Memasuki maqolah ketiga dalam Bab I kitab Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani mengalihkan fokus pembahasan pada instrumen atau wasilah yang menjaga kualitas iman dan ketaatan manusia. Jika maqolah sebelumnya membahas tentang “apa” yang harus dilakukan (iman, taat, dan manfaat), maka maqolah ketiga ini menjawab “bagaimana” cara menjaga konsistensi tersebut. Jawabannya terletak pada lingkungan intelektual dan spiritual, yakni melalui interaksi yang intens dengan para ulama dan majelis ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seseorang sangat dipengaruhi oleh ekosistem sosial di mana ia berada (Al-Bantani, 2016).
Teks asli dari maqolah ketiga ini merupakan wasiat dari Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: جَالِسُوا الْعُلَمَاءَ وَاسْتَمِعُوْا كَلَامَ الْحُكَمَاءِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْيِي الْقَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِمَاءِ الْمَطَرِ
“Jalisul ‘ulama-a was-tami’u kalaman hukama-i, fa innallaha ta’ala yuhyil qalbal mayyita binuril hikmati kama yuhyil ardhal maytata bima-il mathar.”
Artinya: “Duduklah kalian bersama para ulama dan dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.” (Al-Bantani, 2010). Analogi “air hujan” dalam teks ini mengisyaratkan bahwa ilmu bukan sekadar kognisi, melainkan nutrisi vital bagi eksistensi batiniah.
Perintah jalisul ‘ulama (duduklah bersama ulama) mengandung makna yang sangat dalam secara sosiologis. “Duduk” di sini bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan sebuah proses mulazamah atau pendampingan yang melibatkan transfer nilai, etika (adab), dan pola pikir. Ulama dalam konteks ini adalah mereka yang mengintegrasikan ilmu dengan amal. Dalam pandangan akademik, interaksi ini merupakan bentuk pembelajaran sosial (social learning) di mana karakter seseorang dibentuk melalui observasi dan penelusuran jejak keteladanan dari figur otoritas keagamaan (Masduki, 2018).
Selanjutnya, perintah was-tami’u kalaman hukama (dengarkanlah perkataan ahli hikmah) menekankan pada aspek auditif dalam belajar. Ahli hikmah adalah mereka yang memiliki kedalaman rasa dan mampu melihat rahasia di balik syariat. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hikmah adalah buah dari ilmu yang diamalkan dan hati yang bersih. Menurut Al-Ghazali, mendengarkan nasihat dari orang yang hatinya bersih dapat menggetarkan jiwa dan meruntuhkan kekerasan hati yang disebabkan oleh syahwat keduniawian (Al-Ghazali, 2011).
Relevansi nasihat ini didukung oleh firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 9:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
Ayat ini memberikan penegasan bahwa kedudukan ilmu dan pemiliknya berada pada derajat yang berbeda. Oleh karena itu, mendekat kepada sumber ilmu (ulama) adalah upaya sadar untuk meningkatkan kualitas akal dan budi pekerti manusia.
Syekh Nawawi memberikan klasifikasi menarik dalam syarahnya mengenai kelompok orang berilmu. Beliau membagi mereka menjadi tiga: ulama yang ahli dalam hukum formal (fuqaha), ahli hikmah yang mengenal hakikat batin, dan mereka yang menguasai keduanya. Ketiga kelompok ini memiliki peran masing-masing dalam menjaga stabilitas spiritual masyarakat. Mencari keseimbangan dengan mengambil ilmu dari ketiga kelompok ini akan menghasilkan pemahaman agama yang moderat dan tidak pincang (Al-Bantani, 2016).
Analogi “hati yang mati” yang dihidupkan dengan “cahaya hikmah” sebagaimana bumi yang kering dihidupkan oleh hujan, merupakan metafora yang sangat akurat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pada Bab Kitabul ‘Ilmi menyebutkan bahwa ilmu bagi hati laksana makanan bagi tubuh. Sebagaimana tubuh akan mati jika tidak diberi asupan makanan selama tiga hari, demikian pula hati akan mengeras dan mati jika tidak diisi dengan nasihat dan hikmah selama tiga hari berturut-turut (Al-Ghazali, 2011).
Kematian hati yang dimaksud dalam literatur tasawuf bukanlah berhentinya detak jantung, melainkan hilangnya sensitivitas terhadap kebenaran dan ketidakmampuan untuk merasakan kelezatan ibadah. Hati yang mati cenderung gelap, kaku, dan egois. Cahaya hikmah yang datang dari perkataan para ulama berfungsi sebagai “hujan” yang meresap ke dalam pori-pori jiwa, melembutkannya, dan menumbuhkan benih-benih ketaatan yang baru (Masduki, 2018).
Dalam konteks pendidikan modern, maqolah ini menekankan pentingnya kurikulum berbasis karakter dan lingkungan belajar yang suportif. Pendidikan bukan sekadar transfer data (data transfer), melainkan transformasi jiwa. Kehadiran fisik dalam majelis ilmu menciptakan energi kolektif yang sulit didapatkan melalui pembelajaran mandiri. Di sana terjadi dialog, pengamatan perilaku, dan keberkahan yang sering disebut dalam tradisi pesantren sebagai barakah mu’allim atau keberkahan guru.
Selain itu, Syekh Nawawi mengingatkan bahwa interaksi dengan ulama harus didasari oleh adab. Tanpa adab, cahaya hikmah tidak akan mampu menembus relung hati. Menghargai waktu mereka, mendengarkan dengan seksama, dan memiliki niat yang tulus untuk memperbaiki diri adalah prasyarat utama agar “hujan” hikmah tersebut tidak sekadar lewat di permukaan, tetapi benar-benar meresap dan mengubah perilaku (Al-Bantani, 2010).
Perspektif Ihya Ulumuddin menambahkan bahwa pergaulan dengan orang saleh juga berfungsi sebagai “cermin”. Ketika kita duduk bersama ulama, kita akan melihat kekurangan diri sendiri tanpa perlu merasa dihakimi. Cahaya yang ada pada diri mereka memantulkan kegelapan yang ada pada diri kita, sehingga muncul dorongan internal untuk berbenah. Inilah yang disebut dengan pendidikan transformatif yang bersifat persuasif dan inspiratif.
Pada era informasi digital saat ini, maqolah ini memberikan peringatan halus. Meskipun ilmu bisa didapatkan melalui layar smartphone, namun “kehadiran” dan “duduk bersama” (mujalasah) tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Kedekatan fisik dengan orang saleh membawa ketenangan (sakinah) dan aura positif yang tidak bisa dikonversi sepenuhnya ke dalam format digital. Oleh karena itu, meski teknologi berkembang, kebutuhan akan majelis ilmu fisik tetap menjadi prioritas utama bagi kesehatan mental dan spiritual.
Sebagai simpulan, Maqolah ketiga Bab 1 kitab Nashaihul ‘Ibad mengajak kita untuk tidak membiarkan hati menjadi “tanah tandus”. Kita diperintahkan untuk terus mencari sumber-sumber air hikmah melalui lisan para ulama dan ahli hikmah. Dengan menjaga kedekatan pada majelis ilmu, kita sedang menjaga nyala cahaya di dalam hati kita agar tetap hidup, tumbuh, dan memberikan kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.
Daftar Pustaka
* Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2010). Nashaihul ‘Ibad: Kumpulan Nasihat Pilihan Bagi Para Hamba. (Achmad Masruri, Penerjemah). Bandung: Pustaka Setia. (Karya asli diterbitkan tahun 1893).
* Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (2016). Syarah Nashaihul ‘Ibad. Jakarta: Darul Kutub Islamiyah.
* Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2011). Ihya Ulumuddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. (Moh. Zuhri, Penerjemah). Semarang: CV Asy-Syifa. (Karya asli diterbitkan abad ke-12).
* Masduki, Yusron. (2018). Etika Sosial dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 6(2), 185-200.









