Menu

Mode Gelap

Hikmah · 21 Feb 2026 19:26 WIB ·

Menyingkap Tabir Kemuliaan: Deretan Pahala Spektakuler Shalat Tarawih 30 Malam

Penulis: NUROHMAN AS-SYIRBONY


 Menyingkap Tabir Kemuliaan: Deretan Pahala Spektakuler Shalat Tarawih 30 Malam Perbesar

MENYINGKAP TABIR KEMULIAAN: DERETAN PAHALA SPEKTAKULER SHALAT TARAWIH 30 MALAM

Oleh Nurohman As-Syirbony[1]

 Salat Tarawih merupakan salat sunah muakadah yang dianjurkan untuk dikerjakan kaum muslim pada malam Ramadhan. Rasulullah Saw. mencontohkan pelaksanaan salat Tarawih secara langsung sebagaimana diceritakan dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah Ra. sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: “قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ” وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ   (رواه البخاري ومسلم)

“Bahwasanya Rasulullah SAW pada suatu malam shalat di masjid, lalu para sahabat mengikuti shalat beliau. Kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan jamaah bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi hari, beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali aku takut shalat ini akan diwajibkan atas kalian’. (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini memberikan gambaran objektif bahwa Nabi Muhammad SAW memang pernah melaksanakan shalat Tarawih di masjid pada awal bulan Ramadhan. Namun, menariknya, saat melihat antusiasme para sahabat yang begitu besar, Nabi justru memilih untuk tidak hadir ke masjid pada malam ketiga atau keempat.

Secara metodologis, terdapat dua alasan fundamental di balik keputusan Rasulullah tersebut

1.Kekhawatiran akan Perubahan Status Hukum:

Rasulullah sangat berhati-hati jangan sampai Allah menurunkan wahyu yang mewajibkan shalat Tarawih karena melihat konsistensi umat dalam berjamaah. Beliau menyadari bahwa kewajiban ini bisa menjadi beban berat (masyaqqah) bagi generasi umat Islam di masa depan yang mungkin tidak memiliki kapasitas energi dan semangat yang sama dengan para sahabat.

2.Menghindari Salah Persepsi (Mispersepsi) Umat:

Beliau ingin menegaskan batasan antara ibadah wajib dan sunah. Rasulullah khawatir jika beliau terus-menerus melakukannya di masjid, umat akan menyimpulkan secara permanen bahwa Tarawih adalah shalat wajib. Dengan tidak hadirnya beliau, hal itu menjadi pesan simbolis bahwa shalat ini adalah ruang keutamaan (sunah), bukan keharusan hukum.

Dua sebab itu dijelaskan sebagaimana keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari:

    أَنَّهُ إِذَا وَاظَبَ عَلَى شَيْء مِنْ أَعْمَال الْبِرّ وَاقْتَدَى النَّاس بِهِ فِيهِ أَنَّهُ يُفْرَض عَلَيْهِمْ 

 Artinya

Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya.” 

Sikap Rasulullah SAW tersebut bukan sekadar absen dari masjid, melainkan sebuah demonstrasi kasih sayang yang visioner terhadap umatnya. Beliau lebih memilih menahan kerinduan berjamaah demi memproteksi umat dari potensi beban syariat yang memberatkan. Dari fenomena sejarah ini, kita dapat membedah tiga simpulan krusial:

  1. Proteksi Syariat di Balik Ketidakhadiran

Nabi Muhammad SAW tercatat hanya memimpin shalat Tarawih berjamaah secara terbuka selama dua malam. Keputusan beliau untuk “menarik diri” pada malam berikutnya adalah langkah preventif agar Allah tidak menurunkan wahyu yang mewajibkan ibadah ini. Beliau tidak ingin antusiasme sesaat menjadi beban permanen bagi umat generasi mendatang.

  1. Legalitas Sunnah yang Eksklusif

Salat Tarawih mutlak berstatus Sunnah Mu’akkadah. Meskipun Nabi tidak selalu melakukannya di masjid, kecintaan beliau terhadap ibadah ini serta anjuran personalnya kepada para sahabat menjadi legitimasi kuat bahwa Tarawih adalah ruang meraih pahala tanpa jerat kewajiban.

  1. Fleksibilitas Rakaat: Ruang Tanpa Sekat

Secara tekstual, hadis tersebut tidak mematok angka mati terkait jumlah rakaat. Ketiadaan rincian teknis mengenai bilangan rakaat ini menunjukkan bahwa Tarawih memiliki fleksibilitas tinggi, memberikan ruang bagi umat untuk beribadah sesuai dengan kesanggupan dan kekhusyukan masing-masing. Namun Rasulallah SAW menganjurkan Qiyamu Ramadan (HR. Bukhari & Muslim):

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ، فَيَقُولُ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Rasulullah SAW menganjurkan untuk melakukan qiyamu Ramadan [shalat Tarawih], tetapi tidak mewajibkannya [bukan perintah keras],sebagaimana sabda beliau: ‘Barang siapa yang terjaga [melakukan qiyam] pada Ramadan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosanya yang telah lalu’.”

Salat tarawih dapat dikerjakan secara munfarid (sendirian) maupun berjemaah di rumah maupun tempat ibadah. Namun, pelaksanaan salat tarawih yang utama adalah secara bersama-sama di masjid maupun musala sekaligus menunaikan salat isya berjemaah. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 من قام مع الإمامِ حتى ينصرفَ كتب اللهُ له قيامَ ليلةٍ

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam (shalat Tarawih) satu malam penuh”

(HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keutamaan dan Pahala Salat Tarawih Malam 1-30

Dalam khazanah literatur Islam, salah satu kitab yang sangat populer membahas janji pahala shalat Tarawih adalah Durratun Nasihin fil Wa’zhi wal Irsyad. Kitab yang disusun pada tahun 1804 M (1224 H) oleh Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubawi ini, selama berabad-abad menjadi rujukan utama bagi para mubaligh untuk memompa semangat ibadah umat melalui rincian fadhilah malam demi malam.

Namun, dalam mengkaji teks-teks keutamaan di dalamnya, kita perlu bersikap bijak dan proporsional. Sebagai pembanding ilmiah, terdapat studi kritis seperti buku “Hadits-Hadits Lemah dan Palsu Dalam Kitab Durratun Nasihin” karya Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, M.A. Karya ini hadir untuk memberikan edukasi serta ketelitian (check and balance) bagi umat Islam agar tetap berpijak pada landasan riwayat yang kuat dalam beribadah.

Senada dengan hal tersebut, dalam ulasannya yang bertajuk “Tidak Ada Fadhilah Taraweh, Benarkah?” di kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya memberikan perspektif yang menyejukkan. Beliau menegaskan bahwa inti dari keutamaan shalat Tarawih adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lampau. Poin ini merupakan janji saklek dari Rasulullah SAW bagi siapa saja yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan ketulusan, sebagaimana termaktub dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim. Dengan kata lain, meski rincian pahala per malam dalam Durratun Nasihin menjadi diskusi di kalangan ahli hadis, esensi bahwa Tarawih adalah penggugur dosa tetaplah sebuah kepastian hukum yang tidak terbantahkan

Salat Tarawih Malam Ke-1:

يَخْرُجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِى اَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ

“Pada salat Tarawih Malam pertama, dosa orang mukmin [yang melakukan tarawih] akan keluar seperti ketika ibunya melahirkan ia ke dunia.”

Salat Tarawih Malam Ke-2:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ يُغْفَرُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ اِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua, orang yang salat Tarawih akan diampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya jika keduanya mukmin.”

Salat Tarawih Malam Ke-3:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ يُنَادِيْ مَلَكٌ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ اِسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ

“Pada salat Tarawih Malam ketiga, malaikat di bawah Arasy berseru: mulailah melakukan amal kebaikan, maka Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu.”

Salat Tarawih Malam Ke-4:

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةِ لَهُ مِنَ الْاَجْرِ مِثْلُ قِرَاءَةِ التَّوْرَاتِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالْفُرْقَانِ

“Pada salat Tarawih Malam keempat, dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala seseorang yang membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”

Salat Tarawih Malam Ke-5:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ اَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مِثْلَ مَنْ صَلَّى فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ الْمَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَالْمَسْجِدِ الْاَقْصَى

“Pada salat Tarawih Malam kelima, Allah memberikan pahala seperti pahala seseorang yang salat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.”

Salat Tarawih Malam Ke-6:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ اَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ حَجَرٍ وَمَدْرٍ

“Pada salat Tarawih Malam keenam, Allah memberikan pahala seperti pahala malaikat yang tawaf di Baitul Makmur dan setiap batu dan tanah pun memintakan ampunan untuknya.”

Salat Tarawih Malam Ke-7:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا اَدْرَكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَنَصَرَهُ عَلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ

“Pada salat Tarawih Malam ketujuh, seakan-akan menemui zaman Nabi Musa AS dan menolongnya dari serangan Fir’aun dan Haman.”

Salat Tarawih Malam Ke-8:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ اَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مَا اَعْطَى اِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

“Pada salat Tarawih Malam kedelapan, Allah memberi anugerah sebagaimana anugerah yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim.”

Salat Tarawih Malam Ke-9:

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالَى عِبَادَةَ النَّبِىِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

“Pada salat Tarawih Malam kesembilan, seakan-akan beribadah kepada Allah sebagaimana ibadahnya para nabi.”

Salat Tarawih Malam Ke-10:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْعَاشِرَةِ يَرْزُقُهُ اللهُ تَعَالَى خَيْرَىِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Pada salat Tarawih Malam yang kesepuluh, Allah akan memberikan kebaikan yang lebih baik di dunia maupun di akhirat.”

Salat Tarawih Malam Ke-11:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا كَيَوْمٍ وُلِدَ مِنْ بَطْنِ اُمِّهِ

“Pada salat Tarawih Malam kesebelas, kelak ia akan meninggal dunia seperti keadaan dimana ia baru dilahirkan dari perut ibunya.”

salat Tarawih Malam Ke-12:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua belas, pada saat hari kiamat wajahnya bersinar bagaikan bulan di salat Tarawih Malam purnama.”

Salat Tarawih Malam Ke-13:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمْنًا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ

“Pada salat Tarawih Malam ketiga belas, pada saat hari kiamat ia akan selamat dari segala macam keburukan.”

Salat Tarawih Malam Ke-14:

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ جَاءَتِ الْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُوْنَ لَهُ اَنَّهُ قَدْ صَلَّى التَّرَاوِيْحَ فَلَا يُحَاسِبُهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Pada salat Tarawih Malam keempat belas, malaikat menjadi saksi bahwa ia melakukan salat tarawih.” Maka Allah tidak akan menghisabnya kelak di hari kiamat.”

Salat Tarawih Malam Ke-15:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ تُصَلِّى عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ وَالْكُرْسِىِّ

“Pada salat Tarawih Malam kelima belas, para malaikat, malaikat penyangga Arsy dan para malaikat penjaga kursi kerajaan langit akan memintakan ampunan untuknya.”

Salat Tarawih Malam Ke-16:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةَ عَشَرَةَ كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةَ النَّجَاةِ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةَ الدُّخُوْلِ مِنَ الْجَنَّةِ

“Pada salat Tarawih Malam keenam belas, Allah mencatat kebebasan selamat dari neraka dan kebebasan masuk surga baginya.”

Salat Tarawih Malam Ke-17:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةَ عَشَرَةَ يُعْطَى مِثْلَ ثَوَابَ الْاَنْبِيَاءِ

“Pada salat Tarawih Malam ketujuh belas, akan diberi pahala sebagaimana pahala para Nabi.”

Salat Tarawih Malam Ke-18:

وَفىِ اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةَ عَشَرَةَ نَادَى مَلَكٌ يَاعَبْدَ اللهِ اَنَّ اللهَ رَضِىَ عَنْكَ وَعَنْ وَالِدَيْكَ

“Pada salat Tarawih Malam kedelapan belas, malaikat berkata: wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah telah meridaimu dan kedua orang tuamu.”

Salat Tarawih Malam Ke-19:

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةَ عَشَرَةَ يَرْفَعُ اللهُ دَرَجَاتَهُ فِى الْفِرْدَوْسِ

“Pada salat Tarawih Malam kesembilan belas, Allah akan mengangkat derajatnya di surga Firdaus

Salat Tarawih Malam Ke-20:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْعِشْرِيْنَ يُعْطَى ثَوَابَ الشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh, akan diberi pahala seperti pahala orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.”

Salat Tarawih Malam Ke-21:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ مِنَ النُّوْرِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh satu, Allah akan membangun rumah di surga yang terbuat dari cahaya untuknya.”

Salat Tarawih Malam Ke-22:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالْعِشْرِيْنَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنْ كُلِّ غَمٍّ وَهَمٍّ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh dua, jika hari kiamat tiba maka ia akan selamat dari segala macam kesusahan dan kebingungan.”

Salat Tarawih Malam Ke-23:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَنَى اللهُ لَهُ مَدِيْنَةً فِى الْجَنَّةِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh tiga, Allah akan membangun kota di dalam surga untuknya.”

Salat Tarawih Malam Ke-24:

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةِ وَالْعِشْرِيْنَ كَانَ لَهُ اَرْبَعٌ وَعِشْرُوْنَ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh empat, akan memperoleh dua puluh empat doa yang mustajab.”

Salat Tarawih Malam Ke-25:

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ وَالْعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَذَابَ الْقَبْرِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh lima, Allah akan menghilangkan siksa kubur darinya.”

Salat Tarawih Malam Ke-26:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ ثَوَابَهُ اَرْبَعِيْنَ عَامًا

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh enam, Allah akan meningkatkan pahalanya selama empat puluh tahun.”

Salat Tarawih Malam Ke-27:

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ جَازَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ كَاْلبَرْقِ اْلخَاظِفِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh tujuh, di hari kiamat ia melewati jembatan siratalmustakim secepat sambaran kilat.”

Salat Tarawih Malam Ke-28:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ اَلْفَ دَرَجَةٍ فِى اْلجَنَّةِ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh delapan, Allah akan mengangkat seribu derajat baginya di surga.”

Salat Tarawih Malam Ke-29:

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ أَعْطَاهُ اللهُ ثَوَابَ اَلْفِ حَجَّةٍ مَقْبُوْلَةٍ

“Pada salat Tarawih Malam kedua puluh sembilan, Allah akan memberikan pahala seribu ibadah haji yang diterima.”

Salat Tarawih Malam Ke-30:

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّلاَثِيْنَ يَقُوْلُ اللهُ يَاعَبْدِى كُلْ مِنْ ثِمَارِ اْلجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ اْلكَوْثَرِ اَنَارَبُّكَ وَاَنْتَ عَبْدِى

“Pada salat Tarawih Malam ketiga puluh, Allah berkata: Makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil, dan minumlah di telaga kautsar.” Sesungguhnya aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku.”

Demikianlah Menyingkap Tabir Kemuliaan: Deretan Pahala Spektakuler Shalat Tarawih 30 Malam. Rangkaian fadhilah ini bukanlah sekadar barisan teks, melainkan undangan terbuka dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang rindu akan ampunan dan derajat yang tinggi.

Semoga untaian keutamaan ini menjadi bahan bakar ruhani yang membakar semangat kita untuk tetap istiqamah, merapatkan barisan di masjid, dan tidak membiarkan satu malam pun berlalu tanpa sujud Tarawih. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum transformasi diri, menjemput janji pengampunan, dan meraih kemenangan yang hakiki.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: 

Kitab Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khaubawi Fashlun fi Fadhaili Syahri Ramadhan/ https://dn711404.ca.archive.org/0/items/dorrat_annasehine/dorrat_annasehine.pdf

https://banten.nu.or.id/ramadhan/sejarah-dan-hukum-shalat-tarawih-U13m5
https://jatim.nu.or.id/keislaman/keutamaan-shalat-tarawih-dalam-kitab-durratun-nasihin-1U7DJ#:~:text=*%20Opini.%20*%20Keislaman.

[1] Kepala KUA Saketi Pandeglang dan Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Addhiya Cimanuk dan Calincing Pasirmae Cipeucang Pandeglang

5 3 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 44 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Puasa dan Etos Kerja

21 Februari 2026 - 17:38 WIB

UJIAN DALAM HARAPAN DOA (PART 1)

14 Februari 2026 - 09:48 WIB

Bersyukur dan Bersabar Kunci Kebahagiaan Keluarga Surgawi

13 Februari 2026 - 22:46 WIB

Dahsyatnya Pahala Shadaqah

13 Februari 2026 - 22:37 WIB

Otoritas dan Akuntabilitas Spiritual: Refleksi Kepemimpinan dalam Maqolah Kelima Nashaihul ‘Ibad

13 Februari 2026 - 08:13 WIB

Balada Si Tukang Tahu

11 Februari 2026 - 23:02 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x