Menu

Mode Gelap

Karya Ilmiah · 17 Mei 2026 23:58 WIB ·

Dahsyatnya 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Kesempatan Emas Meraih Pahala Berlipat

Penulis: Khaerul Umam


 Dahsyatnya 10 Hari Pertama Dzulhijjah:  Kesempatan Emas Meraih Pahala Berlipat Perbesar

Oleh :

KHAERUL UMAM, S.Ag*)

(Penghulu Ahli Madya KUA Pakuhaji)

 

 

A. Muqadimah

     Di antara kemuliaan yang Allah SWT memberikan kepada umat Islam sekaligus menjadi nikmat yang sangat besar dan harus disyukuri adalah menjadikan waktu-waktu tertentu untuk setiap ibadah tertentu agar umat Islam meraih pahala lebih banyak di waktu tersebut. Ibaratnya, waktu itu sebagai media bagi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Di antara waktu tersebut adalah 10 hari awal Dzulhijjah. Dalam 10 hari awal Dzulhijjah, semua ketaatan dan kebaikan umat Islam menjadi ibadah yang pahalanya sangat besar. Tentu, semua pemberian Allah SWT yang sangat besar dan patut disyukuri ini tidak bisa ditemukan di waktu yang lain.

     Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Dalam berbagai riwayat, periode ini disebut sebagai hari-hari terbaik dalam setahun untuk memperbanyak amal kebaikan. Tidak heran, banyak ulama menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk beribadah sebanyak mungkin, karena setiap amalan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.

B. Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah

Berkaitan dengan keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّام. يَعْنِي أَيَّامُ الْعُشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ. (رواه البخاري)

       Artinya, “Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Rasulullah menghendaki 10 hari (awal Dzulhijjah). Lantas para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallalâhu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid)’.(HR. Al-Bukhari). (An-Nawawi, Riyâdhus Shâlihîn, juz II, halaman 77-78).

     Imam Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah SWT daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah SWT, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.

     Dalam hadits ini seolah Rasulullah ﷺ hendak memberikan motivasi yang sangat tinggi kepada para sahabat dan umatnya untuk tidak menyia-nyiakan keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah. Bahkan perbandingannya dengan jihad di jalan Allah. Motivasi itu disampaikan Rasulullah ﷺ tidak lain karena banyaknya manfaat dan agungnya kemuliaan pada hari itu. Di antara hari tersebut terdapat hari Arafah dan hari penyembelihan kurban, sekaligus menjadi hari pelaksanaan ibadah haji. Semuanya tidak diragukan kemulian dan keagungannya. Umat Islam sepakat bahwa hari-hari tersebut merupakan hari yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT.

     Hadits di atas juga memberikan pemahaman bahwa adanya keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah secara khusus meniscayakan hari-hari tersebut lebih mulia dari hari lainnya. Semua ibadah dan amal kebaikan yang dilakukan saat itu lebih mulia dan lebih besar pahalnya daripada di hari-hari lainnya. Karenanya, tidak heran jika Rasulullah ﷺ sangat memotivasi para sahabat dan umatnya untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan pada hari-hari tersebut.

      Salah satu ibadah yang paling dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah mulai tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Puasa pada hari-hari ini termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Selain sebagai bentuk ketaatan, puasa ini juga melatih diri untuk tetap taat dan bersabar dalam menjalani aktivitas harian. Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijjah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

      Kesunnahan berpuasa 10 hari pertama Dzulhijjah berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah. Dalam hadits itu, disebutkan bahwa berpuasa satu hari pada sepuluh pertama bulan Dzulhijjah setara dengan berpuasa setahun, dan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar. Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ أَنْ يَتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

      Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar”, (HR. At-Tirmidzi).

     Dalam kitab al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi dengan sangat tegas menyatakan puasa tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah sangat disunnahkan. Imam an-Nawawi berkata, “Bahkan sangat disunahkan untuk berpuasa di hari-hari ini, karena puasa termasuk amalan yang paling utama.” (An-Nawawi, Syarah Sahih Muslim). Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi juga kemudian memberikan dalil shahih mengenai syariat puasa tersebut. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh istri-istri Rasulullah ﷺ dari Hunaidah Ibn Khalid:

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

      Artinya:  “Dari istri-istri Nabi, mereka berkata, Rasulullah biasa berpuasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah, berpuasa di hari Asyura, berpuasa tiga hari di setiap bulannya, puasa Senin pertama dan juga hari Kamis di setiap bulannya. (HR Abu Dawud, Ahmad, dan Nasa’i. Ahmad dan Nasa’i menambahkan, ‘dan dua Kamis’).

      Dari semua hari tersebut, ada satu hari yang memiliki kedudukan paling istimewa, yakni Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Keutamaan besar inilah yang membuat umat Muslim di seluruh dunia berlomba-lomba menjalankan amalan tersebut Rasulullah ﷺ bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

      Artinya: “Puasa pada hari Arafah bisa menghapus (dosa) setahun yaitu setahun sebelumnya dan sesudahnya,”                         (HR. Muslim).

       Dari kesembilan hari tersebut ada puasa yang disebut puasa tarwiyah yaitu puasa pada 8 Dzuhijjah. Dalil yang menjadi pegangan anjuran puasa tarwiyah, 8 Dzulhijjah:

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين (أبو الشيخ ، وابن النجار عن ابن عباس)

     Artinya: “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa dua tahun.” Diriwayatkan oleh Abu Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas.

      Secara status sanad, para ulama ahli hadits seperti Ibnul Jauzi, As-Syaukany dan Al-Albani menilai hadits ini berderajat dha’if (lemah). Namun, para ulama sepakat bahwa puasa ini tetap dianjurkan untuk dikerjakan dalam rangka fadhailul a’mal (mengejar keutamaan amal). Anjuran ini juga diperkuat oleh hadits umum tentang keutamaan beramal saleh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, serta riwayat dari istri-istri Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ terbiasa memperbanyak puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah

       Berikut ini niat puasa sunnah di bulan Dzulhijjah:

  1. Tanggal 1-7 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

                                        “Saya berniat puasa sunah bulan Dzulhijjah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

                                              “Saya berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah ta’ala.”

  1. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

                                                     “Saya berniat puasa sunah Arafah karena Allah ta’ala.”

      Amalan lain yang sangat dianjurkan selama 10 hari pertama ini adalah memperbanyak dzikir. Ucapan takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih sangat dianjurkan untuk dilafalkan baik secara individu maupun berjamaah. Takbir khususnya diperbanyak dari tanggal 1 hingga 13 Dzulhijjah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Tradisi mengumandangkan takbir juga menjadi penyemangat bagi umat Muslim untuk menambah keimanan dan ketakwaan. Tak kalah penting, bagi yang memiliki kemampuan dianjurkan untuk menunaikan ibadah qurban pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Menyembelih hewan qurban merupakan bentuk syukur dan pendekatan diri kepada Allah. Ibadah ini juga menjadi sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, qurban menjadi salah satu amalan paling dicintai Allah SWT pada hari raya Idul Adha.

      Selain itu, umat Muslim juga dianjurkan untuk meningkatkan amal shaleh lainnya seperti memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak perbuatan baik dalam keseharian. Semua amal kebaikan pada 10 hari ini memiliki nilai pahala yang besar. Tidak kalah pentingnya adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar, agar hati dibersihkan dari dosa dan kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Bagi umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah, 10 hari pertama Dzulhijjah tentu menjadi momen yang sangat bermakna. Seluruh rangkaian ibadah tersebut merupakan bentuk penyempurnaan dalam menggapai ridha Allah SWT.

C. Penutup

      Umat Islam yang menjumpai 10 hari awal Dzulhijjah mempunyai momentum untuk melakukan ibadah dan kebaikan dengan pahala yang lebih besar dibandingkan hari-hari lainnya. Sepatutnya hari-hari mulia itu dijadikan kesempatan untuk lebih giat dan semangat dalam menjalankan semua kewajiban, menambah ibadah sunnah, dan melakukan berbagai kebaikan melebihi kesehariannya. Karenanya sangat beruntung bagi umat Islam yang bisa menjumpai 10 hari awal bulan Dzulhijjah dan dapat melakukan ibadah disertai berbagai kebaikan lainnya. Semua itu merupakan nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Tidak sepantasnya umat Islam menyia-nyiakan hari yang sangat berlimpah nilai pahalanya di sisi Allah SWT.

     Dengan penuh keutamaan di dalamnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala berlipat. Semoga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.***(Disarikan dari berbagai sumber).

 

———

**)Penulis adalah Penghulu Ahli Madya pada KUA Pakuhaji Kab.Tangerang, da’i/Penceramah, penulis, dan pemerhati sosial keagamaan.

 

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 17 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

IBTHOLUL QIYAS (PEMBATALAN QIYAS) Dalam kitab al-Ihkam fi Usulul Ahkam, Ibnu Hazm az-Zhohiri

16 Mei 2026 - 23:55 WIB

PENTINGNYA MEMBANGUN RUANG EKSPRESI ANAK DALAM KELUARGA

1 Mei 2026 - 17:55 WIB

Teknik Memimpin Akad Nikah yang Singkat dan Sesuai Syariat

24 April 2026 - 11:11 WIB

IDDAH WANITA SELINGKUH

22 April 2026 - 21:52 WIB

NIKAH DISABILITAS 

20 April 2026 - 21:32 WIB

WAYAHE DUDO RONDO TAMPIL

17 April 2026 - 08:28 WIB

Trending di Karya Ilmiah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x