Menu

Mode Gelap

Kolom · 29 Jan 2026 09:44 WIB ·

Mencintai Bayangan; Ketika Pernikahan Kalah oleh Algoritma TikTok

Penulis: Muhammad Hanif Hakim


 Mencintai Bayangan; Ketika Pernikahan Kalah oleh Algoritma TikTok Perbesar

Pernahkah Anda duduk di meja makan bersama pasangan, namun pikiran Anda justru berkelana ribuan kilometer jauhnya? Jempol Anda sibuk melakukan scrolling pada video liburan mewah di Bali atau potret “pasangan idaman” yang baru saja lewat di beranda TikTok. Dalam sunyi, muncul sebuah bisikan beracun; “Mengapa pasanganku tidak seromantis itu?”

Selamat datang di era Ego-centric Marriage. Sebuah fenomena kontemporer di mana pernikahan bukan lagi perjalanan dua jiwa, melainkan sebuah panggung pencarian validasi pribadi. Di era ini, kepuasan hubungan sering kali ditentukan oleh ekspektasi yang dibentuk oleh algoritma layar smartphone, bukan oleh realitas yang ada di hadapan mata.

Media sosial pada dasarnya adalah sebuah etalase – kurasi dari fragmen kehidupan yang telah dipoles, difilter, dan disunting secara presisi. Namun, kita sering terjebak dalam bias kognitif yang fatal; membandingkan “dapur” kita yang berantakan dengan “ruang tamu” orang lain yang sudah ditata rapi untuk kebutuhan konten.

Ketika kita terus-menerus mengonsumsi sosok ideal yang estetis, pasangan nyata di dunia fisik perlahan mulai terlihat mengecewakan. Kita mulai mencintai bayangan, bukan manusia. Kita lebih memuja sosok digital yang tampak tanpa celah daripada sosok yang hadir secara nyata. Sosok yang memberikan segelas air saat kita terbatuk di tengah malam atau yang setia bekerja keras meski tak pandai merangkai kata puitis.

Dalam perspektif nilai luhur, kita mengenal konsep mu’asyarah bil ma’ruf—memperlakukan pasangan dengan cara yang patut dan baik. Inti dari konsep ini adalah penerimaan terhadap kekurangan. Pernikahan bukanlah transaksi barang elektronik di mana kita bisa melakukan “retur” saat menemukan cacat, atau mencari model terbaru ketika versi lama terasa membosankan.

Ironisnya, kita sering menuntut kehadiran utuh dari pasangan, namun kita sendiri hadir secara setengah-setengah. Kita memprotes kurangnya perhatian mereka, sementara kita sendiri memberikan perhatian penuh pada kehidupan orang asing di layar. Ini adalah paradoks modern. Kita mengonsumsi kebahagiaan orang lain namun mengabaikan benih kebahagiaan di rumah sendiri.

Budaya perbandingan ini telah menjadi penyakit kolektif. Pernikahan yang seharusnya menjadi ruang aman (safe haven) untuk menjadi diri sendiri, kini bergeser menjadi ajang kompetisi status. Siapa yang paling romantis? Siapa yang paling relationship goals? Padahal, kebahagiaan domestik tidak diukur dari seberapa Instagrammable sebuah momen. Ia diukur dari ketenangan hati dan kenyamanan saat menjadi diri sendiri. Ketenangan yang bisa disebut “Sakinah”, ketenangan yang tidak selalu tampak, tetapi terasa. Solusinya bukanlah menjadi anti-teknologi, melainkan melatih kesadaran diri (mindfulness).

Memulihkan hubungan dari distorsi digital dimulai dengan keberanian untuk menurunkan ego. Kita perlu berhenti menjadikan standar hidup orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan domestik, dan mulai memberikan ruang bagi momen-momen ‘non-viral’ yang jujur. Aktivitas sederhana seperti berbagi semangkuk mie instan atau sekadar berjalan kaki di sore hari mungkin tidak akan memanen ribuan likes di TikTok, namun hal-hal inilah yang sebenarnya membangun fondasi ‘rumah’ yang kokoh.

Pada akhirnya, semua ini bermuara pada praktik syukur yang nyata, bukan sekadar retorika, melainkan tindakan aktif. Ini adalah tentang menghargai usaha-usaha kecil pasangan yang sering kali luput dari sorotan kamera, namun menjadi satu-satunya hal yang tetap hadir saat layar ponsel telah gelap dan dunia digital berhenti bising.

Mencintai sosok di balik layar adalah hal mudah karena ia tidak menuntut tanggung jawab. Namun, mencintai manusia nyata, lengkap dengan segala kerumitan dan kekurangannya, adalah pencapaian spiritual yang paling tinggi.

Cinta yang tulus bukan tentang mendapatkan yang terbaik menurut standar dunia maya, tetapi tentang meyakini bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik bagi jiwa kita. Sebelum memejamkan mata malam ini, letakkan ponsel Anda, tataplah pasangan Anda, dan ingatlah satu hal kecil yang ia lakukan untuk Anda. Di sanalah letak kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan di dalam kotak 6 inci yang menyala di tangan Anda. Wallahu a’lam.

Penulis: Muhammad Hanif H. (Penghulu/Kepala KUA Mentok)

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 27 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

NTEGRASI MAQĀṢID AL-SHARĪ’AH DALAM FORMULASI PENCATATAN NIKAH: TRANSFORMASI ADMINISTRASI MENJADI SAKSI ADMINISTRATIF DI INDONESIA

29 Januari 2026 - 17:09 WIB

Menumbuhkan Kepekaan dan Empati dalam Rumah Tangga

28 Januari 2026 - 20:03 WIB

Pernikahan: Sekolah Seumur Hidup Tanpa Ijazah

27 Januari 2026 - 14:45 WIB

Suara Perempuan dan Ketaatan Dalam Rumah Tangga

27 Januari 2026 - 10:29 WIB

Makna Cincin Dalam Pernikahan

19 Januari 2026 - 11:50 WIB

Janda Tak Perlu Wali Nikah? Meluruskan Anggapan yang Keliru

15 Januari 2026 - 09:56 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x