Menu

Mode Gelap

Pernikahan · 19 Feb 2026 08:39 WIB ·

Persiapan Psikologis Sebelum Menikah: Tips dan Trik Mengelola Konflik

Penulis: Ahmad Faaza Hudzaifah


 Persiapan Psikologis Sebelum Menikah: Tips dan Trik Mengelola Konflik Perbesar

Menikah bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga dua latar belakang, kebiasaan, emosi, dan cara berpikir yang berbeda. Banyak pasangan fokus pada kesiapan finansial dan acara pernikahan, tetapi lupa bahwa kesiapan psikologis justru menjadi penentu utama keberlangsungan rumah tangga.

Salah satu aspek terpenting dari kesiapan psikologis adalah kemampuan mengelola konflik. Dalam hal ini penulis bukan ahli psikologi, tetapi apa yang penulis jabarkan selnjuatnya merupakan hasil bacaan penulis dari karya-karya John. M. Gottman (seorang psikolog pakar pernikahan).

1. Pahami: Konflik Itu Pasti, Bukan Tanda Gagal

Kesalahan paling umum sebelum menikah adalah keyakinan bahwa:

“Kalau sudah cocok, nanti jarang bertengkar.”

Faktanya dalam perniakahn itu konflik pasti terjadi, rumah tangga tanpa adalah hal yang tidak realistis. Bedanya antara pasangan sehat dan tidak sehat bukan ada atau tidaknya konflik, tapi bagaimana cara mereka mengelola ‘konflik’ tersebut.

Konflik adalah sinyal adanya perbedaan, bukan ancaman.

2. Kenali Pola Emosi Diri Sendiri

Sebelum mengelola konflik dengan pasangan, seseorang perlu mengenal dirinya sendiri:

Apakah saya tipe diam & memendam? Apakah saya meledak-ledak saat emosi? Apakah saya cenderung menghindar saat masalah muncul?

Selalu ingat konflik terakhir dengan orang terdekat, kemudian evaluasi dari sisi apa pemicunya, bagaimana itu terjadi dan lain sebagainya.

3. Belajar Komunikasi Asertif, Bukan Agresif

Komunikasi agresif arahnya adalah Menyalahkan, menghakimi, merendahkan, selalu menggunakan kata, “kamu, kamu, kamu”

Sedangkan komunikasi asertif arahnya adalah bagaiman kita menyampaikan pendapat kita, namun tetap menghargai pasangan

Contoh:

Daripada mengatakan “Kamu memang egois!”

Lebih baik: “Aku merasa tidak didengarkan saat kamu begitu.”

Perubahan kecil dalam cara kita berbicara sangat bisa menurunkan konflik.

Rumah tangga yang kuat bukan tanpa kesalahan, tapi cepat pulih setelah konflik. Manajemen konflik merupakan salah satu kunci bagaimana rumah tangga bisa bertahan kuat.

Dengan memahami konflik sebagai bagian yang natural dari pernikahan, pasangan suami istri akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh dalam membangun rumah tangga yang sehat, dewasa, dan penuh makna.

 

Referensi:

-The Seven Principles for Making Marriage Work
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. New York: Crown Publishers.

-Eight Dates: Essential Conversations for a Lifetime of Love
Gottman, J. M., Gottman, J. S., Abrams, D., & Abrams, R. (2019). Eight dates: Essential conversations for a lifetime of love. New York: Workman Publishing Company.

4 4 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 54 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

ANAK PUNK

5 April 2026 - 21:02 WIB

MENIKAHI SEPUPU

3 April 2026 - 20:52 WIB

THREE IN ONE

2 April 2026 - 13:19 WIB

EKA DAN DEWI

1 April 2026 - 06:10 WIB

JANGAN SALAH PILIH PASANGAN (12) (Pasangan yang  Harus Dihindari)

31 Maret 2026 - 05:20 WIB

CINEMA XXI

28 Maret 2026 - 07:35 WIB

Trending di Novel
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x