Tahun 2025 perlahan menutup lembarannya. Bagi seorang penghulu, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka, tetapi momentum untuk bercermin terhadap sejauh mana amanah telah ditunaikan, seberapa tulus pelayanan yang diberikan, dan sedalam apa makna pernikahan berhasil ditanamkan kepada masyarakat. Sepanjang tahun ini, penghulu hadir di banyak momen sakral. Menyaksikan dua insan mengikrarkan janji suci, menyatukan harap dan doa di hadapan Allah SWT. Ada wajah-wajah bahagia, ada pula cerita di baliknya—tentang perjuangan, tentang restu orang tua, bahkan tentang luka yang mencoba disembuhkan melalui ikatan pernikahan. Semua itu menjadi pengingat bahwa tugas penghulu bukan hanya mencatat peristiwa hukum, tetapi juga menjaga nilai, adab, dan ruh pernikahan itu sendiri.
Tahun 2025 juga menjadi tahun penuh tantangan. Dinamika sosial semakin kompleks. Kesadaran hukum sebagian masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak jarang penghulu dihadapkan pada tuntutan pelayanan yang serba cepat, pragmatis, bahkan kadang mengabaikan prosedur dan etika. Di sinilah integritas diuji. Apakah kita tetap teguh pada aturan, atau tergoda untuk mengalah demi kenyamanan sesaat. Di balik tantangan itu, ada pula rasa syukur. Masih diberi kesempatan mengabdi, masih dipercaya negara dan umat untuk memegang amanah besar ini. Setiap akad nikah yang berjalan dengan tertib, sah secara syariat dan negara, adalah bentuk ibadah yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas administrasi dan praktek lapangan, niat lurus adalah ruh utama pelayanan penghulu.
Menutup tahun 2025, refleksi terbesar adalah kesadaran bahwa seorang penghulu harus terus belajar. Belajar memahami regulasi yang berkembang, belajar membaca realitas masyarakat, dan belajar merawat empati. Penghulu bukan sekadar petugas akad, tetapi juga pendidik keluarga, penasehat moral, dan penjaga marwah institusi pernikahan. Harapan untuk tahun 2026 pun terangkai dengan sederhana namun mendalam. Semoga penghulu semakin profesional tanpa kehilangan ketulusan dan merasa kurang dalam kesejahteraan. Semoga pelayanan KUA semakin bermartabat, transparan, dan berkeadilan. Semoga masyarakat semakin sadar bahwa pernikahan bukan hanya soal hari bahagia, tetapi komitmen panjang yang membutuhkan kesiapan lahir dan juga batin. Lebih dari itu, harapan terbesar adalah agar setiap penghulu tetap diberi kekuatan untuk istiqamah. Tetap jujur di tengah godaan, tetap ramah di tengah lelah, dan tetap sabar di tengah keterbatasan. Karena sejatinya, keberhasilan penghulu tidak diukur dari banyaknya akad, tetapi dari seberapa banyak keluarga yang terbantu memulai pernikahan dengan benar.
Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan:
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang amanah, kuat dalam kebaikan, dan Engkau ridai setiap langkah pengabdian kami.”
Tahun 2025 telah menjadi guru dan semoga tahun depan menjadi ladang amal kebaikan yang lebih baik. Aamiin.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








