Menikah Itu Saling Menyemangati dan Menguatkan
Oleh: Mahbub Fauzie*
Pernikahan adalah ikatan suci yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizhan, perjanjian yang sangat kuat. Dalam pernikahan, dua insan berjanji untuk hidup bersama, saling mendukung, dan saling menguatkan. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menciptakan pasangan hidup agar manusia merasa tenteram dan di antara mereka tumbuh kasih sayang. Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa menikah bukan hanya perkara legalitas, tetapi juga ikhtiar membangun ruang saling menyemangati dalam menghadapi segala dinamika kehidupan.
Tidak ada rumah tangga yang steril dari ujian. Ada kalanya pasangan diuji dengan keterbatasan ekonomi, perbedaan karakter, kesehatan yang terganggu, hingga masalah sosial di lingkungan sekitar. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang mulia pun tidak luput dari kesulitan. Namun, yang membedakan adalah bagaimana beliau dan keluarganya menyikapi setiap cobaan dengan sabar, saling menguatkan, dan tetap berpegang teguh pada iman.
Di tengah kondisi masyarakat kita saat ini, ujian ekonomi kerap menjadi tantangan terbesar. Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja tidak selalu sejalan dengan harapan, sementara tuntutan keluarga terus berjalan. Pada titik inilah semangat saling menyemangati menjadi sangat penting. Suami tidak boleh menyerah pada keadaan, istri tidak boleh larut dalam keluh kesah. Keduanya harus saling menguatkan bahwa rezeki datang dari Allah, dan setiap ikhtiar yang halal akan berbuah keberkahan.
Sikap saling menyemangati berarti tidak membiarkan pasangan terpuruk sendirian. Ketika suami pulang dengan lelah setelah bekerja, kata-kata lembut dan doa dari seorang istri bisa menjadi penguat luar biasa. Demikian pula, ketika istri menghadapi kepenatan dalam mendidik anak, pelukan dan apresiasi dari suami mampu membuatnya kembali tegar. Inilah makna pernikahan sebagai ladang saling menguatkan.
Rasulullah SAW pernah melewati masa-masa sulit dalam berdakwah. Pada masa itu, Sayyidah Khadijah RA hadir sebagai sumber kekuatan, bukan dengan materi semata, melainkan dengan keyakinan, dukungan moral, dan cinta yang tulus. Keteladanan ini hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dalam membangun rumah tangga yang kokoh menghadapi cobaan.
Selain ekonomi, keluarga kita juga dihadapkan pada tantangan sosial. Fenomena kenakalan remaja, balapan liar, narkoba, judi online, hingga kasus bullying di sekolah adalah masalah yang nyata di sekitar kita, termasuk di Aceh Tengah. Semua itu sering kali berawal dari lemahnya pondasi keluarga. Jika suami-istri tidak saling menguatkan, maka anak-anak pun akan kehilangan teladan.
Maka, menikah itu berarti berkomitmen untuk bersama-sama menghadapi bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga persoalan sosial. Dengan saling menyemangati, pasangan mampu menjaga ketahanan keluarga, membangun komunikasi yang sehat, dan menciptakan lingkungan rumah yang penuh kasih sayang.
Ujian hidup sejatinya bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan iman. Ketika suami-istri saling menyemangati dalam ibadah, mendukung dalam mencari nafkah yang halal, dan saling mengingatkan dalam kesabaran, maka setiap langkah rumah tangga mereka bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah, meskipun hanya tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan meninggikan derajatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberi pelajaran bahwa setiap ujian yang dihadapi dengan kesabaran bersama pasangan adalah jalan menuju ridha Allah.
Menikah adalah perjalanan panjang yang tidak lepas dari ujian. Namun, dengan semangat saling menyemangati dan menguatkan, pasangan suami-istri akan mampu melewati setiap cobaan, baik yang bersifat ekonomi, kesehatan, maupun sosial. Dari rumah tangga yang kokoh inilah akan lahir generasi yang kuat menghadapi tantangan zaman.
Mari kita jadikan pernikahan sebagai wadah saling menguatkan, bukan saling melemahkan. Dengan demikian, cita-cita membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah akan terwujud, dan rumah tangga kita akan senantiasa berada dalam lindungan serta keberkahan Allah SWT. []
*)Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah








