Sebagai seorang penghulu, saya sering menyaksikan dua insan duduk berhadapan dengan wajah berdebar. Ada gugup, harap, dan doa yang diam-diam mengalir di dada. Dalam satu kalimat ijab kabul, hidup mereka berubah selamanya. Bukan menjadi tanpa masalah, tetapi memiliki teman berjalan dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka Bersama. Banyak orang bertanya, “Apakah menikah membuat bahagia?” Pertanyaan itu tidak salah. Namun pernikahan bukan tentang menemukan bahagia yang sudah jadi. Ia adalah tentang membangun bahagia bersama, sedikit demi sedikit, dari hari ke hari. Allah SWT berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa pernikahan adalah tempat pulang bagi jiwa. Tempat seseorang yang tidak perlu berpura-pura kuat, karena ada pasangan yang siap mendengar, memahami, dan menguatkan. Namun bahagia dalam pernikahan tidak selalu berbentuk tawa. Kadang ia hadir dalam sabar yang panjang, dalam memaafkan yang berulang, dan dalam doa yang tidak pernah putus. Tidak ada rumah tangga tanpa perbedaan. Yang ada hanyalah pasangan yang memilih untuk bertahan dan menyelesaikan, bukan pergi dan meninggalkan. Sebagai penghulu, saya belajar bahwa pernikahan yang kokoh bukan milik mereka yang sempurna, melainkan milik mereka yang mau belajar. Belajar menahan ego, belajar mendengar, dan belajar mencintai dengan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi cermin bagi setiap pasangan bahwa kebaikan sejati tidak diukur di luar rumah, tetapi di dalamnya. Bahagia akan tumbuh bersama ketika suami dan istri saling menjaga lisan, sikap, dan perasaan. Menikah juga berarti siap saling menuntun menuju kebaikan. Ketika iman melemah, pasangan menguatkan. Ketika langkah goyah, pasangan menggenggam. Kebahagiaan tertinggi dalam pernikahan bukan hanya hidup bersama di dunia, tetapi harapan untuk dikumpulkan kembali kelak di akhirat. Maka menikahlah dengan niat yang lurus. Niat beribadah, bukan sekadar mengejar rasa. Karena cinta yang diniatkan karena Allah akan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah ujian.
Akhir,
Wahai para calon pengantin, menikahlah bukan karena hidup akan selalu mudah, tetapi karena kalian siap saling membersamai dalam suka maupun duka. Jagalah pernikahan dengan kejujuran, kesetiaan, dan doa. Jika suatu hari bahagia terasa jauh, ingatlah kembali niat awal saat akad itu terucap. Menikahlah, dan temukan bahagiamu dalam sabar, syukur, dan cinta yang dirawat bersama dalam balutan indahnya pernikahan.
Doa:
“Ya Allah, satukan kami dalam pernikahan yang Engkau ridhai. Jadikan rumah tangga kami sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kuatkan kami dalam iman, lapangkan kami dalam sabar, dan akhirkan langkah kami dalam kebaikan.” Aamiin.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








