Menu

Mode Gelap

Hikmah · 21 Feb 2026 17:38 WIB ·

Puasa dan Etos Kerja

Penulis: Deni Firman Nurhakim


 Puasa dan Etos Kerja Perbesar

Ada yang mengatakan, berpuasa itu berpengaruh kepada turunnya semangat kerja. Puasa menjadikan orang bekerja kurang bergairah, karena tubuh cepat lelah dan tidak ingin yang susah-susah. Akibatnya, produktifitas kerja pun menurun. Sepintas, puasa dan etos kerja itu tidak berkorelasi secara positif. Benarkah demikian?

Mari kita coba telaah hubungan antara puasa dengan etos kerja itu dari perspektif yang lebih mendalam, bukan sekadar selayang pandang.

***

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.

Semangat dalam bekerja tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari ragam faktor, baik yang datang dari diri sendiri (intrinsik) maupun dari luar (ekstinsik). Secara sosiologis, cara seseorang bekerja itu sangat dipengaruhi oleh nilai, norma, agama, sistem ekonomi, dan lingkungan sosial tempat ia hidup.

Dilihat dari tiga pemengaruh pertama, bila didalami secara saksama, puasa itu memberikan afinitas (dorongan) bagi timbulnya etos kerja yang produktif. Hal tersebut tercermin dari hal-hal sebagai berikut:

Pertama, dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 183 disebutkan, tujuan puasa yang seharusnya diperjuangkan adalah untuk mencapai derajat takwa, “… la’allakum tattaquun”. Tapi -sebagaimana sabda Nabi Saw- alih-alih meraih predikat takwa, banyak orang yang berpuasa itu hanya mendapati rasa lapar dan dahaga saja. Padahal, menahan rasa lapar dan dahaga itu hanya sarana belaka dalam berpuasa, bukan tujuan. Adapun tujuan riilnya adalah merasakan kehadiran Allah. Dan ‘rasa’ itulah yang menjadikan orang tergerak untuk menjalankan perintah Allah dan menghindari larangan-Nya (baca: bertakwa).

Apabila nilai takwa tersebut menjadi landasan seseorang dalam bekerja, maka sekalipun tidak ada pimpinan yang melihat atau mengawasinya ia tetap bekerja dengan baik dan produktif. Terlebih lagi, Allah Swt menitahkan hamba-hambaNya untuk terus produktif,

“Apabila engkau telah selesai (mengerjakan suatu pekerjaan), maka kerjakanlah yang lainnya !”

(Q.S. Al-Insyirah/94:7).

Kedua, puasa mengandung nilai kesediaan menunda kesenangan, seperti menahan diri dari lapar, dahaga, dan melakukan hubungan suami-isteri. Apabila butir ini dianut sebagai prinsip dalam bekerja, maka hal tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengukir prestasi di bidang apapun, kita harus berusaha keras dan berani menunda bahkan mengorbankan kesenangan. Karena sebagaimana terrekam dalam Q.S. Ar-Ra’d (13): 11, Allah Swt tidak akan mengubah nasib seseorang bila pada dirinya itu tidak terdapat tekad membaja yang menggerakkan segenap potensi yang dimilikinya untuk berubah.

Ketiga, dengan menjalankan puasa kita diajak untuk merasakan derita orang-orang yang dicoba Allah dengan lilitan lapar dan dahaga. Ajakan ini mengajarkan kepada kita untuk bersikap peka dan peduli terhadap sesama. Apabila prinsip ini diterapkan dalam bekerja, maka sisi terpenting dalam bekerja adalah bukan bagaimana kita segera menyudahi pekerjaan dan kemudian menerima upahnya. Melainkan, bagaimana pekerjaan itu menjadi ‘sajadah panjang’ bagi kita serta bisa membawa manfaat bagi banyak orang. Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain”

(H. R. Ahmad dan Ath-Thabrani).

***

‘Alaa kulli haal, kini menjadi jelas bagi kita bahwa lemasnya tubuh saat berpuasa sebenarnya menyimpan nilai-nilai besar bagi peningkatan etos kerja produktif kita. Persoalannya, apakah kita mau mendayagunakannya atau tidak? Semoga saja, iya. Wallahu A’lam bis Showab.

———————————————————————————–

Penulis adalah Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Karawang Timur di Kantor Kemenag Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Previous Post Keutamaan Ramadhan
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 12 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Menyingkap Tabir Kemuliaan: Deretan Pahala Spektakuler Shalat Tarawih 30 Malam

21 Februari 2026 - 19:26 WIB

UJIAN DALAM HARAPAN DOA (PART 1)

14 Februari 2026 - 09:48 WIB

Bersyukur dan Bersabar Kunci Kebahagiaan Keluarga Surgawi

13 Februari 2026 - 22:46 WIB

Dahsyatnya Pahala Shadaqah

13 Februari 2026 - 22:37 WIB

Otoritas dan Akuntabilitas Spiritual: Refleksi Kepemimpinan dalam Maqolah Kelima Nashaihul ‘Ibad

13 Februari 2026 - 08:13 WIB

Balada Si Tukang Tahu

11 Februari 2026 - 23:02 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x