” Ia mengajarkan bahwa cinta bukan hanya rasa, tetapi keputusan yang diulang setiap hari. Bahwa setia bukan soal tidak tergoda, tetapi memilih untuk tetap bertahan. Bahwa pernikahan bukan tentang selalu bahagia, tetapi tentang tetap bersama meski bahagia sedang diuji. Maka, ketika cincin itu melingkar di jari, semoga ia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga berat dipertanggungjawabkan. Karena sejatinya, cincin pernikahan bukan sekadar tanda telah menikah, melainkan tanda kesiapan untuk setia, dewasa, dan bertanggung jawab sampai akhir hayat.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








