NO REKENING
Pagi itu matahari begitu cerah langit pun kelihatan membiru binatang binatang peilharaan pun berlompatan dikandang tampak semangat untuk memulai harinya para pekerja pun semangat untuk kembali bekerja mencari maisyah umtuk keluarganya. Jam baru menunjukkan 07.00 tapi cerah harinya seakan akan mengatakan pukul 08.00 pak penghulu pun bersiap segera berangkat ke kantor KUA dimana ia bekerja untuk menghidupi keluarganya.
Setelah selasai mandi dan sholat dhuha ia pun mengenakan baju dinas yang tergantung di lemari yang masih dalam hangernya, dipastikannya satu persatu kancingnya masuk ke lobang masing masing dikenakannya jam tangan warna siver, di rabanya kantong baju sebelah kiri memastikan pena sudahkan di didalamnya, dicabutnya HP yang dari sejam yang lalu dicasnya, dilihatnya sekilas layar HP itu tak ada notifikasi apapun.
“Mak“ katanya memanggil istrinya mengikuti panggilan anak anaknya sebagai panggilan sayang “ayah duluan ya” lanjutnya, tangannya pun menjulur ke arah istrinya. Di raih istrinya tangan pak penghulu itu dan diciumnya “ iya yah, umak juga akan berangkat ni” jawab istrinya. Ia melangkah ke garasi tangannya mengambil kontak motor setelah memakai jaket sebelumnya dan ia pun duduk di jok motornya diputarnya kontak di tekannya star, motor supra lama itupun hidup di biarkannya beberapa saat. Kemudian dengan lincah kaki kirinya naik ke pedal “cetek” perlahan motornya pun melaju kedepan hingga ia tak tampak lagi.
Sampai di kantor diparkirnya motor di tempat ia biasa parkir, setelah mati mesinnya ia buka helm dan jaket motornya, peci hitam dipakainya lalu melangkah ke kantor
“Assalamu alaikum” ucapnya
“Waalaikum salam “ kata aripin, pegawai operator yang dari tadi sudah duduk di maja kerjanya.
“Pak,.. ada nikah hari ini di desa Srimenanti” lanjutnya
“Jam berapa fin” tanya pak penghulu
“Jadwalnya jam 08.00 tapi di tunggu aja telponnya “
“Manten laki dari jauh?” Selidiknya
“Gak tau pak,Itu berkasnya pak “ balas lelaki yang suka rambut gondrong itu
Pak penghulu mengambil berkas yang sudah tergeketak di maja, lalu ia membuka kancing map berkas dikeluarkannya map batik yang ada didalam berkas di bolak baliknya lembar perlembar. “dua duanya dari sri menanti..” katanya setelah memeriksa dengan seksama berkas yang akan di bawa ke acara pernikahan tersebut.
Pak penghulu duduk sebentar ia membuka hp sambil bermain dengan gadgetnya, tiba tiba, HP mas rifin berbunyi, tanda ada seorang yang memanggil.
“ini paling pak “ katanya “ iya benar pak “ lanjutnya. Ia menyentuh lambang telpon warna hijau lalu “hallo… asaalamu alaikum” … ia diam sejenak dan “manten dah siap pak?” katanya lagi “ok, pak penghulunya berangkat ni..” katanya melanjutkan, “assalamu alaikum” Tutupnya.
“Iya pak mantennya dah siap, acaranya, arah ke arah kali, gak jauh dari pertigaan, nanti ada rame rame ya disitu.. kayanya gak ada tarup” lanjutnya
“Itu gak ada amplop sumbangan lho pak,” kata mbak ari menimpali
“Iya tha.. kok bisa” selidik pak penghulu
“Maharnya gede” Sambung mbak ari “ dua ratus delapan puluh dua juta rupiah” lanjutnya
“Iya ya…. “sambut pak penghulu
“pokoknya arah kali ya fin” kata pak penghulu lagi
“Iya pak” ripin menegaskan.
Pak penghulu pun berangkat bertugas ke tempat yang dituju tersebut.
Benar tempatnya tak jauh dari pertigaan, setelah belok, kelihatan mobil dan motor banyak parkir di sana. Tamu tamu undangan yang melihat pak penghulu tersenyum, lalu datang pak kadus menghampiri motor pak penghulu,
“sini aja pak!” tunjuknya ke arah motor yang telah banyak parkir di sana.. pak penghulu langsung membelokkan motornya ke parkiran tersebut
“sehat pak?“ tanya pak kadus basa basi,
“alhamdulillah sehat” jawab pak penghulu
“mari pak” lanjut pak kadus menerobos antrian orang banyak untuk masuk ke lokasi, sementara pak kadus dan pak penghulu langsung ke depan ke barisan meja bundar dan mempersilahkan pak penghulu duduk tepat di samping pak camat yang sudah dari tadi disana..
“Silahkan pak” kata pak camat
“Iya pak, makasih” jawab pak penghulu
Acarapun di mulai sekilas mata pak penghulu berjalan dari sisi kiri sampai sisi kanan panggung tidak ada kotak amplop atau yang sejenis untuk tempat sumbangan disana “ia ya… kayanya benar tidak ada sumbangan amplop” bathin pak penghulu.
Sambutan dari pihak laki laki dan penyerahan dan sambutan dari pihak perempuan sekaligus penerimaan pun selesai, kini tiba acara akad nikah acara yang dinanti oleh kedua mempelai dan semua tamu yang datang
Setelah dipastikan tidak ada lagi yang di tunggu pak penghulu pun memulai acara akad nikah itu. Akad nikah itu dilaksanakan dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, tidak ada kendala semua berjalan lancar hanya sekali saja pengulangan akad nikahnya. Setelah itu disahkan oleh saksi dan kedua mempelai itupun sah menjadi suami istri. Setelah selesai akad nikah pak penghulu memastikan pengantin perempuan menerima maharnya yang pantastis tadi. Biasanya mahar mempelai perempuan di daerah itu hanya seratus ,dua ratus paling banter lima ratus ribu rupiah.
Setalah mahar diterima, pak penghulu kemudian menyuruh kedua mempelai untuk salam salaman ke para tamu undangan, sementara ia kembali ketempat semula di dekat pak camat. Pak penghulu duduk sebentar dengan pak camat setelah beberapa menit “pak saya duluan” ucap pak penghulu sambil menyodorkan tangan meminta disalam oleh pak camat “terus” kata pak camat “nggak makan dulu” kejarnya “masih ada satu lagi pak” jelas pak penghulu pak camat pun menerima tangan pak penghulu sambil berucap “terima kasih ya” pak penghulu pun menyalami tamu tamu yang ada di sekitarnya dan di sekelilingnya, Ia berjalan ke arah pintu keluar, beberapa tamu menatapnya dengan senyum ramah yang lain mengganggukan kepala memberi isyarat “silahkan pak” ia berjalan dengan langkah kaki yakin unutk meninggalkan pesta pernikahan tersebut.
Di ujung tarup di tempat penerimaan tamu pak penghulu kembali menyalami para tamu-tamu laki-laki diantaranya ada pak kadus, saat salam sama pak kadus tangannya tak dilepas karena dari tadi posisi pak kardus di barisan terakhir. Seiring langkah pak penghulu, pak kadus terus mengikuti setelah agak jauh dari keramaian ia berbisik “pak,.. yang punya hajat tidak menyiapkan amplop, jadi pesan beliau tinggalkan nomor rekening” sambil tersenyum, “kan hajatan ini tidak becek , tidak punya kotak sumbangan” sambungnya. Selanjutnya di samping pelaminan sebelah kanan tidak ada memang kotak tidak juga sebelah kirinya.
Memori pak penghulu berjalan menyusuri tempat pelaminan yang sempat ia rekam tadi, ia menatap pak kadus sambil tersenyum kurang yakin, pak kadus membalas tatapannya sambil menganggukkan kepala sedikit sebagai isyarat “ini benaran!”. “Ya udah pak, nanti saya kirim ke pak kadus, pak kardus yang meneruskan ke yang punya hajat” lanjut pak penghulu “siap” jawab pak kadus.
Pak penghulu pun pulang ke kantor, yang tidak begitu jauh dari tempat hajatan. Sampai di kantor, masih terngiang anggukan kecil pak kadus , “ini bener nggak?” bathinnya, ia terus dihantui oleh nomor rekening yang jika dikirim akan mendapatkan transfer sebagai rasa terimakasih, karena mahar yang fantastis itu, kalau maharnya biasa saja mungkin ia tidak pernah memikirkannya. Lama pak penghulu tidak mengirimkan nomor rekening itu tetapi ia kembali dihantui anggukan pak kadus, pikirannya lagi-lagi ragu-ragu, tangannya gatal unutk mengirimkan screan shot ebanking ke pak kadus.
“ting” bunyi notifikasi terdengar dari HP pak penghulu. WA dari pak kadus, hanya ping dari pak kadus. Pak penghulu berfikir ulang lagi. Lalu dengan memberanikan diri ia mengirimkan nomor rekening itu kepada pak kadus, Sorenya ia berharap ada notifikasi duit masuk di HP nya, sampai malam tidak ada notifikasi yang ditunggu itu, besok harinya pagi-pagi ia masih berharap melihat HP dengan notifikasi sms BRI. Ia sudah mulai berdamai dengan harapannya.
Sekitar jam 15:00 terdengan bunyi suara sms. Ia penasaran dilihatnya notifikasi BRI uang masuk sejumlah 3 digit, ia tersenyum ini mungkin dari keluarga pengantin kemarin bhatinnya, Ia begitu senang “akan kuceritakan kepada istriku” batinnya, ia pun tergesa-gesa pulang dari kantor. sesampainya di rumah ia mulai menceritakan semua itu kepada istrinya, istrinya pun tersenyum
“Alhamdulillah” kata istrinya, “jangan senang dulu yah” sambungnya “mana HP ayah” lanjutnya “coba mana saya lihat” sambil penasaran,
Setelah membuka HP, istri pak penghulu tersenyum “ yah… ini uang gaji…. bukan uang rasa terimakasih dari penganten“ katanya
“hah … ini kan, tanggal dua puluh sembilan, kemarin tanggal dua lapan, hari ini belom tanggal satu “ ucapnya “ yahh…. ini bulan februari tahun bashithoh“ kata istrinya “jadi hari ini tanggal satu maret, bukan 29 februari“ tegas istrinya “oiya ya … berarti itu uang gaji!?” tanyanya pada istri menegaskan, meyakinkan bahwa dia salah “ hehehehe…” sontak pak penghulu dan bu penghulu tertawa bersama dalam kurang ketelitiannya ..








