Di antara sekian banyak kalimat yang diucapkan manusia sepanjang hidupnya, ada satu kalimat yang begitu singkat namun dampaknya sangat panjang. Kalimat itu adalah, “Saya terima nikahnya…”. Hanya beberapa kata, diucapkan dalam satu tarikan napas, tetapi sejak itulah hidup seseorang berubah selamanya. Bagi sebagian orang, kalimat ini terdengar sederhana. Namun bagi mereka yang memahami maknanya, inilah ikrar paling serius yang pernah diucapkan seorang laki-laki dalam hidupnya. “Saya terima nikahnya…” bukanlah sekadar rangkaian kata untuk memenuhi rukun nikah. Ia adalah pernyataan kesanggupan, janji kesetiaan, dan kesiapan memikul amanah. Dalam satu kalimat itu terkandung kesadaran bahwa cinta bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan komitmen jangka panjang. Saat seorang lelaki mengucapkannya dengan sadar dan mantap, sejatinya ia sedang berkata:
Aku siap menjadi imam.
Aku siap menjaga, membimbing, dan bertanggung jawab.
Aku siap mencintaimu bukan hanya saat mudah, tetapi juga saat sulit.
Akad nikah bukan hanya disaksikan oleh wali, saksi, dan tamu undangan. Lebih dari itu, ia disaksikan oleh Allah ﷻ. Karena itu, Islam memandang pernikahan sebagai akad yang kuat (mitsaqan ghalizha). Kalimat “saya terima nikahnya” adalah pintu masuk menuju perjanjian suci tersebut. Maka ia tidak boleh diucapkan dengan main-main, apalagi tanpa kesiapan lahir dan batin.. Dalam satu detik, status berubah. yang sebelumnya halal menjadi haram, kini menjadi halal. Yang sebelumnya tanggung jawab orang tua, kini beralih ke pundak suami. Sejak saat itu, setiap sikap, ucapan, dan keputusan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka “saya terima nikahnya” bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan panjang membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Indahnya akad nikah sering kali hanya terasa di hari itu saja. Padahal, justru setelah akadlah ujian dimulai. Janji yang diucapkan harus dijaga, bukan hanya dikenang. Kalimat yang dulu diucapkan dengan lantang harus dibuktikan dengan sikap yang konsisten. Menjadi suami bukan tentang selalu benar, tetapi tentang mau belajar. Menjadi istri bukan tentang selalu kuat, tetapi tentang saling menguatkan. Dan pernikahan bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesungguhan menjaga janji. Waktu akan menguji semua yang pernah diucapkan. Termasuk kalimat “saya terima nikahnya”. Ujian datang dalam berbagai bentuk: perbedaan pendapat, keterbatasan ekonomi, kelelahan emosional, bahkan rasa jenuh yang perlahan menyelinap. Di titik inilah pernikahan diuji, bukan pada indahnya hari akad, tetapi pada kesetiaan menjaga janji saat keadaan tidak selalu baik. Cinta yang sejati bukan cinta yang selalu berbunga-bunga, melainkan cinta yang tetap bertahan meski bunga itu gugur satu per satu. Dan kalimat “saya terima nikahnya” sejatinya adalah janji untuk tetap tinggal, bukan pergi, ketika keadaan tidak sesuai harapan. Banyak orang mampu mengucapkan akad nikah dengan lancar, tetapi tidak semua mampu menghidupi maknanya. Mengucapkan “saya terima nikahnya” berarti siap belajar menjadi pasangan yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih bijaksana dari hari ke hari. Pernikahan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi menuntut kesungguhan. Kesungguhan untuk meminta maaf lebih dulu, untuk menahan ego, dan untuk tetap berpegangan tangan meski hati sedang tidak sejalan.
Sesungguhnya akad nikah tidak hanya terjadi sekali, melainkan harus diperbarui setiap hari, bukan dengan kata, tetapi dengan perbuatan. Setiap pagi saat berangkat bekerja, setiap malam saat pulang dengan lelah, setiap keputusan kecil yang diambil demi keluarga, di situlah makna “saya terima nikahnya” diperbarui. Suami yang pulang membawa tanggung jawab, istri yang menjaga rumah dengan cinta, dan keduanya yang saling mendoakan dalam diam, itulah akad nikah yang terus hidup. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga sarana pendewasaan iman. Banyak orang belajar sabar justru setelah menikah. Banyak orang belajar ikhlas justru setelah menjadi pasangan hidup. Karena dalam pernikahan, ego tidak bisa selalu dimenangkan, dan keinginan tidak bisa selalu dipenuhi. Kalimat “Saya terima nikahnya” adalah pernyataan bahwa pernikahan ini diniatkan bukan hanya untuk bahagia bersama, tetapi juga untuk saling menuntun menuju ridha Allah.
Akhir,
Pada akhirnya, kalimat “saya terima nikahnya” bukanlah tentang seberapa fasih ia diucapkan, melainkan seberapa sungguh ia dijaga. Ia adalah janji yang tidak cukup dikenang, tetapi harus diperjuangkan. Janji yang tidak hanya diingat di hari bahagia, tetapi juga dipegang erat di hari penuh ujian. Semoga setiap pasangan yang telah mengucapkannya, Allah kuatkan untuk menepatinya. Hingga kelak, bukan hanya sah di mata manusia, tetapi juga bernilai ibadah di sisi-Nya. Jika suatu hari lelah menghampiri, ingatlah kembali momen ketika kalimat itu diucapkan. Ingat getar suaranya, ingat niat sucinya. Karena di sanalah awal semua perjuangan dimulai. Semoga setiap “saya terima nikahnya” yang terucap, benar-benar menjadi janji yang dijaga hingga akhir hayat.
Doa:
“Ya Allah, jadikanlah pernikahan kami sebagai jalan ibadah kepada-Mu, lapangkan hati kami untuk saling memahami, dan kuatkan kami untuk menjaga janji yang telah kami ucapkan di hadapan-Mu.”
Aamiin 🤲
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








