Catatan: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang. Sekretaris II PW APRI Aceh 2025-2029
Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-7 Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) pada 17 Juli 2026 menghadirkan makna yang lebih luas dibanding sekadar seremoni organisasi. Di Aceh, yang periode PW APRI 2025-2029 ini dikomandoi oleh Tgk Fadli S.Ag., M.H. dan Dr T Erdika Usiandra, S S., M.Kom.I dalam peringatan tahun ini menjelma menjadi gerakan kolektif yang menyatukan penghulu dalam aksi nyata menjaga lingkungan, memperkuat kepedulian sosial, dan mendekatkan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
Data yang dipublikasikan APRI menunjukkan bahwa penghulu di seluruh Aceh berhasil menanam 933 pohon secara serentak. Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik. Di balik setiap bibit yang ditanam, tersimpan harapan tentang bumi yang lebih lestari, lingkungan yang lebih hijau, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Gerakan ini menjadi bukti bahwa konsep ekoteologi bukan hanya wacana akademik, melainkan telah diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Agama mengajarkan manusia sebagai khalifah fil ardh yang bertugas memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Menanam pohon adalah salah satu bentuk ibadah sosial yang manfaatnya terus mengalir selama pohon tersebut hidup dan memberi manfaat bagi makhluk lain.
Menariknya, banyak PC APRI di Aceh memilih tanaman produktif seperti kopi, alpukat, pisang, hingga tanaman buah lainnya. Di Aceh Tengah, misalnya, ditanam 90 batang kopi Arabika Ateng Super dan 40 pokok pisang Bawen di lahan wakaf belakang KUA Pegasing. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pohon bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga memberikan penghasilan.
Inilah wajah baru penghulu. Selama ini masyarakat lebih mengenal penghulu sebagai pejabat pencatat nikah atau sosok yang memimpin akad. Padahal, tugas penghulu jauh lebih luas. Penghulu hadir membimbing keluarga, memperkuat ketahanan rumah tangga, memberikan edukasi keagamaan, hingga menjadi penggerak perubahan sosial.
Karena itu, tema kegiatan Harlah APRI tahun ini terasa sangat relevan. Selain penanaman pohon, berbagai daerah juga melaksanakan bakti sosial, santunan anak yatim, serta Safari Khatib Jumat. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penghulu bukan hanya bekerja di balik meja administrasi, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat.
Semangat yang diusung APRI, “Penghulu Bersatu, Masalah Berlalu” dan “Penghulu Giat, KUA Berdampak”, sesungguhnya merupakan visi besar pelayanan publik berbasis nilai-nilai keagamaan. Bersatu berarti memperkuat solidaritas profesi, sedangkan berdampak berarti memastikan setiap program benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, penghulu dituntut tidak hanya menjadi komunikator hukum perkawinan, tetapi juga agen perubahan (agent of change). Penghulu memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat pada momen-momen penting kehidupan, mulai dari pernikahan, pembinaan keluarga, hingga kegiatan keagamaan.
Gerakan serentak APRI Aceh dalam Harlah ke-7 patut diapresiasi sebagai model kolaborasi organisasi profesi yang mampu menyinergikan nilai agama, kepedulian lingkungan, dan pengabdian sosial. Ketika tangan-tangan penghulu menanam ratusan pohon di berbagai kabupaten/kota, sesungguhnya yang sedang ditanam bukan hanya bibit tanaman, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa merawat bumi adalah bagian dari merawat kehidupan.
Semoga semangat Harlah ke-7 APRI tidak berhenti pada satu momentum tahunan. Ia harus menjadi budaya organisasi, menjadi karakter setiap penghulu, dan menjadi inspirasi bahwa pelayanan keagamaan yang baik bukan hanya menyelesaikan urusan administrasi, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi manusia, lingkungan, dan masa depan.
Penghulu bukan hanya mencatat peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga ikut menorehkan jejak kebaikan bagi bumi yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.








