Ada satu momen dalam hidup yang selalu membuat hati orangtua menjadi campuran antara bahagia, haru, bangga, dan diam-diam merasa sedih. Momen itu adalah ketika mereka melepasmu menuju kehidupan pernikahan. Sebuah fase yang selama ini hanya mereka bayangkan ketika melihatmu tumbuh dari anak kecil yang dulu digendong, kini berubah menjadi seseorang yang siap membangun rumah tangga. Di lubuk hati yang paling dalam, orangtuamu selalu ingin melihatmu hidup mapan, damai, dan bahagia. Setiap langkahmu sejak kecil tak pernah lepas dari doa yang mereka bisikkan setiap malam. Maka ketika hari pernikahan tiba, ada rasa lega yang tak bisa disembunyikan bahwa kini kamu telah menemukan teman hidup yang akan menemanimu ketika mereka kelak tak lagi mampu mengurusmu. Kebahagiaan itu bukan hanya karena pesta atau akad. Tapi karena sebuah harapan besar: semoga hidupmu menjadi lebih baik daripada hidup mereka.
Orangtuamu akan selalu punya album kenangan di dalam kepala dan hati mereka, lebih lengkap dari galeri ponsel mana pun. Mereka mengingat langkah pertamamu, tangismu di hari pertama sekolah, malam-malam ketika kamu demam, hingga senyum polos ketika pertama kali bisa membaca doa. Dan ketika ijab kabul diucapkan, album kenangan itu tiba-tiba diputar ulang. Di situ mereka sadar, bahwa waktu berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan. Ada rasa bangga yang tak bisa ditawar. Orangtuamu melihatmu tumbuh, belajar, jatuh, bangkit, lalu akhirnya siap memimpin dan membina rumah tangga. Bagi mereka, ini adalah pencapaian yang luar biasa.
Melepasmu menikah bukan tanda bahwa mereka kehilanganmu, tapi bahwa mereka percaya bahwa kini kamu bisa berdiri dengan kaki sendiri, menata masa depanmu, dan menghadapi tantangan hidup bersama pasanganmu. Sebahagia apa pun mereka, tetap saja ada satu ruang kosong dalam hati. Orangtua tak akan pernah benar-benar siap kehilangan rutinitas kecil bersamamu: mendengar suaramu di pagi hari, memanggilmu untuk makan, atau menegurmu ketika pulang terlambat. Rumah akan terasa lebih sepi setelah kamu pergi. Tapi kesedihan itu tak pernah mereka tunjukkan. Mereka menyimpannya rapi, agar kamu bisa melangkah mantap menuju kehidupan baru. Di balik air mata yang mereka tahan, doa-doa terbaik terus mengalir. Doa yang bahkan kadang tak kamu dengar, tapi selalu menjagamu:
“Ya Allah, bahagiakan anakku dengan pasangannya, jadikan rumah tangganya rumah yang penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah.”
Pernikahan bukanlah garis pemisah cinta antara dirimu dan orangtuamu. Justru inilah tanda bahwa cinta itu berkembang, melebar, dan semakin dewasa. Tetap kunjungi mereka. Tetap telepon mereka. Tetap buat mereka merasa dibutuhkan. Karena di balik senyum bangga itu, ada hati yang selalu merindukanmu, sekecil apa pun bentuk perhatianmu kepada kedua orangtuamu.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








