Menu

Mode Gelap

Opini · 31 Jul 2026 08:34 WIB ·

Perceraian yang Dirayakan dan Cahaya Baru Pasca Berpisah

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Perceraian yang Dirayakan dan Cahaya Baru Pasca Berpisah Perbesar

Selama ini pernikahan selalu diagungkan sebagai puncak dari sebuah pencapaian emosional, sementara perceraian ditempatkan di sudut tergelap sebagai simbol kegagalan yang memalukan. Kita dibesarkan dalam narasi bahwa bertahan adalah keutamaan tunggal, bahkan ketika yang tersisa di dalam rumah tangga hanyalah puing-puing kebahagiaan yang runtuh. Namun, kini ada pergeseran paradigma yang perlahan tapi pasti meretas norma lama. Tren divorce party atau perceraian yang dirayakan mulai marak, menyisakan pertanyaan yang mendalam yaitu, apakah ini bentuk selebrasi atas hilangnya kesucian ikatan, atau justru perayaan atas keberanian memilih kedamaian jiwa?

Bagi sebagian orang, merayakan perceraian mungkin terdengar sinis atau bahkan tidak etis. Namun jika kita menyelam lebih dalam dari sekadar pesta dan potong kue, ada makna yang jauh lebih dewasa di balik fenomena ini. Perayaan perceraian bukanlah bentuk ejekan terhadap masa lalu, melainkan sebuah ritual pelepasan. Ini adalah momen di mana dua insan mengakui bahwa mereka pernah saling mencintai, pernah berjuang, tetapi kini memilih untuk berhenti saling melukai. Perayaan ini hadir untuk menghapus stigma bahwa perpisahan harus selalu diwarnai oleh prasangka, amarah yang membatu, atau dendam yang berkepanjangan.

Ada fenomena menarik yang sering kita amati pasca-perceraian, seperti misalnya seseorang kerap kali terlihat jauh lebih menarik, bersinar, dan mempesona dibanding saat mereka masih terperangkap dalam hubungan yang beracun. Fenomena ini bukanlah kebetulan belaka. Ketika beban emosional yang menekan bertahun-tahun akhirnya terangkat, energi kehidupan baru pun kembali mengalir. Bebas dari stres kronis, raut wajah memancarkan ketenangan, mata kembali berbinar, dan cara membawakan diri menjadi penuh percaya diri. Aura kemenarikan yang muncul setelah berpisah adalah hasil dari self-love yang tumbuh Kembali, sebuah transformasi nyata ketika seseorang berhasil menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang. Oleh karena itu, merayakan perceraian juga merupakan langkah awal menyambut lahirnya pesona baru tersebut. Ada keberanian yang luar biasa ketika seseorang mampu berkata, “Kami gagal sebagai pasangan suami istri, tapi kami menolak gagal sebagai manusia yang bermartabat dan bahagia.” Ketika sebuah ikatan hanya menghasilkan sunyi yang menyiksa atau konflik yang tak berkesudahan, bertahan demi status sosial sebenarnya adalah bentuk kebohongan yang paling sunyi. Merayakan keputusan untuk berpisah artinya menghargai masa-masa indah yang pernah ada, sekaligus memberikan izin kepada diri sendiri untuk melangkah ke depan dengan versi terbaik dari diri kita.

Perceraian yang dirayakan dengan penuh kedewasaan juga membawa dampak penyembuhan yang kuat bagi anak-anak, jika ada. Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang dipaksa bersatu dalam dinginnya rumah tangga, namun sebaliknya mereka membutuhkan orang tua yang bahagia, sehat mental, dan utuh secara emosional. Ketika anak melihat orang tuanya mampu berpisah secara damai dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih positif serta bercahaya, mereka belajar bahwa kasih sayang tidak harus diukur dari ketahanan dalam penderitaan, melainkan dari keberanian untuk saling melepaskan dengan rasa hormat.

Akhir,

Perceraian yang dirayakan adalah pernyataan sikap bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam selamanya. Kadang kala, cinta tertinggi yang bisa kita berikan kepada seseorang dan kepada diri kita sendiri adalah merelakan dan mengikhlaskan mereka pergi. Ini bukan perayaan atas kehancuran sebuah janji, melainkan selebrasi atas lahirnya kembali harapan, kejujuran, pesona diri, dan kesempatan kedua untuk menemukan kebahagiaan sejati. Karena pada akhirnya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam hubungan yang memadamkan aura diri, dan perpisahan yang jujur selalu jauh lebih mulia daripada bertahan dalam kepalsuan.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 22 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Baca Lainnya

Menjaga Ritme Jiwa dalam Pernikahan Di Antara Kesungguhan dan Gelak Tawa

29 Juli 2026 - 13:13 WIB

Biaya Tersembunyi Pernikahan yang Sering Terlewatkan dan Cara Bijak Mengatasinya

28 Juli 2026 - 09:23 WIB

POTRET KEPEMIMPINAN DAN REKONSTRUKSI NILAI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

27 Juli 2026 - 17:00 WIB

KELUARGA HARMONIS (Segera Cari Solusi)

24 Juli 2026 - 06:39 WIB

TRANSFORMASI ZAKAT DARI MANUAL KE DIGITAL

21 Juli 2026 - 22:02 WIB

Tanggungjawab Amanah

Sepotong Sunyi dan Taruhan Pengabdian Penghulu KUA Di Balik Stigma “Absen, Ngopi, Pulang”

21 Juli 2026 - 08:57 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x