Menu

Mode Gelap

Kolom · 22 Sep 2025 15:16 WIB ·

Supaya Penuh Syukur Jangan Melihat Nikmat Orang Lain dan Kekurangan Dirimu

Penulis: MOH. YUSUF


 Supaya Penuh Syukur Jangan Melihat Nikmat Orang Lain dan Kekurangan Dirimu Perbesar

Seseorang yang melihat nikmat orang lain bisa cenderung berkerut muka bila tidak di imbangi dengan kesadarannya. Suatu kesadaran bahwa nikmat adalah suatu keniscayaan kehendak Allah SWT yang di anugrahkan kepada hamba yang di kehendakinya.

Seseorang melihat nikmat orang lain belum tentu membawa bahagia. Bisa saja ada semacam pemikiran yang tidak menerimanya. Mengapa orang tersebut yang menerima nikmat itu dan mengapa bukan saya yang diberi.

Pemikiran demikian akan mendorong pengertian yang tanpa disadari bahwa Tuhan sudah tidak berlaku adil kepadanya. Sebab mengapa tidak seperti yang dia terima atas rezki yang ada padaku.

Sejatinya kita tidak pernah mengetahui atas rizki. Misalnya seseorang setiap hari secara dhahir terlihat menghasilkan uang seratus juta sedangkan kita hanya seratus ribu. Uang sama-sama dari pendapatan yang halal. Uang seratus juta dengan mudah seseorang mendapatkannya, namun demikian, yang bersangkutan dari makanan hampir semua menu harus dihindari supaya badannya terhindar dari ancaman penyakitnya.

Dengan begitu dia tidak dapat menikmati uangnya sehingga uang tersebut ia bagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkannya. Maka sejatinya uang itu “bukan uangnya” dan ia hanyalah perantara. Uang tersebut adalah rizki orang lain yang disalurkan melalui tangannya.

Sedangkan uang seratus ribu seseorang leluasa tanpa pantangan apapun untuk menggunakan uangnya memilih menu-menu yang di kehendakinya dan badannya tetap sehat-sehat saja. Artinya, kita tidak pernah tahu atas apapun yang ada pada seseorang. Maka nikmatilah yang datang pada kita sehingga kita akan penuh syukur.

Melihat nikmat orang lain cenderung memantulkan rasa rendah kita. Kita melihat diri sendiri sebagai orang yang kekurangan atau serba ketiadaan padahal demikian banyak pemberian yang di terima dari Allah SWT.

Akibatnya seseorang melihat dirinya kekuranga. Hidup selalu merasa kurang akan terasa berat. Pikirannya banyak diganggu oleh keinginan-keinginan yang karena ketidakmampuannya tidak dapat memenuhi keinginan tersebut sehingga ia menjadi tersiksa. Selalu gelisah dan menghidupkan rasa iri dan dengki dalam dirinya.

Al-Qur’an di dalam surat An-Nisa ayat 32 memberikan peringatan kepada kita dengan pesannya, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ
“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”.
Allah SWT maha adil anugrahnya diberikan kepada setiap hamba-hambanya sesuai dengan kemahaadilan-Nya. Dengan porsi yang tepat sesuai dengan kapasitas hamba-hamba yang dimampukan untuk menerima pemberiannya.

Seseorang yang menikmati setiap rizki yang diterima tanpa membanding-bandingkan dengan rizki yang diterima oleh orang lain maka hidupnya akan penuh syukur. Hidup yang dipenuhi rasa syukur akan menjadi tenang dan ringat menjalani hidup. Dunianya lapang dan terisi kebahagian.

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 166 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Refleksi Penghulu di Tahun 2025

31 Desember 2025 - 14:14 WIB

Merawat Kepedulian Sosial Melalui Bantuan Sarana Ibadah

16 Desember 2025 - 10:22 WIB

KUA Muara Batang Gadis didampingi CPNS Penghulu dan staf menyalurkan donasi Al-Qur’an dan perlengkapan salat kepada masyarakat Sulang Aling.

Perkuat Koordinasi Lintas Sektor KUA dan Puskesmas

14 Desember 2025 - 16:01 WIB

Tertib dalam Wudhu: Analisis Fiqih dan Teori Hukum Islam

13 November 2025 - 16:17 WIB

Transformasi Fiqih dalam dunia Islam : Analisis sejarah dan teori

10 November 2025 - 15:11 WIB

Herizal, S. Ag.,M.A (Kepala KUA Sitinjau Laut) Lakukan Pembinaan PC. BKMT Kecamatan Sitinjau Laut

29 Oktober 2025 - 09:03 WIB

Trending di Kolom
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x