Oleh :
KHAERUL UMAM, S.Ag*)
(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)
Mencium tangan merupakan kultur sopan santun yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menunjukkan rasa cinta pada seseorang. Budaya ini sangat lekat di keseharian masyarakat Indonesia. Mencium tangan merupakan kultur sopan santun yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan menunjukkan rasa cinta pada seseorang. Budaya ini sangat lekat di keseharian masyarakat Indonesia. Murid mencium tangan gurunya, anak kepada orang tuanya, cium tangan pada yang lebih tua, atau mencium tangan kiai dan seorang alim. Mencium tangan dengan demikian merujuk pada kedudukan baik orang yang dicium tersebut.
Dalam kitab Fathul Bari merupakan syarah kitab sahih Imam Bukhari, karangan Syeikhul Alhafidz Ibnu Hajar Asqolani ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, pemimpin kabilah, raja, atau siapapun. Sejarah mencatat hanya Fatimah Az Zahra -putri beliau- dan seorang shahabat yang pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang pemukul batu yang pernah dicium oleh Rasulullah ﷺ Berikut kisahnya:
Sepulang dari perang Khandak, saat situasi kaum muslimin kembali normal. Rasulullah ﷺ berjumpa dengan salah seorang sahabat bernama Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary Radhiyallu ‘Anhu di salah satu sudut kota Madinah. Penampilannya lusuh, tubuhnya hitam dengan sisa bau keringat menyengat, disebabkan ia bekerja kasar sebagai seorang tukang pemecah batu di bawah terik matahari. Saat dijumpai oleh Rasulullah ﷺ, ia sedang bekerja memecahkan batu besar dengan palu. Pekerjaan itu sudah lama ditekuninya demi memberikan nafkah untuk anak istrinya. Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary tampak malu menjulurkan tangannya saat Rasulullah ﷺ mengajaknya bersalaman. Ia menyadari tangannya kasar dengan kapalan yang sangat menonjol dan mengeras.”Ada apa dengan tanganmu, wahai Sa’ad?” tanya Rasulullah ﷺ sembari memegangi tangan sahabat itu. “Tanganku ini melepuh, wahai Rasulullah!” jawab Sa’ad agak malu. “‘Tanganku begini karena palu dan sekop yang saya pergunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga yang menjadi tanggunganku,” demikian jawaban Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary.
Rasulullah ﷺ terenyuh melihat perjuangannya mencari rezeki Allah SWT yang halal, tanpa mengemis dan meminta-minta. Mendengar jawaban itu Rasulullah ﷺ segera menggenggam tangan shahabatnya. Sesaat kemudian, Rasulullah ﷺ mencium telapak tangan yang melepuh tersebut seraya bersabda: “ Hadzihi yadun la tamatsaha narrun abada” (Inilah tangan yg tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya). Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary merasa malu dan merasa tidak pantas, tangannya yang kasar, kotor, berdebu, berpeluh keringat itu dicium oleh seorang nabi dan rasul yang mulia. Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary berusaha menariknya. Namun, Rasulullah ﷺ menariknya dan berkata: “Biarkan wahai Sa’id, biarkan tangan ini nanti yang akan membawamu ke surga!”. Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary menangis tersedu. Ia terenyuh. Dia tidak membayangkan tangannya yang hina, ternyata memiliki mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Kisah Sa’ad Bin Mu’adz al-Anshary menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan tangan pekerja yang kasar, dekil dan kotor sekalipun memiliki kemuliaan di sisi Allah dan Rasul-Nya ketika diguanakan untuk mencari rezeki yang halal dan berkah. Rasulullah ﷺ kagum terhadap seorang yang gigih bekerja membela keluarga, meski melakukan pekerjaan kasar atau hina di mata manusia. Dari Ibnu Abbas r.a. pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
من أمسى كالاً من عمل يده أمسى مغفوراً له
Artinya: ”Siapa saja bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni (dosa-dosanya)”. (HR. Thabrani)
Namun, di kehidupan saat ini, bekerja keras dengan cara yang halal tampak sudah semakin langka. Di tengah-tengah persaingan hidup yang begitu ketat, membuat banyak orang memilih melakukan jalan pintas demi memperoleh harta, kepuasan, dan kekuasaan sesaat, meski jalan tersebut justru akan menjerumuskan pada malapetaka. Jauh sebelum ini Rasulullah ﷺ pernah memprediksi:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
Artinya: ”Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram.” (HR Bukhari).
Kini, kita menyaksikan sebuah kenyataan di mana orang sangat berani melakukan perbuatan yang diharamkan Allah SWT, berupa kejahatan korupsi, penipuan, perampokan, perjudian, dan sebagainya. Padahal Rasulullah ﷺ sangat memuliakan umatnya yang bekerja dengan jerih payahnya.
Kisah tersebut mengandung hikmah bahwa tangan yang tidak pernah disentuh oleh api neraka bukanlah tangan yang lembut, atau bukan pula tangan yang sekali tanda tangan, ratusan juta rupiah cair. Melainkan tangan yang melepuh karena bekerja keras mencari nafkah yang halal. Inilah tangan yang di dalamnya terkandung rasa tanggung jawab. Tangan penuh ikhlas dalam menjalankan amanah yang Allah SWT berikan. Tangan yang digunakan semata-mata berada di jalan Allah SWT serta jauh dari perbuatan haram. Itulah tangan seorang tukang batu (seorang pekerja keras), tangan yang dicium oleh Rasulullah ﷺ. Sebuah bentuk ciuman penuh makna mendalam, bentuk ciuman keberpihakan, kepedulian, dan motivasi dari seorang Rasul hamba pilihan kepada seorang hamba.
Maka betapa istimewa orang yang tangannya pernah dicium sosok mulia Nabi Muhammad SAW. Bagaimana jika tangan kita dicium oleh kekasih Allah, manusia paling mulia baginda Rasulullah ﷺ? Tentu tak bisa dibayangkan betapa bahagianya hati kita. Sungguh beruntung orang yang tangannya dicium oleh Rasulullah ﷺ. Mereka yang dicium oleh Rasulullah ﷺ bukan karena harta, tahta, ataupun kedudukan. Tetapi mereka adalah sahabat-sahabat yang dikenal pekerja keras dalam hidup mereka. Inilah salah satu hikmah betapa Islam mencintai kerja keras. Inilah sahabat yang tangannya dicium oleh Rasulullah ﷺ.
Sayyidah Fathimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasulullah ﷺ. Tangannya juga kasar dan keras. Dengan penuh cinta, Rasulullah ﷺ mencium tangan putrinya tersebut.
Rasulullah ﷺ mencium tangan mulia itu karena beliau bekerja keras menggiling gandum di rumahnya, menyiapkan makanan bagi kedua putranya dan sang suami Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Sayyidah Fathimah tidak pernah mengeluh mengerjakan pekerjaan rumah meskipun tangannya melepuh. Lihatlah betapa Rasulullah ﷺ sangat menghargai orang-orang yang bekerja keras untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Rasulullah ﷺ mencium tangan sahabat sebagai penghargaan atas kerja keras mereka, bukan karena ibadah ritual mereka.
Riwayat-riwayat di atas menggambarkan betapa Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Orang yang bekerja dapat dikatakan sebagai jihad fi sabilillah, seperti sabda Rasulullah ﷺ: “Siapa yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya, maka ia adalah Mujahid fi Sabilillah.” (HR. Ahmad). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barangsiapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapatkan ampunan.” (HR ath-Thabrani dan Al-Baihaqi). Seperti halnya Sa’ad yang hitam dan melepuh tangannya karena bekerja, maka tatkala seseorang merasa kelelahan bekerja akan dibalas oleh Allah SWT dengan ampunan-Nya. Saat itu juga dikategorikan sebagai orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Semoga Allah SWT melimpahkan taufik-Nya agar kita termasuk pekerja keras dan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.
Bekerja membuat kita bernilai. Susah payah yang dialami dalam kerja sejatinya adalah kenikmatan, karena Allah SWT memang mengatur mekanisme rasa puas dan nikmat seseorang setelah ia menempuh upaya serta lelah kerja. Untuk bertahan hidup, bertanggung jawab pada keluarga, hingga tugas kekhalifahan berupa memakmurkan bumi harus ditempuh manusia dengan aksi kerja. Demikianlah, mengapa orang-orang yang menggerakkan diri untuk bekerja dicintai Allah SWT dan dimuliakan Rasul-Nya. Meskipun peristiwa orang yang tangannya dicium Rasulullah ﷺ sangat terbatas, tapi hakikat penghormatan beliau selalu hadir untuk siapapun yang mau bekerja. Bekerja keras, kerja ikhlas, dan selaras. Wallahu A’lam.
———
**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan pemerhati sosial keagamaan.








