Oleh :
KHAERUL UMAM, S.Ag*)
(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)
Muqadimah
Isra mi’raj merupakan salah satu peristiwa yang penting dalam agama Islam, yang mana merupakan peristiwa besar saat Nabi Muhammad SAW memperoleh berbagai pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya umatnya serta alam semesta. Adapun perjalanan Rasulullah SAW saat Isra Mi’raj ini diabadikan dalam al-Qur’an surat Al-Isra (17) ayat 1 yang artinya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Dalam perjalanan Isra Mi’raj ini mengisahkan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam, yakni, dari Makkah (Masjidil Haram) menuju Palestina (Masjidil Aqsha), kemudian mengarungi alam semesta raya hingga ke Sidratul Muntaha. Padahal, di masa itu, perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa butuh waktu kurang lebih satu bulan. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting bagi umat Islam karena pada saat yang sama beliau mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari semalam.
Shalat menjadi pengingat kewajiban muslim untuk senantiasa mengingat Allah SWT di tengah kesibukan sehari-hari. Isra Mi’raj tidak hanya mengukuhkan pentingnya shalat, tetapi juga menegaskan kekuatan, keimanan, dan ketakwaan Nabi Muhammad SAW, serta menjadi bukti keajaiban dan kasih sayang Allah SWT kepada umat manusia.
Shalat, kado terindah dari Rasulullah SAW
Kita tahu, sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW berdakwah di Kota Makkah. Di sana beliau merasakan betapa berat cobaan dan ujian dirasakan, bukan hanya kekerasan verbal saja bahkan kekerasan fisik pun beliau alami, termasuk ancaman pembunuhan. Ketika orang-orang tercinta dan orang-orang tempat beliau bersandar silih berganti wafat, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Maka saat itulah orang-orang Quraisy tengah begitu ganas menindas karena Rasulullah SAW sudah tidak ada lagi yang melindunginya. Sampai kemudian para sejarawan menamai duka Rasulullah SAW atas kewafatan orang-orang tercinta dengan nama ‘amul huzni (tahun kesedihan). Rasulullah SAW kehilangan tongkat pegangan, gundah-gulana dan putus asa dalam berdakwah menyebarkan agama Islam.
Maka kemudian Allah SWT menghibur kekasih-Nya yang sedang mengalami duka nestapa dan berada di tepi jurang keputusasaan dengan mengisra’mi’rajkan Nabi-Nya. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Ini semua sudah skenario Allah agar Nabi Muhammad SAW menjadi sosok yang tangguh. Tantangan dakwah beliau ke depan akan sangat berat dan berliku. Menyebarkan agama Islam dengan perlawanan dari pemuka-pemuka Quraisy, dari pasukan perang bersenjata lengkap, dan musuh-musuh Islam kelas jenderal lainnya. Allah telah membekali Nabi Muhammad SAW sejak ia lahir dengan kehidupan pedih yang mengasah ketangguhannya.
Dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut, Allah SWT perlihatkan kebesaran-kebesaran-Nya, alam semesta dan segala keindahannya, diperlihatkan juga peristiwa-peristiwa yang menggambarkan kebaikan-kebaikan yang menuai pahala bagi si pelakunya dan juga peristiwa-peristiwa yang mencerminkan keburukan-keburukan yang berbuah dosa dan siksa bagi si pelakunya, serta diperlihatkan juga kenikmatan-kenikmatan surga dan calon-calon penghuninya, begitu pun diperlihatkan pula siksa neraka yang akan diterima oleh calon-calon penghuninya. Penampakan dan fenomena-fenomena peristiwa yang diperlihatkan kepada Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra Mi’raj tersebut menjadi cemeti pemacu dan ghirah Rasulullah SAW dan membuat hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam setelah kembali dari perjalanan suci ini, meskipun ke depannya tantangan, rintangan dan hambatan dakwah Nabi akan semakin besar dan hebat. Bahkan kita tahu, setelah Isra’ Mi’raj, tepatnya setelah hijrah ke Madinah, hambatan dakwah Rasulullah SAW lebih berat. Peristiwa perang badar, perang uhud, perang mu’tah, dan perang-perang lainnya adalah fakta sejarah bahwa perjuangan dakwah Nabi periode Madinah penuh dengan tantangan dan berliku.
Adapun hikmah dan kado terindah dari perjalanan Isra Mi’raj ini yang sangat berarti salah satunya adalah penetapan shalat lima waktu dalam sehari semalam memiliki makna yang sangat dalam. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi peringatan dan pelajaran bagi umat Islam untuk senantiasa menjalankan shalat dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Hanya syariat shalat yang beliau terima langsung, bukan dengan wahyu melalui perantara malaikat Jibril sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya. Tidak heran, dalam agama Islam, shalat merupakan tiang agama (Imad ad-Din). Lima kali dalam sehari semalam itu kita bisa berkomuniasi langsung dengan Allah, mengadu dan curhat langsung dengan-Nya. Ada waktu-waktu terbaik untuk kita mengadu dan curhat kepada Sang pencipta, di sepertiga malam di saat makhluk atau hamba-hamba lainnya terlelap dalam kenikmatan mimpi, ada waktu baik memohon rizqi, dan waktu-waktu terbaik dan mustajabahnya do’a kita.
Penutup
Melalui shalat, umat Islam dapat memperkuat hubungannya dengan Allah SWT, mencari ketenangan batin, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’. Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Jadikanlah shalat sebagai saran akita meminta pertolongan (QS. Al-Baqarah: 45 dan 153), dan dengan shalat yang didirikan dengan khusyu’ akan menghindarkan kita dari perbuatan keji dan mungkar (Qs. Al-Ankabut: 45). Itulah hikmahnya shalat, hasil buah tangan dan kado terindah dari perjalanan spiritual Rasulullah SAW, Isra dan Mi’raj.
———
**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan pemerhati sosial keagamaan.








