Menu

Mode Gelap

Artikel · 30 Mei 2024 14:17 WIB ·

Resepsi Pernikahan Mewah: Benarkah Kebahagiaan Harus Dibayar Mahal?

Penulis: muhammad hakim


 Resepsi Pernikahan Mewah: Benarkah Kebahagiaan Harus Dibayar Mahal? Perbesar

  • Pernikahan sebagai momen sakral yang penuh makna, menjadi penanda dimulainya babak baru dalam kehidupan. Namun, resepsi pernikahan, yang seharusnya menjadi perayaan sederhana dan penuh kebahagiaan, kini sering kali berubah menjadi ajang pamer kemewahan yang mahal. Pada tahun 2021 menurut data iPrice, rata-rata pesta pernikahan kelas menengah Indonesia bisa menelan biaya hingga Rp 191 juta, dengan asumsi pernikahan dilakukan di gedung dan tamu undangannya 250 orang (Ahdiyat, A, 2023). 

Di tengah masyarakat modern, biaya yang dikeluarkan untuk sebuah resepsi pernikahan kerap kali melambung tinggi, yang bisa menjadi beban yang tak terduga. Pertanyaannya adalah, apakah semua pengeluaran ini sepadan? Apakah kebahagiaan sejati dalam pernikahan harus dibayar dengan mahalnya biaya resepsi yang berlebihan?

Dalam merencanakan pernikahan, penting untuk membuat keputusan finansial yang bijaksana, bukan hanya demi momen tersebut, tetapi demi masa depan bersama.

Biaya resepsi pernikahan bisa melonjak dengan cepat. Mulai dari sewa tempat, katering, dekorasi, hingga hiburan. Setiap elemen memiliki biaya yang terkadang melebihi perkiraan awal. Sangat mudah untuk terjebak dalam euforia dan keinginan untuk membuat segalanya tampak mewah dan sempurna. Namun kita harus mempertimbangkan nilai sejati dari setiap pengeluaran tersebut. Dalam banyak kasus, kemewahan yang berlebihan tidak selalu berarti kebahagiaan yang lebih besar.

Islam mengajarkan tentang pentingnya kesederhanaan dan ketulusan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pernikahan. Rasulullah SAW bersabda, 

إن أعظم النكاح بركة أيسره مؤنة

““Pernikahan yang paling berkah adalah yang biayanya paling murah.”  (HR. Ahmad).”

Ini adalah pengingat penting bahwa inti dari pernikahan adalah ikatan suci antara dua jiwa, bukan ajang untuk memamerkan kekayaan. Dalam konteks ini, mengeluarkan biaya yang berlebihan bisa dianggap sebagai pengingkaran terhadap prinsip-prinsip dasar agama.

Saat merencanakan pernikahan, sangat penting untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti. Utamakan nilai-nilai dan kebahagiaan sejati daripada kemewahan yang mungkin hanya sementara. Misalnya, memilih lokasi yang lebih sederhana, menggunakan dekorasi yang tidak terlalu mahal, dan mencari vendor dengan harga yang lebih terjangkau dapat menghemat banyak uang tanpa mengurangi makna dari perayaan itu sendiri. Ingatlah, yang paling berharga adalah momen dan kenangan, bukan kemewahan dari acara tersebut.

Pengelolaan keuangan yang bijaksana dalam resepsi pernikahan tidak hanya membantu mengurangi stres pada hari pernikahan, tetapi juga memberikan dasar manajemen keuangan yang kuat untuk masa depan. Alih-alih terjebak dalam hutang karena biaya pernikahan yang melambung, pasangan bisa memulai kehidupan baru dengan stabilitas finansial yang lebih baik. Ini memungkinkan mereka untuk fokus pada tujuan jangka panjang seperti membangun atau membeli rumah, menyiapkan biaya pendidikan anak, atau investasi lainnya.

Menjalani prinsip kesederhanaan dan penghematan dalam pernikahan juga bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada seberapa banyak uang yang dihabiskan, tetapi pada cinta dan komitmen yang dibangun. Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih bijaksana dan sederhana, kita dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, menciptakan budaya yang lebih sehat dalam merayakan pernikahan.

Pada akhirnya, pernikahan adalah tentang merayakan cinta dan komitmen. Pengeluaran biaya untuk sebuah resepsi  semestinya mencerminkan nilai-nilai tersebut, bukan menjadi beban yang memberatkan. Dengan mengingat ajaran Islam tentang kesederhanaan dan berkah, serta menerapkan prinsip-prinsip keuangan yang bijaksana, kita bisa memastikan bahwa resepsi pernikahan bukan hanya indah dan berkesan, tetapi juga menjadi awal yang baik untuk perjalanan hidup bersama.

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 76 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Mahar di Tangan, Borgol di Bayangan: Syariat Bukan Topeng Pelanggaran

8 Januari 2026 - 16:44 WIB

KUA Rengasdengklok Gencar Galakkan Khotmil Al-Quran : Pegawai Di dorong tingkatkan Literasi Qurani

8 Januari 2026 - 15:26 WIB

Saya Terima Nikahnya …

8 Januari 2026 - 15:14 WIB

Tingkatkan pentingnya Pretest dan Posttest dalam Bimbingan Perkawinan, KUA Rengasdengklok gemakan catin dapat berintelektual dan berintegritas.

7 Januari 2026 - 13:50 WIB

Menikahlah, dan Temukan Bahagiamu dalam Indahnya Pernikahan

7 Januari 2026 - 11:28 WIB

Pernikahan Tercatat Menjadi Perlindungan Nyata Bagi Hak-Hak Seorang Istri

6 Januari 2026 - 10:00 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x