MUSYAWARAH Cabang II PC Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Aceh Tengah yang berlangsung di Gayo Belangi Resort, Mendale, Takengon, Sabtu (4/10/2025), menjadi momentum penting bagi para penghulu di Tanah Gayo untuk meneguhkan semangat kebersamaan dan profesionalisme.
Dalam forum yang berlangsung hangat dan demokratis itu, Irham, S.S., Penghulu Ahli Muda sekaligus Kepala KUA Kecamatan Celala, terpilih sebagai Ketua PC APRI Aceh Tengah periode 2025–2029.
Saya bersama dua rekan — Darwin, S.H.I., dan Muhammad Ikhwan, S.H.I. — diberi amanah sebagai presidium sidang yang memandu seluruh tahapan muscab: mulai dari pembahasan tata tertib, laporan pertanggungjawaban, hingga proses penjaringan calon ketua.
Semua berjalan tertib, transparan, dan penuh semangat persaudaraan. Dari proses itu, forum akhirnya menetapkan Irham sebagai ketua baru secara sah dan elegan.
Terpilihnya Irham bukan sekadar hasil pemilihan, melainkan wujud harapan bersama agar APRI terus tumbuh sebagai organisasi profesi yang solid, harmonis, dan berdaya saing.
Dalam sambutannya, Irham menegaskan, “APRI itu milik bersama, bukan milik pengurus harian saja, apalagi ketua.” Pesan singkat itu mengandung makna dalam: bahwa organisasi yang kuat lahir dari partisipasi kolektif, bukan dari dominasi individu.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, H. Wahdi, M.S., M.A., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberi catatan penting: kepengurusan baru hendaknya melanjutkan hal baik dari periode sebelumnya, sekaligus menghadirkan inovasi agar APRI semakin bermanfaat bagi umat.
Ini adalah pesan strategis bagi setiap pengurus: agar organisasi tidak hanya eksis, tetapi juga hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
APRI sejatinya bukan sekadar wadah seremonial dan perlambang belaka. Ia adalah rumah besar para penghulu — sosok yang dalam budaya Gayo disebut tengku kali — yang memegang peran vital dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat.
Penghulu bukan hanya pencatat pernikahan, tetapi juga pembimbing keluarga, penasehat moral, dan penjaga harmoni sosial. Dari tangan-tangan penghulu lahir bimbingan menuju keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah — pondasi utama ketahanan umat.
Karena itu, kebersamaan menjadi modal utama. Organisasi profesi seperti APRI akan kehilangan makna jika dikuasai ego sektoral atau kepentingan sesaat.
Justru semangat kolaborasi dan kesetaraanlah yang membuatnya hidup. Saat para penghulu bersatu dalam niat yang lurus, di situlah APRI menemukan ruhnya: sebagai wadah pengabdian, bukan panggung kepentingan.
Kita berharap kepemimpinan baru di bawah komando Buya Irham dapat memperkuat sinergi antara penghulu, organisasi, dan Kementerian Agama dalam meningkatkan mutu layanan keagamaan, khususnya di Aceh Tengah.
Dari tepian Danau Laut Tawar yang tenang itu, semoga lahir energi baru untuk membangun APRI Aceh Tengah yang lebih solid, berintegritas, dan bermartabat — serta terus meneguhkan marwah penghulu sebagai pelayan umat yang tulus dan berilmu. Aamiin.[]
Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd; Penghulu dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Sekretaris II PW APRI Provinsi Aceh








